Perayaan Kehidupan Umat Beragama yang Saling Berdampingan

Vihara Maggaadhama, Kec Argomulyo, Salatiga (Sumber Foto: Izlal/DinamikA).

Oleh: Aprinianda

Terselip tempat ibadah yang menakjubkan di tengah-tengah kota yang menyandang label Kota Toleransi. Saat kaki melangkah masuk, kalian akan disambut oleh harumnya bau dupa yang dibakar. Sebuah lonceng serta bedug menghias indah di kanan dan kiri luar altar. Sesampainya di dalam altar, suara berisik jalan yang dipenuhi kendaraan hilang seketika.

Klenteng Hok Tek Bio (Sumber Foto: Izlal)

Klenteng Hok Tek Bio, sebuah Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) yang sudah ada sejak tahun 1872. Namun, klenteng ini baru bernaung di bawah yayasan TITD Amurvabumi Hok Tek Bio pada tahun 1984. Nama Hok Tek Bio diambil dari nama Dewa utama yang ada di klenteng ini. Ada tiga kepercayaan yang beribadah dalam klenteng tersebut, yang pertama ada Buddha, Konghucu, dan Taonomisme.

Mari coba menengok sebentar ke era kepemimpinan Presiden ke- empat, yakni Soeharto. Terdapat konflik penganut kepercayaan yang tidak diakui oleh Negara. Kepercayaan yang tidak diakui itu termasuk Konghucu dan Taonisme. Alasan itu juga yang mendasari adanya TITD Hok Tek Bio.

Toleransi Antar Tiga Kepercayaan

Hendra (pendeta muda) sedang beribadah di Klenteng Hok Tek Bio (Sumber Foto: Aprinianda)

Saat masuk ke dalam aula, kami duduk di tepi kiri aula. Sejenak, kami terhening karena ada suara dering dari handphone Hendra (56), pendeta muda di Klenteng Hok Tek Bio. Hanya sebentar ia menerima telpon itu, lalu melanjutkan obrolan kami yang saat itu membahas kesetaraan antara tiga agama: Buddha, Konghucu, Taonomisme. “Di sini ada tiga ajaran. Kita tidak masalah untuk belajar ketiganya jadi di sini bukan yang belajar Tao sendiri Budha sendiri Konghuchu sendiri, di sini kita belajar tiga-tiganya,” ujarnya ketika ditemui di aula Klenteng Hol Tek Bio, Sabtu (25/06/2024).

Perjalanan Tridharma (red: penganut Tridharma), khususnya Konghucu, melewati perjalanan yang begitu pelik untuk dapat diterima di tengah-tengah pemerintahan Orde Baru. Hendra, menjelaskan dahulu pada masa Orde Baru Klenteng Hok Tek Bio tidak dianggap oleh pemerintah. Setiap klenteng mengadakaan acara atau kegiatan, selalu saja dipersulit oleh Sosial Politik (Sospol) atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). “Bahkan, saat mengadakan perayaan Cap Go Meh saja, kami dipanggil Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda),” kata Hendra di depan kami.

Sesuai dengan tata cara yayasan TITD Amurvabumi, Hok Tek Bio melaksanakan peribadahan dengan aturan yang dibuat oleh yayasan. Bentuk toleransi yang ingin disampaikan oleh ajaran Tridharma, bahwa kita semua memiliki tujuan yang sama. Hanya saja, masing-masing manusia melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. “Sehingga, kalau kita ikut TITD, ya, kita ikut tata caranya, satu tata cara yang merupakan penggabungan dari ketiganya. Upacaranya juga hanya satu arahnya, hanya satu itu sudah gabungan dari ketiganya,” ungkap Hendra.

Smapai pada penghujung obrolan singkat itu, beliau sesekali menjentikkan jemarinya mengatakan, “Kalau intern umatnya, ya, menjadi lebih baik dan tetap rukun. Kalau untuk umat luar (baca: selain Tridharma), ya, kita tetap menjaga toleransi ke yang lain,” tegas Hedra dengan mata yang sedikit berbinar.

Budhis di Tengah- Tengah Muslim

Kami melanjutkan perjalannan dengan sedikit drama kecil, karena ternyata tempat yang menjadi sasaran kami selanjutnya sedang ditutup. Saat kebingungan harus melanjutkan ke mana, seketika ada pesan WhatsApp masuk dari Romo Pandhita Muda Wiryaputu Haryono. Romo Haryono merupakan seorang biksu, yang memang telah kami hubungi sebelumnya. Setelah membaca pesan itu, kami langsung pergi ke rumahnya.

Sesampainya di sana, mata kami terpana dengan keadaan rumah Romo Haryono yang begitu asri. Halaman depan rumah yang ditumbuhi pepohonan, pohon bodhi salah satunya. Berjalan masuk ke pintu utama, di sebelah kanan terdapat kolam ikan serta jembatan di atasnya. Saat masuk ke dalam rumah, suasana asri dan tenteram bercampur menjadi satu.

Romo Haryono banyak bercerita di tengah kekaguman kami yang tak ada henti-hentinya. Ia bercerita tentang pembangunan masjid yang bersebelahan dengan vihara. Saat itu, toa masjid yang menghadap ke selatan, persis menghadap ke arah vihara. Beliau yang saat itu terganggu, langsung berbicara dengan sesepuh atau orang yang dituakan di sana. Dengan demikian, menurutnya, tidak ada perdebatan antara beliau dengan umat muslim. Sebab, sejak hari itu, toa langsung dipindah arah supaya tidak menghadap vihara. “Ya, pada akhirnya toa itu dipindah,” katanya sambil selalu memberikan senyum ramahnya.

Satriyo sedang Beribadah Vihara (Sumber Foto: Izlal)

Saat sampai di Vihara Maghadama, kami bertemu dengan Satriyo (23), seorang anak asuh vihara. Satriyo mengatakan perihal yang serupa dengan yang disampaikan Romo Haryono, perihal masa lalu yang terasingkan. “Mungkin bukan terasingkan, tapi seperti dikucilkan. Itu terjadi dulu, waktu kecil,” ujarnya dengan senyum tipis seperti mengingat kejadian itu.

Sambil menatap kami, Satriyo bercerita tentang masa kecilnya yang terkucilkan. Meskipun demikian, namun setelah tumbuh dewasa, ia tidak pernah merasa dikucilkan sama sekali. Bahkan, warga di sekitar vihara tempat dia beribadah–yang mayoritas muslim–mempersilahkan mereka (red: umat Buddha) untuk menitipkan kendaraannya di lahan kosong, milik non budhis sebelah vihara. “Kalau ada acara-acara besar, mengundang umat-umat daerah atas seperti Kopeng dan Salatiga, kan, biasanya ada yang pakai mobil atau pakai motor. Nah, tetangga punya halaman luas mempersilahkan untuk parkir di halaman mereka,” pungkasnya sambil melemparkan senyum sumringah memperlihatkan dia bangga.

***

Tulisan ini merupakan hasil Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) “Bersinergi Mengoptimalkan Daya Kritis Progresif Mahasiswa di Era Industri 5.0” yang diselenggarakan oleh LPM DinamikA pada 23-26 Mei 2024.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *