Female Modesty: Sisi yang Terlupakan Para Feminis (Part I)

Ilustrasi feminisme
Ilustrasi feminisme
Ilustrasi feminisme

Bagi generasi yang dibesarkan untuk mempercayai sepenuhnya bahwa pria dan wanita itu setara, maka pengorbanan dan kesediaan kaum wanita untuk mengalah dalam perkawinan tampaknya tak adil. Dalam perkawinan yang suami dan istrinya sama-sama bekerja, mengapa wanita dituntut lebih banyak menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga? -Danielle Crittenden

 

Lagi-lagi wanita! Wanita kerap kali mendapat perhatian khusus mengenai sepak terjangnya. Tentangnya yang feminis, yang aktifis, maupun yang menutup diri dari peradaban. Berbicara tentang peradaban, tentu banyak sekali kasus tentang kebanyakan wanita yang disoroti dengan kacamata feminisme.

Seperti yang telah tertulis dalam sejarah, wanita diperlakukan sebagai manusia kelas dua. Faktanya saja bisa dilihat dari perspektif tentang wanita dalam konteks budaya jawa yang disebut kanca wingking (teman di dapur) oleh suaminya yang nasibnya sepenuhnya tergantung pada suami. Juga tentang ketidakberhakan wanita untuk mengenyam pendidikan, pendapat, maupun menentukan keputusan yang berkaitan dengan dirinya sendiri.

Bahkan, hal tersebut agak membingungkan mengingat tujuan apa yang tersurat dalam penulisan sejarah kelam tentang wanita. Apakah tujuannya benar-benar untuk menyampaikan fakta yang ada atau untuk mengingatkankan pada dunia bahwa sejatinya kodrat wanita yang telah  ditulis oleh sejarah? Who body knows.

Terlepas dari itu semua, feminisme (gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria) mulai didengungkan. Itu memiliki arti yang sangat penting bagi kaum wanita untuk memperjuangkan kemerdekaan atas dirinya sendiri. Kata kesetaraan mulai digandrungi dan siap sangat untuk direalisasikan. Para feminis (tokoh feminisme) pun mulai bermunculan. Ada Betty Friedan dengan bukunya “The Feminine Mistique”; Gloria Steinem dengan Ms Magazine nya; dan Hillary Rose, Evelyn Fox Keller, Sandra Harding, dan Donna Haraway yang mempunyai gagasan tentang feminist science.

Jika Amerika punya  mereka semua, Indonesia punya R.A Kartini, Cut Nyak Meutia, Tribhuwana Tungga Dewi Jaya Wishnuwardhani (Ibu Hayam Wuruk), dsb. Kiprah mereka dalam membawa wanita dari ‘kegelapan’ menuju haknya yang ‘terang’ memberikan dampak luar biasa bagi kehidupan wanita-wanita Indonesia.

Seperti yang kita lihat, sekarang banyak wanita yang mengenyam pendidikan tingkat tinggi. Bukan hanya itu, berbagai macam profesi kini juga diperankan tak kalah baik oleh wanita. Banyak bidang yang juga dijelajahi oleh wanita. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa wanita telah mendapatkan kemerdekaannya sendiri.

Generasi demi generasi telah berganti. Para wanita yang telah memperjuangkan kemerdekaan kaumnya meninggalkan sebuah warisan besar yang dapat dinikmati secara instan-kemerdekaan. Ke-instan-an itu kemudian yang membuat titik demi titik zona kenyamanan generasi berikutnya.

Zona nyaman yang tumbuh mulai merambah hingga ke berbagai bidang, sama seperti apa yang dilakukan para feminis pendahulunya. Namun, untuk perkembangannya, wanita kekinian lebih menyukai bidang-bidang di luar batas norma. Hal tersebut bisa terlihat dari bagaimana wanita mengabaikan norma-norma yang ada. Sebagai contoh, dulu wanita yang pulang malam itu dianggap saru (tidak baik). Kemudian virus-virus feminis mempunyai pendapat bahwa perlu kesetaraan antara wanita dan laki-laki (dalam hal pulang malam). Fenomena terakhir inilah yang kemudian berubah menjadi sebuah spekulasi bahwa wanita yang pulang malam itu biasa.

Zona nyaman yang telah diciptakan oleh kaum feminisme membuat wanita kekinian mengekspansi arti kemerdekaan. Kemerdekaan yang dimaknai tidak lagi tentang bagaimana wanita mendapatkan hak-hak dasar, tapi lebih pada hak- hak tambahan.

lanjutkan membaca Female Modesty: Sisi yang Terlupakan Para Feminis (Part II)

(D1418/Red_)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *