Sumber Foto: Pinterest
Oleh: Niken Afifah Cahyani
Sore itu aku menatap mentari di belakang rumah,
Masih terasa hangat meski tidak lagi cerah,
Sunyi, begitu sebentar lagi semesta menyapa,
Tidak ada penerang, tidak ada cahaya,
Hanya sebuah harap yang masih terus menyala.
Sore itu rerintik mulai berjatuhan,
Langit mulai terlihat tidak bersahabat,
Aku gelisah, Aku tidak bertemu tenang,
Sebelum wajah rupawan itu terlihat di beranda,
Ahhhh ya Tuhan bapakku sudah dimana?
“Bapak akan tiba sebentar lagi mbak,” begitu penenang yang ibu sampaikan,
Aku ingin percaya, hanya saja mendung terus berbisik jahat,
Aku ingin menangis, hanya saja bapak tidak pernah mengizinkan tangis dengan cuma-cuma,
“Bapakmu aman kami jaga, Nona” begitu pesan angin yang mampir di telinga,
Sedikit, sedikit kudapat tenang di dada.
Sosoknya tampak, Bersama motor tua yang tersenyum lebar,
Bahunya tampak ringkih, tapi peluknya tidak pernah memudar.
Bapak hangat dan menyenangkan,
Hadirnya tidak pernah gagal untuk menenangkan,
Seribu purnama kuharap tidak cukup dalam kebersamaan kita.





