Tiga Orang Titipan Kakak Asuh PBAK, Tidak Lolos Seleksi Berkas Tapi Lolos Kakak Asuh

Tiga nama mencurigakan dalam “Pengumuman Lolos Kakak Asuh” (Sumber Gambar: Tangkapan Layar Pengumuman Dema UIN Salatiga).

Oleh: Faiz Alfa, Ahmad Ramzy, dan Muchamad Fatah Akrom

Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga merilis “Pengumuman Lolos Kakak Asuh Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK)” pada Kamis (27/6/2024). Namun, terdapat tiga nama yang mencurigakan.

Tiga nama itu adalah Ilma Yuni Faticha, Ilham Jaya Kusuma, dan Sani Khoirun Nisa. Mereka tidak tertulis dalam daftar nama yang tercantum dalam “Pengumuman Seleksi Berkas Kakak Asuh Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK)” yang dirilis pada Kamis (20/6/2024). 

Diketahui, dua dari tiga nama itu merupakan anggota Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Hukum Keluarga Islam (HKI), yaitu Ilma dan Ilham. Kendati demikian, ketiganya merupakan anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Syariah Zubair Umar Al-Jailani. 

Berdasarkan pengumuman hasil seleksi berkas itu, tiga nama yang telah disebutkan itu tidak lolos seleksi berkas—atau bahkan tidak mengikuti mekanisme pendaftaran kakak asuh sama sekali. Namun, mereka lolos sebagai kakak asuh (Kasuh) dalam PBAK yang bakal digelar Agustus nanti. 

Entah bagaimana caranya mereka dapat menjadi kakak asuh PBAK dan menendang enam calon kakak asuh lain yang lolos seleksi berkas. Enam orang itu adalah: Desy Pusita Sari, Faizah Luluin Nisa, Fitra Alfiati, Raisya Erta Rismaeni, dan Stifani Thea Maharani. Mereka lebih berhak menjadi kakak asuh.

Penulis curiga, ada mekanisme terselubung yang dijalankan oleh—meminjam istilah dari Adam Smith—tangan-tangan tidak terlihat dalam lolosnya Ilma, Ilham, dan Sani sebagai kakak asuh PBAK. Tangan-tangan tidak terlihat itu sudah lama berdiam diri di UIN Salatiga—bahkan sejak statusnya masih Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).

Tangan-tangan tidak terlihat itu dengan leluasa menggerakkan bidak-bidak dan boneka-bonekanya yang disusupkan dalam organisasi mahasiswa (Ormawa). Sudah jamak diketahui, tangan itu adalah mereka yang tergabung dalam organisasi mahasiswa ekstra (Ormek) yang kerap memakai kata ‘sahabat’ untuk memanggil sesama anggotanya.

Persahabatan Bagai Kepompong?

Mendengar lirik lagu “Kepompong”, yang dalam liriknya berbunyi “persahabatan bagai kepompong”, begitu sesuai dengan keadaan yang tengah terjadi dari proses penetapan Kasuh untuk kegiatan PBAK 2024. 

Bukan tidak mungkin dapat dikatakan seperti itu, tiga nama yang sebelumnya tidak terdapat di seleksi berkas, seketika muncul dalam pengumuman lolos Kasuh tersebut. Apakah tiga nama yang tertera secara tiba-tiba tersebut ada sangkut pautnya dengan bagi-bagi keuntungan–yang banyak orang tidak mengetahuinya dengan pasti?

Jika memang karena adanya kesalahan input, seharusnya pihak-pihak yang berwenang menetapkan Kasuh sudah melakukan check and recheck—baik sebelum maupun setelah diumumkan ke khalayak. Apalagi, pengumuman lolos menjadi Kasuh ini telah lewat tiga hari lamanya saat tulisan ini dibuat, Minggu (30/6/2024). 

Seperti yang dapat kita ketahui, PBAK merupakan ladang tempatnya para mahasiswa baru mengenali lingkungan kampusnya. Namun, bilamana yang terlihat adalah kecurangan, apakah tidak sedikit pun kita merasa malu terhadap mereka (baca: Mahasiswa Baru) yang masuk ke perguruan tinggi ini? 

Tidaklah asing bila PBAK kita sebut sebagai ladang yang subur—ladang di mana banyak mahasiswa berlomba-lomba untuk dapat mengenali kampusnya serta tetek bengek di dalamnya, salah satunya organisasi kampus—baik intra kampus maupun ekstra kampus. 

Bagi tiap-tiap organisasi, mendapatkan banyak anggota atau kader baru adalah kewajiban yang harus dipenuhi. Karena ego sektoral yang melatarbelakangi itu semua, akhirnya sikut-menyikut antara satu dengan yang lainnya dapat mudah terjadi begitu saja. Wabil khusus, organisasi eksternal kampus yang tidak melihat skil per individu dari mahasiswanya seperti sejatinya yang ditekankan oleh organisasi internal kampus; wabil khususil khusus, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Melihat fenomena ini, sebagai intelektual kampus, kiranya perlu menyadari pesan penting yang pernah disampaikan Moh. Hatta, bahwa “tanggung jawab seorang akademikus adalah intelektual dan moral! Ini terbawa oleh tabiat ilmu itu sendiri, yang wujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran”. Moh. Hatta juga menyampaikan, “pangkal segala pendidikan karakter ialah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar”.

Ironisnya, mahasiswa-mahasiswa yang berada di kampus, yang banyak diterpa oleh ilmu pendidikan dan pengembangan moralitas, luput dengan fenomena adanya “titipan” yang, mungkin saja, dilakukan oleh mereka (baca: penyelenggara PBAK) tanpa melihat efek yang terjadi daripadanya. Tentu saja, demi persahabatan, berbagai cara dilakukan.

Selamat Datang Mahasiswa Baru, Kebusukan Ini Baru Dimulai!

“Seseorang yang menyangka dirinya terdidik tetapi nyatanya tidak”.

Membangun sebuah kekuasaan yang berkelanjutan dengan orang-orang terdekat rasanya sudah menjadi budaya di kehidupan kita. Seyogyanya, praktik-praktik kecil semacam ini jangan dibiarkan membusuk. Kampus sebagai pusat intelektual-intelektual demokratis malahan menjadi perpanjangan tangan feodalisme. 

Jika Anda sebagai pembaca adalah mahasiswa baru, saya ucapkan selamat datang! Selamat membaca realitas bahwa, selain biaya pendidikan tinggi yang semakin mahal, mahasiswanya sibuk mempertahankan kekuasaannya. Analisis penulis sebagai mahasiswa semester 8, drama Kasuh dalam PBAK masih menjadi babak awal. Dalam kasus di beberapa kampus, Ormek secara sengaja memang disusupkan dalam misi kaderisasi secara sistematis. Kasuh sebagai mata awal bagaimana melihat kader yang potensial secara kualitas atau kuantitas.

Jauh sebelum Ospek atau PBAK, Ormek-ormek saling beradu strategi untuk mendapatkan kader sesuai dengan tujuannya masing-masing. Jika mahasiswa baru diumpamakan domba-domba tersesat, maka mereka adalah mesias palsu. Mereka berusaha menjaga agar—pada tiap tahunnya—dominasi mereka tetap terjaga, apapun caranya. Benar, memang tidak salah menggiring domba-domba tersesat ke jalan kebenaran. Sesungguhnya, mesias mengabdikan pada umat bukan pada kekuasaan semu.

Jika ditarik dalam realitas kampus kita, persaingan pencarian domba-domba tersesat jauh lebih membosankan. Kekuatan dominan yang hampir rata di tiap fakultas membuat persaingan politik oposisi menjadi lesu. Kekuatan dominan yang bercokol bertahun-tahun tanpa warna yang baru adalah langkah mundur demokrasi kampus kita. Kekuatan yang besar menimbulkan kekuasaan absolute, kekuasaan absolute sangat mungkin melahirkan otoritarianisme. Padahal, yang dituliskan ini menjadi sangat penting. Dengan segala apapun alasanya mereka, tindakan ini adalah bentuk kebiasaan dari kekuatan dominan, atau dalam bahasa sehari-hari saya “Sak penak’e dewe”.

36 Komentar

  1. Anisa Wulandari Balas

    Mau ngasih 1000 applause kepada penulisnya
    So amazing

    • udin jaelani Balas

      aduh busuk nian wong ini oyy eh, aku nak jadi kakak asuh jugo WOOYY

    • udin jaelani Balas

      aduh busuk nian wong ini oyy eh, aku nak jadi kakak asuh jugo WOOYY, dak senang? temui aku payo, aku baru smester 2

  2. Mr. Zamhuri_HTN Balas

    Bagus, baru pertama kali bagi saya mengetahui berita yang seunik ini. Terus dikembangkan lagi untuk menjadikan budaya yang transparansi dan berdemokrasi dalam lingkungan kampus. Lanjutkan dengan integritas tinggi jangan pernah ada takut untuk mengungkapkan kebenaran. Karena hakikatnya kebenaran berasal dari data-data dan fakta. Top_LPM_DINAMIKA

    • Redaksi DinamikA PenulisBalas

      bentuk tulisan ini bukan berita, tapi opini. terima kasih atas apresiasi dan pesannya, kak zamhuri

  3. Jenset Menyala Balas

    Rapopo jenenge we latihan sok nek wes terjun nek pemerintahan lakyo soyo sangar² wkwkwk

  4. Annonymous Balas

    jadi saya juga sudah tidak kaget kalau taun lalu saya tidak keterima menjadi kakak asuh yg padahal kandidat calon2 lawan saya yg se prodi adalah teman2 saya yg saya hafal betul jika dibandingkan dengan saya mereka tdk terlalu aktif di keorganisasian , mereka adalah mahasiswa kupu2 yg rasanya sangat janggal hasil penggguman itu saya terima. Di tambah pada hari H pengumuman tercantum nama saya, namun pada H+1 pengumuman tiba2 nama saya hilang dan di gantikan oleh nama teman saya, wkkwkwkkwwkk.

  5. Paijo Balas

    Katanya si ini hal wajar kalau terjadi seperti ini (ungkap anggota ormawa yang ada didalam kasus itu sendiri)

  6. . Balas

    mau heran tapi entahlah. Dan dari sini semakin yakin sama istilah “invisible hand”

  7. anonymous Balas

    tak heran banyak manipulasi manipulasi di kalangan politik besar, jika hal buruk dilingkup kecil saja dinormalisasi , apakah habis ini ada yang klarifikasi?

  8. UKRAINA Balas

    MESTI BAWAAN PMII, KAYA SATU ANGKATAN SAYA,DIA NGGA AKTIF KAYA SAYA DI ORGANISASI TAPI LOLOS KASUH WKWK. APALAH GUNA PENGALAMAN BERORGANISASI INI KALAU KALAH SAMA PIHAK EKSTERNAL WKWK.

  9. Secret0 Balas

    Dari FEBI gak kalah sangar, hari terakhir pengumpulan berkas inget banget panitia bilang “pendaftaran udah ditutup dan jumlah yang daftar 93”. Eh pas pengumuman lolos seleksi berkas ada 100 orang wkwkwkwk

  10. Second Balas

    Wah applause untuk penulis, mengungkap fakta yang selama ini tabu (meski harusnya ga tabu)

  11. Adp Balas

    Salah satu ciri khas mahasiswa, berani menyuarakan kebusukan, sebuah opini penulis yang penuh dengan fakta. mantap, memang fakta itu terjadi semua kampus, satu kata, muak!!

    nb : saya dari kampus lain, dan itu semua benar

  12. Ciiiii Balas

    Kak? Keren bgt opini kaliann, terimakasih sudah bersusah payah membuat tulisan ini..
    Terimakasih sekalii kak Faiz Alfa, Ahmad Ramzy, dan Muchamad Fatah Akrom

  13. Ciiiii Balas

    Kak? Keren bgt opini kaliann, terimakasih sudah bersusah payah membuat tulisan ini..
    Terimakasih sekalii kak Faiz Alfa, Ahmad Ramzy, dan Muchamad Fatah Akrom.

    Semangat dan sehat selaluu..

  14. Fuck feminisme, i love humanisme Balas

    D****mn bruh, keren.
    “Hidup bukan tentang siapa yang nyata di depan Anda, ini tentang siapa yang nyata di belakang Anda”
    *Note buat penulis: semangat terus jangan takut untuk bertindak. Butuh keberanian untuk mempersaksikan kebenaran

  15. Mahasiswa Balas

    setelah membaca press realease dari PMII, kenapa PMII tidak menyebutkan klarifikasi tentang ketiga mahasiswa yg bisa lolos menjadi kakak asuh? kenapa malah menyinggung tentang opini dari lpm?
    Harusnya sebelum menuntut seperti itu PMII harus menjelaskan terlebih dahulu mengapa mahasiswa itu bisa masuk dan kenapa ketiga pihak yang dirugikan hanya diam saja tidak speak up tetapi malah pihak dari PMII yang speak up. Dan apakah dari pihak PMII merasa dirugikan? apakah dalam sejarah menyebutkan bahwa yang pantas menjadi kakak asuh hanya yang berlatar belakang biru kuning saja?

  16. Sali Balas

    Kalau sudah begini berharap apa?
    Direkontruksi, diperbaiki, atau baiknya kita tumbalkan dan pojokan saja LPM
    Ujar udin dalam rapat darurat donatur, senior, alumni, dan kolega penguasa

  17. yd Balas

    gila!! keren banget akhirnya ada yang speak up tentang hal ini
    appreciation for pihak dari LPM DinamikA

  18. FckOrmw Balas

    Wkwkwk praktik kaya gini udah menjalar ke semua lini brooo
    Mana ada rektuitmen HMPS ga ngumpulin berkas dan ga ikut screening bisa lolos? Sementara yang lain mati”an ngikutin semua prosesnya wkwkwkwk lucu emang mahasiswa” bobrok kaya gitu mau pegang birokrasi negara

  19. Hans Balas

    Kami menantu debat terbuka. Generasi Narasi mulai ditabuh *sisi waras* kampus. 2022 masih inget ditolak kasuh perkara ditanya ikut organisasi apa. 2024 ujian kompre lulus, padahal yang nguji dosen dan lebih complicated. Sekelas mahasiswa ga lulusin aku yang kompeten ini? Ckckckckck

  20. Hans Balas

    Kami menanti debat terbuka. Generasi Narasi mulai ditabuh *sisi waras* kampus. 2022 masih inget ditolak kasuh perkara ditanya ikut organisasi apa. 2024 ujian kompre lulus, padahal yang nguji dosen dan lebih complicated. Sekelas mahasiswa ga lulusin aku yang kompeten ini? Ckckckckck

  21. Coki Balas

    Lucu banget setelah ada artikel ini malah dari LPM dinamika disuruh klarifikasi, bukanya dari ‘onoh’ ngasih bukti juga kalau emang beritanya egk bener malah nyuruh yang bikin artikel klarifikasi. Anti kritik bener sihh, kirian pemerintah doang yang begitu lmao

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *