Sumber foto: Pinterest
Oleh: Azzainina Nur Ahsanti
Hanya selang beberapa hari sebelum tahun berganti ke 2026, untuk kali pertama saya mendengarkan lagu Die On This Hill–meskipun Sienna Spiro telah merilisnya sejak bulan Oktober pada tanggal 10.
Ada rasa hampa yang mencekik dada saat mendengarkan bait demi bait lirik lagu tersebut. Gelisah, sedih, dan kecewa rasanya beradu menjadi satu dalam batin saya, padahal awalnya saya masih kurang mengerti makna lagu berbahasa Inggris tersebut. Sienna mampu membangkitkan perasaan tak menentu melalui suara deep alto-nya yang bertekstur kasar, serak, dan penuh perasaan.
Wajar, ini adalah karya terbaik yang pernah dia ciptakan. Perasaannya pernah pasang-surut dalam penciptaan lagu ini. Beberapa lirik ditambah, lain lagi dihilangkan. Hari ini masuk studio rekaman, beberapa saat kemudian keluar karena masih ada yang mengganjal. Ini ialah proses yang sama sekali tidak instan, yang terus terjadi sampai sebuah gubahan sempurna terwujud.
Sekalipun Dunia Menyuruh Berhenti, Kita Masih Punya Diri Sendiri
Got me to stay, said that you need me
Stop ‘cause these words don’t have a meaning
No, they don’t, at least not to me
There’ll be a day, I’ll be more creative
A poetic way to say I’m not leaving
To the world, not to your face, hm
Ia bertahan di sana, dalam hubungan beracun yang telah ia sadari. Ia tetap mengambil ruang di mana ‘katanya’ dirinya dibutuhkan untuk terus berada. Meskipun dunia menyuruhnya berhenti. Meskipun ia sendiri telah mati rasa. Sienna membuka lagunya dengan lirih seakan sedang meraba perlahan ingatan pilu yang rawan koyak bilamana sedikit lebih keras lagi ia lantunkan.
Di sini, ia memahami bahwa ia bertahan hanya untuk dirinya, untuk memberitahu dunia bahwa ia sangat kuat, bukan demi permintaan seseorang dalam hubungannya.
Ingatan saya terlempar ke beberapa tahun silam, pada anak berbaju biru-putih yang juga ingin bertahan kala tak ada satupun yang memintanya. Jika dalam lagu Sienna ada seseorang yang menginginkannya untuk tinggal–walau dalam sebuah jeratan, maka tidak untuk anak ini.
Sekalipun ia lenyap, dunia tak akan peduli, tidak ada yang mau tahu. Namun ia tetap berdiri, bergeming menatap lalu lalang tawa segerombolan orang, menyaksikan kebisingan dunia dalam mengejek kesendiriannya. Karena ia sadar, masih ada dirinya untuk dia genggam erat.
Dibentuk untuk Dicinta
I know that I look stubborn and patient
But you wrote the book, I just took a page out
To be loved, to be loved and nothing more
And you kept your word, do you want a medal?
The way that someone leaves this world is all just levels
Tell me now, oh, tell me now
Ia terlihat buruk. Menjadi orang yang keras kepala dan tak sabaran. Namun ini bukan salahnya. Ia hanya diarahkan agar menjadi seperti ini supaya dapat dicintai. Ia bagaikan besi panas yang sedang dibentuk, menerima semua pukulan dari sang penempa agar ia menjadi layak. Lalu ketika ada bagian yang bengkok dan jelek, apakah itu menjadi salahnya? Tentu tidak, salahkan saja sang penempa yang memukulnya terlalu keras.
Pada akhir bagian ini, ia mengeluarkan sarkasmenya. Apakah perlu memberikan penghargaan kepada orang yang telah menepati janji untuk mencintainya? Perlukah ia merayakan cinta yang telah didapatkannya? Meskipun kini ia telah berdarah-darah, meskipun ia telah ditempa sedemikian rupa hingga tak lagi menjadi dirinya.
Sepenuhnya, bukan salah besi yang berubah bentuk setelah ditempa, ia lumrah, selumrah seseorang kepada yang dicinta, bahwa apapun ‘kan diberikan. Sekalipun ia babak belur, sekalipun dirinya menjadi berbeda.
Untuk yang dicinta, ia menyemai harapan kepada Tuhan agar dalam hidupnya terus diberkati, agar kebaikan senantiasa menyertai, kendati tak lagi bersama hingga akhir. God I wish something mattered to you.
Bukan Buta, Hanya Melihat Semua Hingga Akhir
I’ll take my pride, stand here for you
No, I’m not blind, just seeing it through
You take my life just for the thrill
I’ll take tonight and die on this hill
I always will
Ia melihat semua ketidakadilan yang dilakukan terhadapnya. Bahwa ia dipertahankan demi sebuah keuntungan, ia paham akan hal itu. Ia tidak lemah, sama sekali tidak. Ia hanya duduk manis, menyaksikan, sambil menunggu. Persis seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Setelah melepaskan seluruh cintanya kepada orang lain, perlahan ia kumpulkan sisa-sisa untuk dirinya sendiri. Dia menyadarinya. Membawa kebanggaannya sendiri agar yang lain tahu bahwa ia sangat berbesar hati, terhadap dirinya.
Beberapa tahun silam, saya berada pada fase ini. Anak perempuan dekil itu terjebak cinta monyet katanya. Tapi ia mampu bertahan hingga lebih dari lima tahun, apakah masih bisa dikatakan cinta monyet? Entahlah, tidak tahu, tak juga peduli karena bukan itu bagian pentingnya.
Selama lebih dari lima tahun itu, anak kecil itu tak benar-benar hidup untuk dirinya sendiri. Hari-hari ingatannya terpusat pada pujaan hatinya. Tak ada yang tahu perihal itu, disimpannya semua rapat-rapat dalam benaknya sembari sedikit berangan akan mendapatkan timbal balik yang layak.
Sampai pada masanya ia sadar, dirinya sangat tidak diinginkan dan beberapa waktu belakangan ia kacau. Tak ada ruang baginya untuk benar-benar mengenal siapa dirinya. Maka ia memutuskan untuk berdamai, berkenalan dengan dirinya lagi, mendekatkan diri dengan jiwa yang tiap saat ada di badannya.
Jika menurut Morris Rosenberg–seorang psikolog sekaligus sosiolog asal Amerika–ia sedang mencoba meningkatkan self-esteem-nya. Bukan karena tuntutan siapapun, melainkan hanya panggilan jiwanya yang mengatakan bahwa ia terlalu berharga untuk terluka. Ia mencoba menilai dirinya dengan lebih baik, ia berarti, dan layak mendapat pengampunan atas jiwanya.
Makin dekat ia dengan dirinya, makin jauh perasaannya pada sosok yang bahkan tak pernah sedikitpun sudi untuk melirik ke arahnya. Meski begitu ia tak merasa kurang. Ia penuh oleh dirinya sendiri dan kemudian tak ada ruang lagi bagi yang lain untuk masuk, untuk mengobrak-abrik ruang yang telah ditata ulang dengan rapi.
Sekali lagi, dia berusaha utuh kembali. Melewati batuan terjal, menyaksikan bintang bertaburan, menikmati dingin angin menusuk tulang, hingga merayakan lolongan anjing sampai ajal menghampiri, tentu saja, untuk dirinya. I always will.





