Sumber Foto: Pinterest
Oleh: Devi Kartikasari
Kavira mengenal Banu di bangku SMP, di ruang kelas yang dindingnya dipenuhi poster pahlawan nasional dan jadwal piket yang penuh dengan coretan spidol. Bangku di sampingnya kosong, dan Banu datang mengisinya tanpa banyak kata. Sejak itu mereka duduk bersebelahan. Banu kerap meminjam penghapus, sesekali bertanya tentang PR, atau sekadar tersenyum ramah. Semua terasa wajar, sampai suatu siang sepulang sekolah, ketika ruang kelas belum sepenuhnya lengang.
“Lama banget beresin bukunya, Vi,” ujar Banu sambil berdiri di belakang Kavira, jaraknya terlalu dekat untuk disebut wajar.
Kavira membeku. Tubuhnya tersentak oleh sentuhan yang asing, cepat, dan membingungkan. Bukan pukulan. Bukan dorongan. Sentuhan itu singgah di bagian tubuh yang selama ini tak pernah ia pikirkan sebagai sesuatu yang bisa disentuh orang lain.
“Bercanda doang,” kata Banu ringan, seolah yang baru saja terjadi hanyalah cubitan kecil di lengan.
Kavira tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena tak tahu harus bereaksi apa. Ia pulang dengan langkah tergesa, membawa rasa aneh yang tak punya nama. Sejak hari itu, sentuhan-sentuhan kecil mulai berulang. Di lorong sekolah. Di belakang kelas. Di tengah riuh yang membuatnya sulit berteriak. Banu selalu cepat, selalu tiba-tiba, selalu diiringi kalimat yang sama dan diulang seperti mantra,
“Jangan lebay.”
“Biasa aja.”
“Kan cuma bercanda.”
Dan Kavira percaya, atau setidaknya, ia memaksa dirinya percaya. Di kepalanya yang masih belia, pelecehan adalah sesuatu yang kejam dan mencolok: darah, laki-laki asing, malam yang gelap. Yang ia alami terlalu samar, terlalu kecil. Tak layak disebut apa-apa. Hanya kenakalan. Hanya keisengan anak SMP.
Ia tak bercerita pada siapapun. Ibunya telah lama meninggal, menyisakan rumah yang selalu terasa kosong. Ayahnya bekerja jauh, pulang setahun sekali dengan tubuh letih dan pertanyaan yang tak menunggu jawaban. Kakaknya sudah menikah, sibuk dengan keluarga barunya. Kavira belajar menyimpan segalanya sendiri. Ia pandai terlihat utuh.
Waktu berjalan. Dua tahun berlalu begitu saja. Kavira lulus, pindah sekolah, mengganti seragam dan pelajaran. Ia mengira semua yang dulu terjadi akan ikut tertinggal di bangku kayu yang retak dan papan tulis berdebu itu. Sampai suatu malam, di kamar yang senyap, layar ponsel menyalakan sebuah video. Seorang perempuan berbicara tentang sentuhan tanpa izin, tentang tubuh yang dilanggar tanpa kekerasan yang tampak, tentang luka yang sering diberi nama ‘bercanda’. Kalimat demi kalimat terasa seperti pintu yang dibuka paksa. Kavira mematikan layar. Dadanya sesak. Ingatan itu kembali, sentuhan cepat, tawa Banu, kata ‘bercanda’ dan untuk pertama kalinya, semuanya berganti rupa. Bukan lagi kenakalan. Bukan lagi keisengan. Ada satu kata yang tiba-tiba berdiri jelas di kepalanya. Pelecehan.
Kesadaran itu tak datang dengan ledakan, ia runtuh perlahan, mengendap di tubuh. Kavira menangis tanpa suara, menutup mulutnya dengan tangan sendiri, seolah dinding pun memiliki telinga. Sejak malam itu, dunia tak lagi ramah. Tatapan menjadi beban, ia mulai menghitung langkah, memilih duduk di sudut kelas, menunduk ketika berjalan. Senyum orang lain ia tafsirkan berlebihan. Gerak kecil menjelma ancaman. Di kepalanya, pikiran berlarian, saling menabrak
“Kalau dulu aku diam, apa itu berarti aku mengizinkan?”
“Kalau tubuhku pernah disentuh tanpa izin, apa aku masih punya ruang aman?”
Ia tak marah. Yang ada hanya jijik pada diri sendiri yang pelan-pelan menggerogoti, dan rasa bersalah yang tak ia pahami asalnya. Seolah tubuhnya membawa noda yang tak terlihat. Ketika azan berkumandang, Kavira ragu berdiri. Sajadah yang terlipat rapi di pojok kamar terasa jauh. Ia duduk lama di tepi ranjang, menatap tangannya sendiri.
“Apa aku masih boleh berdoa?” bisiknya pada ruang yang tak menjawab
Kavira merasa dirinya bergeser dari tempat semula, meski tak tahu sejak kapan. Seolah tubuhnya menyimpan sesuatu yang tak suci, sesuatu yang tak layak dibawa ke hadapan Tuhan. Padahal, ia tak pernah memilih apa yang terjadi padanya. Hari-hari berikutnya berjalan dalam kelelahan yang tak tampak. Kavira menjadi ahli menyamarkan gemetar di balik seragam rapi, di balik prestasi, di balik tawa yang diatur. Tak ada yang tahu betapa pikirannya sibuk mengulang masa lalu, seperti doa yang tak pernah selesai.
Di rumah, kesepian kian menebal. Tak ada ibu yang menunggu dengan pelukan. Tak ada ayah untuk bertanya lebih jauh dari sekadar “sekolah gimana?”. Tak ada kakak untuk tempat bersandar.
Suatu sore, telepon berdering.
“Kamu sehat?” tanya ayahnya di seberang.
“Sehat” jawab Kavira cepat.
Telepon ditutup dengan nasihat singkat. Kavira menatap layar ponsel yang kembali gelap, menyadari bahwa ‘sehat’ hanyalah kata, bukan penjelasan. Pada cermin, ia menitipkan pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban, “sampai kapan aku harus bawa ini sendirian?”
Suatu hari, di lorong supermarket yang dingin, ia berpapasan dengan Banu. Ia nyaris tak berubah. Tawa lebarnya masih sama, suaranya masih keras, seolah masa lalu mereka hanyalah halaman kosong. Mata mereka bertemu sepersekian detik. Banu mengangguk kecil, sapaan yang terlalu santai untuk ingatan yang berat. Tubuh Kavira membeku. Udara di sekelilingnya mendadak terasa sempit. Jantungnya berdegup tak beraturan, telapak tangannya basah oleh keringat dingin, perutnya bergejolak, mual yang datang tiba-tiba.
“Ini cuma lagi di supermarket,” katanya pada diri sendiri. “Ini siang hari. Banyak orang. Aku aman.”
Namun tubuhnya tak mendengar kalimat-kalimat itu. Bahunya menegang, napasnya memendek. Dalam kepalanya, suara lama berbisik lagi ‘Bercanda doang’, ‘Jangan lebay’, dan sesaat ia merasa kembali menjadi anak SMP yang kebingungan.
Kavira terdiam. Kali ini yang datang bukan hanya takut, melainkan kelelahan. Lelah menanggung sesuatu yang bukan kesalahannya. Lelah terus menjelaskan pada diri sendiri bahwa lukanya nyata. Ia menelan ludah, menguatkan pijakan kaki, lalu melangkah lagi. Melewati Banu. Tanpa menoleh. Tanpa menunduk.
Di kamar malam itu, Kavira membuka lemari. Di sela pakaian dan buku sekolah, ia menemukan buku catatan lama. Tanpa rencana, ia menulis. Tentang masa SMP, tentang sentuhan yang dulu tak bernama, tentang takut yang tumbuh belakangan. Tangannya gemetar, tapi ia tak berhenti. Ia tak tahu kepada siapa halaman-halaman ini akan berlabuh. Ia tak tahu apakah suaranya akan pernah sampai. Yang ia tahu, malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak memaksa dirinya diam.
Kavira menutup buku itu, menyimpannya kembali ke lemari. Ia mengambil sajadah, membentangkannya dengan gerak pelan, seolah memberi ruang untuk dirinya sendiri. Kali ini, ia berdiri. Doanya terputus-putus, pikirannya masih riuh, tapi ia tetap menunduk, membiarkan air mata jatuh tanpa diseka.
Di luar, malam tetap berjalan seperti biasa. Namun di dalam dirinya, ada pergeseran kecil, belum pulih, belum selesai, tapi tidak lagi sepenuhnya sunyi. Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang panjang, Kavira mengerti, lukanya nyata dan suaranya perlahan belajar hidup.





