Sumber Foto: Pinterest
Oleh: Bilqis Khairani
Sudah satu abad lebih usiamu
dan sembilan belas tahun aku hidup dalam pelukmu.
Di sela keriputmu yang menyimpan waktu
kau tetap mengenal parasku tanpa ragu
Pikun melanda ingatanmu
melupakan banyak nama dan masa lalu
namun anehnya, aku tak pernah hilang dari ingatanmu
kau tetap memanggilku “Baqis” dengan suara yang perlahan rapuh.
Hari Jumat menjadi sunyi yang berbeda,
bukan sekadar hari, tapi batas antara ada dan tiada.
Tak pernah kudengar lagi langkah pelan di esok hari,
tak ada panggilan hangatmu lagi.
Waktu seakan berhenti
meninggalkan rindu yang tak pernah kembali.
Oh waktu…
jika aku boleh memutarmu,
aku ingin duduk lebih lama di dekatmu
mendengar ceritamu berulang tanpa jemu.
Meski ragamu telah tiada,
namamu dan pelukmu takkan sirna.





