Portal Samping FEBI Ditutup, Akankah Dibuka Kembali?

Potret portal barat FEBI yang akses masuknya tertutup (Sumber Foto: Alayya/DinamikA).

Klikdinamika.com– Kurang lebih sejak April 2023, portal jalan di sisi barat Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) ditutup. Sebagian mahasiswa resah dengan kebijakan penutupan itu. Kepala Sub Bagian (Kasubbag) Umum Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menyebut, penutupan itu berkaitan dengan ketersediaan lahan parkir, Jumat (3/5/2024).

Diketahui, portal itu menghubungkan Jalan Dliko Indah dengan Kampus 3 UIN Salatiga. Ketika portal dibuka, mahasiswa yang berkendara dari arah Dliko, Sehati, Kota Baru, dan Perumahan Soka Lembah Hijau dapat melewatinya tanpa harus memutar lewat Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga.

Tita, salah satu mahasiswa FEBI, mengaku lumayan jengkel dan disusahkan akibat penutupan jalan itu. Sebab, dia dan beberapa  mahasiswa lain yang berdomisili di Dliko dan sekitarnya, yang sering melewati rute itu, harus memutar di Jalan Lingkar Salatiga (JLS). Menurutnya, hal itu berpotensi mengakibatkan kecelakaan karena jalannya yang ramai.

“Jelas harapannya dibuka. Karena apa? Karena … misal yang tinggal di Dliko nggak cuma anak FEBI aja, pasti juga ada dari fakultas lain yang nge-kost di belakang kampus; apa di dliko; apa di kota baru. Nah, sebenernya, kalau tiangnya dibuka, nggak mudahin aku tok. Tapi, teman-teman yang lain juga bisa lewat situ. Nggak harus muter ke jalan raya yang ramai yang berisiko, rawan kecelakaan. Kan itu (red: JLS Salatiga) jalan alternatif Solo-Semarang, Terus, kan, banyak truk-truk gede juga,” katanya, Kamis (2/5)

Laula, alumnus UIN Salatiga 2023, juga menyebutkan bahwa  penutupan jalan tersebut menyusahkan baginya yang harus menyeberang Jalan Lingkar dua kali.

“Ya, lebih kesusahan aja harus lewat jalan situ. Apalagi pas kita mau balik pulang, kan, rumah bukan arah Pulutan. Jadi, kayak harus nyebrang JLS dua kali, yang pas tengah jalan itu sama yang Masjid Baitusy Syukur. Harusnya, kalau ada yang lebih deket kenapa enggak? Kita maunya gitu, jadi lebih enak dibuka. Ya, bensin dikit doang nggak ngaruh, maksudnya kalau sehari nggak ngaruh, kalau seminggu gitu baru (red: berpengaruh),” ungkapnya, Kamis (2/5)

“Kalau pas bimbingan, itu kerasa banget. Karena kalau misalkan, FEBI, kan, belum ada apa-apanya, maksudnya kayak foto copy itu juga adanya di Fakultas Dakwah (Fakda). Orang-orang Fakda kan pasti juga butuh itu, kalau antre juga agak lama, terus pasti kita keluar. Kalau yang luar kampus itu, juga kalau bisa lewat portal, kan, enggak perlu nyebrang. Masa harus lewat depan, habis itu nyebrang lagi? Kalau ada yang ketinggalan atau kita butuh apa, kan, harus nyebrang lagi. Apalagi kalau pas hujan, baru gerimis gitu, sebenarnya rumahnya dekat, di Dliko aja, tapi pas waktu gerimis harus muter dulu. Habis itu, yang di ujung sana lampu ijo, yah, mana truk-truk semua, agak ngeri,” tambahnya.

Di kalangan mahasiswa, beredar informasi bahwa portal itu tidak dibuka lagi karena satpam malas untuk jalan ke portal dan membukakannya. Akan tetapi, hal itu dibantah oleh Dedy Sutomo, salah satu satpam di FEBI.

Enggak, bukan masalah kita males, Mas. Kita nggak berani ambil risiko. Karena dari segi keamanan, kita juga terbatas, kan. Karena kalau di situ ditutup, mungkin orang luar yang tadinya pasti bisa lalu lalang–kita nggak tau itu mahasiswa atau itu orang apa, kecuali kita anggota ada banyak–sementara kita cuma dua orang; di sini dua, di sana dua di sana lagi dua,” jelasnya, Kamis (2/5)

“Kita kerja sini cuma menjalankan tugas, Mas. Kita menjalankan tugas, kita nggak berani bantah perintah. Disuruh buka, ya, buka, tutup, ya, tutup, gitu aja. Karena ini perintah pimpinan, ya, kita tutup,” lanjutnya.

Fahrudin, Kasubbag Umum UIN Salatiga, menjelaskan latar belakang penutupan portal tersebut.

“Itu sebenarnya, kebijakan yang kami ambil waktu pembangunan itu.  Tapi, waktu dibangun, ternyata hanya segitu, belakang belum tersentuh dan samping juga belum tersentuh, baru tersentuh di depan saja. Hal itu belum memungkinkan untuk diberlakukan parkir, maka kita memerlukan kantung-kantung parkir, karena parkir hari ini kan crowded, Mas. Kalau kacau enggak, cuma tidak pada tempatnya, sehingga karena parkir crowded atau tidak layak. Maka untuk keamanan kendaraan, karena, kan, mohon maaf, di sana itu ketika dibuka portalnya kemungkinan orang banyak yang berlalu lalang,” jelasnya, Jumat (3/5).

Padahal, di sana itu kita proyeksikan untuk sementara, juga digunakan untuk parkir. Seperti itu (red: ditutup) supaya kendaraan mahasiswa, dosen, karyawan, itu aman. Maka, kita mengambil jalan, di sana kita tutup untuk akses kendaraannya. Ketika parkir sudah tidak crowded, belakang dan samping sudah bisa digunakan untuk parkir, maka nanti tentunya keamanan kita akan kita ubah. Maka, kemungkinan besar portal itu juga akan kita buka, seperti itu,” pungkasnya. (Fadlan/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *