Dema Fakda Adakan Gelar Wicara Nasional Harmoni Budaya Melalui Pemahaman Antarbudaya dan Agama.

Gelar Wicara Nasional Harmoni Budaya (Sumber Foto: Anas/DinamikA).

Klikdinamika.com– Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah (Dema Fakda) adakan Gelar Wicara Nasional bertajuk “Membangun Harmoni Sosial Melalui Pemahaman Antarbudaya dan Agama” yang berlangsung di Auditorium Prof. Dr. Achmadi Kampus 3 Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, Jumat (5/6/2024).

Pada acara Gelar Wicara Nasional ini menghadirkan dua pemateri, yaitu Dr. Ilyas, M.Ag selaku pengasuh Kidung Syafaat Salatiga, serta Herman Broto, seorang pengasuh tembang jawa di keluarga Kraton Mangkunegaran Surakarta.

Ilyas selaku pemateri pertama menyampaikan bahwa, semua ide dan perilaku manusia itu adalah sebuah budaya; budaya lahir dari manusia dengan tujuan Allah, maka budaya sudah semestinya suci karena itu semua untuk Allah. Tanpa berbudaya kita tidak akan bisa beragama.

“Semua ide, ucapan, gerakan yang dari Allah itu agama, tetapi sebaliknya: segala ide, gerakan, bacaan ritual apapun itu yang diciptakan manusia adalah budaya. Budaya itu dari manusia menuju Allah, kalau agama itu dari Allah untuk manusia. Jadi, yang namanya budaya mestilah suci dan kita tidak bisa beragama tanpa berbudaya, karena segala hal yang kita lakukan adalah sebuah budaya,” tuturnya.

Herman Broto, selaku pemateri kedua, menjelaskan mengenai asal muasal kata budaya dan maknanya.

“Budaya itu dari tembung jawa sebelum menjadi Bahasa Indonesia yaitu budi lan doyo. Maka dalam istilah budidoyo diartikan sebagai usaha,” terangnya.

Menurut Herman, setiap manusia yang hidup di dunia sudah seharusnya bermanfaat bagi kehidupannya dan masyarakat.

“Termasuk diantaranya budaya adalah seperti pepatah jawa “urip iku kudu urup lan dalane urip iku kudu piguna marang sak podo padane”. Jadi, Anda itu, apapun gelar dan statusnya, jika hidup Anda tidak bermanfaat bagi kehidupan Anda maupun masyarakat, itu dalam pandangan jawa ora ana gunane (red: tidak ada gunanya),” jelasnya.

Rizky, selaku ketua pelaksana juga menambahkan dalam sambutannya, bahwa adanya acara harmoni budaya ini sebagai wadah menambah ilmu pengetahuan tentang bagaimana cara kita membangun hubungan sosial masyarakat dalam bingkai budaya dan agama.

“Tujuan diadakannya acara Harmoni Budaya ini adalah sebagai  wadah untuk menambah ilmu pengetahuan, tentang bagaimana cara kita untuk membangun hubungan sosial di lingkungan kita dengan merekatkan unsur budaya dan agama,” papar Rizky.

Nadya, salah satu peserta acara mengatakan bahwa dirinya sangat senang karen acaranya sangat berkesan, dirinya juga mengaku mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru.

“Acaranya sangat berkesan bagi saya. Saya senang bisa mengikuti acara ini dan mendapatkan ilmu juga pengalaman baru mengenai budaya dan agama. Ditambah, pemateri yang sangat interaktif dengan peserta itu membuat saya enjoy dalam mengikuti talkshow-nya sampai akhir acara,” pungkasnya. (Anas/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *