Bias Media dalam Konflik Israel dan Palestina

Sumber Foto: Antara News
Oleh: Free Palestine Network*/Kontributor

Konflik Israel-Palestina adalah salah satu konflik yang cukup kompleks dan kontroversial di dunia saat ini. Konflik ini melibatkan berbagai isu politik, sosial, budaya, dan agama yang mempengaruhi kehidupan jutaan orang di kawasan tersebut. Konflik ini telah melanda wilayah Palestina selama tujuh dekade terakhir. Pertikaian terus berlanjut dan menghasilkan banyak penderitaan serta ketegangan di antara kedua belah pihak.

Pertemuan ketiga Jaringan Free Palestine Network Salatiga, di Tanasurga Cafe and Restauran pada Selasa (23/7/2024) malam, membawa tajuk “Analisa Media Arab dalam Pemberitaan Perang Israel–Palestina”. Dipantik oleh Dede Leni Mardianti, diskusi dibuka dengan pembahasan tentang bagaimana peranan media dalam situasi konflik.

Media menjadi sumber informasi yang sangat penting dalam situasi konflik. Namun, media juga punya peranan penting dalam memperburuk konflik, seperti media yang menjadi alat perang kedua yang fundamental dan media yang tidak berada dalam posisi netral.

Melihat situasi tersebut, media berada dalam situasi yang bias. Cees J. Hamelink, seorang profesor komunikasi internasional di Universitas Amsterdam, berpendapat bahwa begitu orang memiliki persepsi negatif terhadap orang lain, mereka cenderung selektif dalam menerima informasi tentang orang lain. Fenomena ini disebut sebagai bias konfirmasi. Bias ini menggambarkan kecenderungan kita untuk mengonsumsi informasi yang menegaskan kembali keyakinan kita yang terbentuk sebelumnya.

Begitu pula dengan apa yang terjadi dalam konflik Israel-Palestina. Media Israel terus-menerus menunjukkan gambar orang Palestina melemparkan batu ke tentara Israel yang tengah berpatroli di perbatasan. Hal itu mengabadikan stereotip orang Palestina yang kejam. Salah satu contohnya adalah liputan Israel tentang peringatan Al Nakba Palestina pada Mei 2011. Demikian pula, anak-anak di Gaza dan Tepi Barat menjadi sasaran penggambaran negatif tentara Israel dalam kartun pagi mereka–salah satu contoh menggambarkan tentara Israel Defence Forces (IDF) menembak dan membunuh anak-anak Palestina.

Dalam analisa Dede Leni, dari empat kantor Media Berita di Israel, presentase jumlah pembaca setiap minggu media Israel Hayom sebanyaik 31%; Yedioth Aharonot sebanyak 23,9%; Haaretz 4,7%; dan Maariv sebanyak 3,5%, dapat ditarik kesimpulan bahwa media yang memiliki kecenderungan pro Israel memiliki lebih banyak pembaca tiap minggu daripada media oposisi.

Sirkulasi Yedioth Aharonot, surat kabar berhaluan kanan, adalah 34% dari populasi Israel. Sedangkan Haaretz, surat kabar yang bangga menunjukkan perspektif Palestina–terlepas dari situasi keamanan, hanya dibaca oleh 7,1% publik Israel. Sementara itu, untuk kantor-kantor media Palestina seperti Ma’an, Wafa, Jaringan Berita Palestina, TV Al-Aqsa, TV Al Quds, dan TV Sanabel, saat ini hampir semuanya tutup, sehingga publik lebih banyak mengakses Al Jazeera.

Contoh yang lebih spesifik, penemuan bias yang jelas dalam analisis mikro aspek semantik dan stilistika yang paling menonjol di pemberitaan tragedi 7 Oktober 2023 antara Al Jazeera dengan BBC Arabic. Dalam pemberitaan Al Jazeera, mereka cenderung menggunakan kata “syahid” yang berkonotasi positif ketika menyebutkan orang-orang Palestina meninggal. Mereka juga menyebut kelompok Hamas dengan berbagai nama, seperti Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), Kelompok Arab, Kelompok Warga Palestina, dan orang-orang Palestina. Hal itu bisa memberikan pemaknaan positif, jauh dari organisasi teroris dan bagian dari kelompok Arab yang memperjuangkan kebebasan Palestina.

Pada pemilihan diksi, pemberitaan BBC Arabic cenderung makai kata “serangan” yang menimbulkan makna yang lebih kuat dibandingkan ketika menggunakan kata “perlawanan”. Di dalam berita juga dituliskan, “Kenangan akan serangan itu akan tetap abadi”. Hal ini menimbulkan pemaknaan serangan Hamas ini lebih kuat dan besar dibandingkan serangan-serangan lainnya.

Dalam penelitiannya, Dede leni menginterpertasikan bahwa citra Hamas dalam konflik Israel-Palestina, berdasarkan pemberitaan Al Jazeera dan BBC Arabic, berbeda. Citra Hamas menurut Al Jazeera adalah kelompok pembela Palestina. Mereka menginginkan kemerdekaan tanpa hubungan normalisasi dengan Israel. Saat ini, kekuatannya tidak bisa dianggap sebelah mata. Sedangkan bagi BBC Arabic, Hamas adalah kelompok Palestina yang menjadi musuh Israel dan, hari ini, kekuatannya perlu diwaspadai.

Selanjutnya, dari sisi tendensi dan ideologi, Al Jazeera menunjukan tendensi dan ideologi yang sedikit banyak sudah mewakili kepentingan publik, khususnya Timur-Tengah sebagai konsumen utama media tersebut. Selain itu, pemberitaan Al Jazeera menunjukan tendensi dan ideologinya terhadap isu kemanusiaan dan moral pada masyarakat Palestina dalam Peristiwa Gaza.

Sedangkan, tendensi dan ideologi BBC Arabic–yang merupakan bagian dari media barat, menunjukan tendensinya pada konflik Israel-Palestina ini dari sisi politik, kekuatan militer, dan strategi. Hal ini ditunjukan dengan pilihan diksi dan temanya. Dalam beberapa pemberitaan, BBC Arabic cenderung lebih menyorot pada kekalahan tentara Israel atas serangan Hamas.

***

*Free Palestine Network merupakan sebuah gerakan nasional yang salah satu misinya ingin membangun kesadaran masyarakat Indonesia tentang situasi di Palestina, dalam hal ini, yang berhubungan dengan pembantaian manusia oleh Zionis Israel. Di Salatiga, diskusi perdana Free Palestine Network digelar pada Selasa (9/7/2024) dan dihadiri sampai akhir acara oleh 15 orang yang tertarik membahas perihal polemik genosida Zionis di Palestina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *