Sumber Foto: Sidqon/DinamikA
Klikdinamika.com–Dewan Paroki Gereja Katolik Santo Paulus Miki, mengadakan bagi-bagi takjil dengan tajuk “Berbagi dalam Kebersamaan”, di Jl. Diponegoro No. 34, Sidorejo, Salatiga, Rabu (4/3/2026).
Bagi-bagi takjil tersebut telah dilakoni oleh tim pelaksana Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) sejak Ramadan tahun 2013. Di Ramadan tahun 2026 bagi-bagi takjil dilakukan hingga 13 Maret 2026 dengan jumlah takjil per harinya minimal 100 buah.
Agung, salah seorang tim pelaksana HAK, mengatakan bahwa kegiatan bagi-bagi takjil pada mulanya diinisiasi oleh rekan-rekan mahasiswa sebelum akhirnya diputuskan untuk menjadi program tahunan.
“Awalnya itu justru gabungan dari temen-temen mahasiswa Katolik, Muslim, awalnya gitu, terus akhirnya kan itu mungkin pas tahun 2013, terus kita lanjutkan jadi agenda tahunan,” ujarnya.
Lewat berbagi, Agung berupaya untuk menjaga harmonisasi yang baginya merupakan benih dari toleransi.
“Sebenarnya untuk menjaga, satu menjaga harmonisasi, impact-nya toleransi begitu. Jadi toleransi itu menjadi akibat dari kita menjaga harmonisasi,” jelas Agung.
HAK sendiri merupakan subdivisi yang berada di bawah divisi Layanan Masyarakat (Yanmas) Dewan Paroki Gereja Katolik Santo Paulus Miki. Program kerjanya berfokus pada kegiatan-kegiatan eksternal.
“Ya kebetulan saya ada di situ. Jadi program-program kerja itu sifatnya yang ke luar. Jadi seperti nanti silaturahmi, silaturahmi idul Fitri, kita ke pesantren-pesantren. Terus berbagi takjil. Terus ikut Forum Komunikasi Umat Beragama,” kata Agung.
Di akhir, Agung menyatakan bahwa identitas yang terlalu melekat itu tidak penting. Yang terpenting, kata Agung, ialah menjadi manusia-manusia tanpa terbatasi oleh sekat.
“Kita itu, enggak penting untuk menjadi satu golongan yang sendiri-sendiri. Tidak penting kita jadi Jawa, tidak penting kita jadi Katolik, tapi yang penting kita jadi manusia. Jadi benar-benar manusia yang benar-benar tanpa kotak-kotak, benar-benar enggak menonjolkan identitas kita, tapi lebih ke, jadi benar-benar manusia seutuhnya. Jadi manusia yang tanpa identitas yang terlalu melekat banget,” ungkapnya. (Sidqon/Red)





