klikdinamika.com

Jawaban Maslikhah, Guru Besar llmu Lingkungan, Terkait GWC

Green

Sumber Foto: Rifka/DinamikA

Klikdinamika.com–Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga resmi mengukuhkan tiga guru besar pada 9 Februari 2026. Salah satu diantaranya adalah Guru Besar Ilmu Lingkungan, Prof. Dr. Maslikhah, S.Ag., M.Si., Wakil Dekan (Wadek) III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK).

Dalam acara pengukuhan itu, Maslikhah menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul “Manajemen Pengelolaan Limbah Kayu pada Industry Plywood sebagai Daya Dukung Perusahaan Berwawasan Lingkungan pada PT Surya Mandiri Jaya Sakti Magelang”.

DinamikA berkesempatan mewawancarai Maslikhah terkait penelitiannya pada bidang lingkungan di ruang Wadek III FTIK Gedung Ahmad Dahlan lantai 1, Rabu (25/2/2026).

Dari penelitian yang telah Ibu lakukan untuk menyandang gelar profesor, apa inti temuan dari penelitian tersebut?

Kemarin Ibu sampaikan dalam pidato orasi guru besarnya Ibu, kan orang biasa di beberapa jurnal menggunakannya adalah 3R (red: reuse, reduce, recycle), orang mengenalnya kan 3R, nah Ibu bisa merumuskan satu lagi, namanya refuser, (red: berarti) ditolak. Kalau mahasiswa sudah memiliki kesadaran, pengetahuan bahwa ‘saya harus menolaknya’, dari awal timbulan sampah, maka itu (red: dampaknya) sangat dahsyat. 

Refuser itu menjadi ratu dalam pengelolaan limbah, Ibu tuliskan. Kemudian Ibu sampaikan dari hasil penelitian itu adalah satu instrumen penting yang itu bisa mengurangi secara fundamental, menyelesaikan persoalan itu mulai dari hulunya, dari induknya. (red: Instrumen itu) adalah refuser, tolak timbulan limbah.

Apa ide Ibu ke depan untuk mengawal UIN Salatiga dalam isu lingkungan?

Di disertasi Ibu itu sebenarnya berkaitan dengan green campus. Jadi konsep-konsep secara teori tentang green campus itu sudah Ibu lakukan, sudah Ibu sisir melalui penelitian yang kebetulan Ibu ada di Unnes Semarang. Di Unnes Semarang itu ada konsep namanya pertama adalah green architecture, itu tampaknya yang menjadi induknya persoalan. Artinya dengan adanya green architecture itu berarti membangun beberapa bangunan itu pada orientasi green architecture.

Hari ini belum diterapkan di UIN kita ini untuk green architecture, sehingga kita masih melihat siang begini lampu nyala gitu di pojok-pojok gitu kan, lorong-lorong, ya karena bangunan tidak didesain untuk itu, padahal itu bisa dilakukan, padahal itu sesuatu yang salah manakala di luar terang kok di dalam gelap. Ya kalau di luar terang, ya paling tidak di dalam bisa untuk menyerap energi cahaya matahari. 

Kemudian semakin ke sini kan cahaya matahari semakin kuat ya, apalagi dengan pemanasan global sehingga terik matahari dan udara panas semakin terasa. Nah kampus kita belum bisa untuk memanfaatkan energi surya itu. Coba kalau kita pasang panel surya, panel surya itu bisa dimultifungsi. Jadi panel-panel itu bisa dipasang (red: menjadi) seperti peneduh-peneduh, jadi mobil-mobil itu bisa diparkir di bawahnya, tapi yang di atasnya itu adalah panel-panel surya yang kemudian nanti bisa memberikan masukan energi untuk lampu atau bisa dimanfaatkan.

Apakah UIN Salatiga bisa mengusung konsep green architecture?

Bisa sebenarnya, termasuk rumah-rumah pribadi juga bisa. Apalagi kampus dengan jumlah bangunan yang besar, bisa sebenarnya untuk hemat terhadap air, listrik, gitu kan, ya paling-tidak dua ini.

Apa ide-ide yang Anda bawa untuk mempercepat dimasifkannya gagasan green architecture?

Jadi ide-ide yang saya ambil untuk UIN terkait ide-ide green architecture atau secara umum ada di green campus itu yang pertama memang harus ada kebijakan rektor, harus ada SK Rektor yang berkaitan dengan hal-hal yang mengatur tentang pelaksanaan Green Washatiyyah Campus, kemudian dituangkan dalam Renstra (red: Rencana Strategis), SK, petunjuk teknis, sehingga dengan demikian nanti ada anggaran bagaimana melakukan gerakan-gerakan untuk itu.

Selain kebijakan, juga ada di kurikulum, jadi Green Washatiyyah itu tidak hanya digulirkan begitu saja, tetapi juga harus ditututi (red: ditindaklanjuti) sampai ke tingkat operasional. Karena kita di lembaga pendidikan maka di kurikulum semua fakultas dan pascasarjana harus juga mengusung tentang kepedulian terhadap lingkungan, karena Green Washatiyyah Campus, nah itu harus ada dalam kurikulum, yang kurikulum itu bisa integrated maupun hidden, jadi masuk ke mata kuliah tertentu.

Sekarang program-program yang selaras dengan UIN Salatiga itu tadi green architecture atau green building Ibu belum tahu kalau di bangunan baru itu—yang laboratorium terpadu—Ibu belum tahu apakah itu mengusung green architecture ataupun green building ataupun tidak, Ibu belum tahu. 

Kemudian ada green electricity, ada pedoman agar bagaimana mereka bisa menerapkan energi listrik secara hemat. Kemudian ada green transportation. Green transportation kalau di Unnes itu kendaraan terpusat di central park, jadi terpusat ke sana, yang lainnya menuju ke gedung-gedung itu harus jalan kaki hingga bisa untuk mengurangi polusi udara di area kampus itu, itu namanya green transportation. Ada green energy, energi bersih, energi bersih kalau di tempat kita memang belum ya nampaknya, kan septic tank itu bisa dimanfaatkan bisa untuk jadi gas, mungkin di Salatiga belum ya.

Katanya UIN Salatiga ingin adanya pengurangan emisi karbon dengan meminimalisir adanya kendaraan bermotor, apakah memungkinkan jika program ini direalisasikan?

Kalau saat ini sih mungkin belum ya karena harus ada perencanaan yang matang, harus ada sosialisasi, semua proses itu harus per tahapan, per tahapan itu juga harus ada sosialisasi terlebih dahulu, harus ada pendidikan dulu yang tadi, kuncinya adalah pendidikan, kasih dia pendidikan, karena kalau sudah ada pendidikan itu maka akan timbul tadi, mengerti, akan timbul kesadaran, akan timbul aksi, gitu, sosialisasi itu dulu, kurikulumnya dulu yang perlu dimatangkan, kemudian direalisasikan di semua fakultas dan pascasarjana gitu. Tapi kalau misal dalam jangka waktu yang kemudian kita sudah melakukan perencanaan, itu pasti bisa, semuanya pasti bisa.

Kalau akhirnya green transportation ini bisa terealisasi, bagaimana solusi untuk para mahasiswa yang akan datang ke kampus?

Harus ada budaya jalan kaki juga, satu sisi memang mengurangi karbondioksida, juga bisa memberikan kesehatan, dan yang lebih penting lagi ada interaksi secara harmonis, dengan orang berjalan kaki maka nanti kemudian diharapkan akan ada tegur sapa, ada ngobrol. Dengan adanya ngobrol itu, kalau berbincang bisa jadi mengarah ke sesuatu perencanaan terhadap suatu kegiatan yang bisa menguntungkan. Nah kemudian kalau misal tadi dengan sepeda listrik karena memang ada aturan, ada aturan tentu ditetapkan kapan pemakaiannya dan untuk apa pemakaian. 

Kalau untuk petugas security di bagian keamanan, security itu dibekali sepeda listrik, tentu dia tidak hanya sekedar mondar-mandir aja gitu, tetapi juga berkepentingan, secara berkala, dijadwal. Kalau toh memang dosen harus menggunakannya itu juga sama.

UIN Salatiga, di samping mengeluarkan produk air mineral kemasan, juga memiliki slogan Green Washatiyyah Campus yang keduanya merupakan hal yang bertolak belakang, bagaimana tanggapan Anda terkait ini?

Nah, untuk air mineral itu kebutuhannya untuk kegiatan-kegiatan ataupun acara-acara tertentu, tapi untuk kegiatan harian pasti di setiap gedung itu disediakan dispenser sehingga para karyawan itu tidak menggunakan botol-botol itu, tetapi menggunakannya dispenser, itu berarti bisa untuk meminimalkan secara konkret terhadap penggunaan botol-botol itu. Seperti yang Mbak saksikan di ruangan ini dispenser digunakan tidak untuk disediakan botol-botol, kecuali untuk tamu ya, dan kalau ada acara baru bisa menggunakan itu. Saya kira itu sudah bisa sih, tidak untuk harian gitu memproduksi sampahnya.

Tapi kan produk air mineral ini dipasarkan secara bebas kepada para mahasiswa maupun tenaga pendidikan, bagaimana menanggapi ini?

Ya harusnya termasuk sosialisasi tadi, mahasiswa tidak menggunakan yang botol ya, tapi mereka menggunakan tumbler dari masing-masing, sehingga botol-botol yang disediakan di UIN Saga itu bisa diminimalkan sebagai bagian dari rasa tanggung jawab gitu untuk meminimalkan.

Terkait permasalahan yang terus berulang di kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), yaitu penumpukan jumlah sampah plastik dan pembakarannya di lingkungan UIN Salatiga, bagaimana pandangan Ibu?

Berarti itu harus ada seruan dari Warek III, dari Warek III untuk memberikan seruan kepada panitia PBAK yang di tingkat universitas untuk meminimalkan limbah, berarti tidak harus mewajibkan untuk penyediaan air mineral itu, air mineral dalam bentuk botol, tetapi mereka harus bawa tumbler-tumbler. Tapi memang ada konsekuensi sangat logis kalau mahasiswa diminta untuk membawa tumbler, tentu kan berarti ada ngisi air, sementara air di sini juga tidak teranggarkan untuk kegiatan tiga ribu mahasiswa, itu makanya pada akhirnya seruannya untuk membeli itu karena jangan sampai terjadi dehidrasi mahasiswanya karena dia aktivitas fisiknya banyak sehingga penguapan dalam tubuh tinggi sehingga membutuhkan asupan air untuk menutupi apa yang tadi menguap itu.

Dari Anda pribadi, apakah kiranya ada evaluasi terkait pengelolaan sampah, penggunaan energi, dan cukup atau tidaknya ruang terbuka hijau di kampus?

Belum, belum, jadi kayak kemarin itu pas waktu ada akreditasi ya, ada akreditasi kan jargon UIN kita ini adalah Green Washatiyyah Campus. Terus kemudian ditanya, apakah ada gitu petunjuk-petunjuk operasional yang mengarah kepada itu gitu. Ya terus kemudian Ibu sampaikan ya ada, maka di depan pintu tertulis ruangan ber-AC, mohon ditutup, nah kayak gitu, Ibu hanya membela diri itu saja. (Nina/Red)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *