Sumber Foto: Pinterest
Oleh: Thilal Asy Syifa Salsabila S.
“Lihatlah, Shamina si bodoh kembali meratap di depan sumur tua.”
Dua wanita berkepala tiga, yang baru saja menjual buah-buahan di toko dekat sumur, saling mendekatkan diri dan berbisik satu sama lain. Tangan mereka membawa bakul berisi buah yang diberikan sebagai upah tambahan dari pemilik toko, tetapi tak ada yang mampu menahan ucapan yang meluncur dari mulut mereka.
“Sudah beberapa hari dia seperti orang hilang akal. Sayangnya, tidak ada satu pun yang peduli padanya,” lanjut salah satu dari mereka, kini menatap temannya. “Jangan pernah kita mendekatinya, atau kita akan bernasib sama.”
Temannya hanya mengangguk setuju. Keduanya perlahan meninggalkan tempat itu, meninggalkan seorang perempuan muda yang duduk di atas tanah, tepat di hadapan sumur tua.
Shamina hanya terdiam, mendengar percakapan samar tersebut.
Beberapa menit kemudian, bibirnya yang pucat terbuka, melontarkan sebuah pertanyaan dengan suara lemah.
“Sumur, bolehkah aku menceritakan alasanku sebelum aku menghilang?”
Hening. Tentu saja, sumur tak bisa bicara. Di sekelilingnya pun hanya ada dirinya sendiri, tak ada satu pun yang dapat menjawab. Namun ia menganggap keheningan itu sebagai jawaban, seperti yang sering ia dengar dari orang lain: diam berarti iya.
Perempuan muda berwajah menawan itu, dengan pakaian compang-camping, tersenyum tipis. Ia mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman untuk bercerita. Napas panjang ditariknya dalam-dalam, seolah kisah yang akan ia ucapkan adalah batu besar yang menghimpit dadanya.
“Sumur, seperti yang sudah kau saksikan beberapa hari ini, di mata mereka aku adalah orang yang hilang akal. Dan tentu saja, siapa pun pasti akan berpikir demikian. Pakaianku rusak dan kotor, wajahku penuh debu, dan aku tetap duduk di hadapanmu tanpa makan serta tak pulang ke rumah. Maka wajar jika mereka menganggapku gila.”
Shamina terkekeh pelan. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Sebelumnya, aku adalah seseorang yang diakui masyarakat. Mereka senang ketika aku mendengarkan cerita mereka dengan sungguh-sungguh. Mereka senang ketika aku memahami perasaan mereka. Dan mereka sangat senang ketika aku bisa berguna dalam hidup mereka….”
Memang benar. Shamina adalah sosok yang cukup dihormati. Siapa pun yang memiliki masalah, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain, akan datang kepadanya. Ia membantu dengan sepenuh hati. Hal itu berlangsung lama. Dua tahun. Tiga tahun. Hingga lima tahun berlalu, barulah ia menyadari sesuatu.
Selama ini, ia hidup sambil memikul masa lalu yang hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri. Tak ada yang mengerti bahwa ia selalu disingkirkan. Tak ada yang mengerti bahwa ia tak pernah diizinkan untuk bersuara. Baru ketika ia terlibat dalam sebuah kasus, semua orang memperhatikannya, namun hanya untuk menghakiminya. Luka itu menetap, tumbuh menjadi rasa sakit yang panjang.
Seiring waktu, Shamina sangat ingin menemukan seseorang yang benar-benar memahaminya. Ia bahkan rela membuang banyak waktu demi mencari pria yang mampu menenangkan hatinya saat gundah. Namun yang ia dapatkan hanyalah pria-pria brengsek dengan segudang perbuatan bajingan.
Ia hampir menyerah. Hampir bersumpah untuk tidak mencintai siapa pun lagi. Hingga seorang pria hadir dalam hidupnya dan menerima tawarannya untuk menjadi kekasih.
Kali ini, ia merasa telah menemukan pasangan yang tepat.
Lelaki itu baik hati, dibesarkan dalam keluarga yang bahagia. Ia selalu berusaha menjadi kekasih yang sempurna bagi Shamina. Meski kini terpisah oleh ribuan jarak, mereka masih saling berkirim pesan.
Namun di dalam diri Shamina, muncul berbagai pertanyaan.
Haruskah ia bersikap manja seperti perempuan muda pada umumnya?
Haruskah ia terus-menerus mengabari kekasihnya yang tinggal di pulau seberang?
Haruskah ia membatasi dirinya dengan teman-temannya, baik dalam komunikasi maupun hal lainnya?
Dan suara kecil dalam dirinya menyempurnakan kegelisahan itu: Jangan pernah. Atau kau akan terjatuh saat pria itu meninggalkanmu.
Awalnya, ia tak ingin mematuhinya. Namun ketika kekasihnya menyadari bahwa Shamina terlihat lebih bahagia bersama teman-temannya daripada bersamanya, kecemburuan besar pun muncul. Suasana berubah memburuk. Sang lelaki bahkan rela kembali ke kota tempat Shamina tinggal hanya untuk menegurnya.
“Aku ini pacarmu, bukan sekedar pajangan!”
“Apa maksudmu?” tanya Shamina.
“Aku cemburu. Kau lebih akrab dengan teman-temanmu. Aku selalu meneleponmu, tapi kau tak pernah mengangkatnya. Namun saat temanmu menelepon, terutama Xiahue itu, kau justru langsung menerimanya. Ini tidak adil bagiku!” Nada suaranya meninggi. Tatapannya menusuk, wajahnya memerah menahan amarah.
“Kau selalu meneleponku saat aku butuh waktu sendiri!” balas Shamina, terengah dengan napas tipis. “Aku manusia. Aku juga butuh waktu untuk menahan masalahku sendiri. Bahkan saat aku ingin menyendiri, aku tidak memanggil teman-temanku, aku menahannya sendirian di kamar gelap!” Ia melanjutkan dengan suara bergetar. “Aku hanya menghubungi Xiahue dua kali. Dua kali. Itu pun untuk mendapatkan informasi penting, bukan untuk menggodanya seperti pelacur! Yang aku pertanyakan, kenapa kau cemburu hanya karena aku menghubunginya? Bahkan dari gender saja kami sama! Atau karena aku pernah terlibat dalam kasus LGBT, maka di matamu semua perempuan yang kuhubungi adalah orang yang kusukai?!”
Situasi itu teramat miris. Entah apa yang dipikirkan sang lelaki. Entah pula apa yang ingin disampaikan Shamina setelahnya. Segalanya hancur perlahan. Keduanya sama-sama lelah untuk saling memahami, dan sama-sama merasa tak bersalah.
Shamina selalu ragu, dan terus ragu. Setelah pertengkaran itu, ia meminta pendapat beberapa temannya. Namun jawaban mereka selalu sama: mereka mendukung sang lelaki, dan menganggap Shamina sebagai perempuan egois.
“Begitulah,” ucapnya lirih. “Pada akhirnya, tak ada seorang pun yang berdiri di sisiku. Mereka memilih diam, lalu membelakangiku. Tak ada lagi tempat untukku di sini. Tapi tidak apa, mungkin ucapan mereka memang benar. Mungkin aku memang egois, dan pantas disebut seperti itu….” Shamina terkekeh pelan, menatap sumur di hadapannya dengan lembut. “Sumur, terima kasih telah mendengarkan ceritaku. Ini adalah pertemuan terakhir kita. Semoga kau tetap abadi dan selalu bermanfaat.”
Ia bangkit berdiri. Sebuah senyum terbaik ia berikan, sebelum melangkah pergi menuju arah yang tak pernah ia lalui sebelumnya.
Tekadnya bukan untuk menghilang, melainkan mati sebagai seseorang yang masih hidup di tengah masyarakat.





