klikdinamika.com

Seiman Meski Tak Seamin

Yang

Ilustrasi: Aulia Ulfa

Oleh: Avicena

Subuh belum sepenuhnya hadir, Rosita telah lebih dulu bersimpuh di atas sajadahnya. Saat langit masih mengambang di antara sisa gelapnya malam, dan rona fajar yang sepertinya masih malu-malu untuk menunjukkan dirinya. Dinginnya udara masuk perlahan melintasi ventilasi jendela yang sedikit terbuka karena kain penutupnya tak sengaja tersingkap, menyentuh kulit meski pelan, terperangkap di ruang yang terlalu akrab dengan sunyi.

Rosita memanjatkan doa seperti biasa, tenang, teratur. Kata-kata yang sama, begitu pun ritmenya hampir tak pernah berubah. Namun, selalu ada satu bagian yang terasa berbeda.

“Jagalah dia Tuhan … di mana pun ia berada.”

Nama itu masih kerap ia sebut.

David ….

Dulu, setiap kali nama itu terucap, pasti selalu ada jeda kecil. Jeda itu tidak pernah kosong, karena selalu diisi oleh satu suara yang begitu ia kenal.

“Amin.”

Meski kini jeda itu masih ada, tapi tak lagi terbalas, hanya diam yang tertinggal. Entah sejak kapan Rosita mulai belajar menerima itu.

Ruang diskusi kecil di kampus menjadi saksi pertama mereka bersua. Dalam ruang yang sahaja diantara bunyi kursi kayu yang berderit, dan papan tulis putih penuh goresan tinta mempertemukan mereka. Memang tempatnya tak selalu ramai, tapi selalu cukup untuk menyatukan beragam kepentingan di atas meja.

Ada jiwa-jiwa yang haus akan kepastian, ada pula yang sekadar ingin memantapkan iman.

Bagi David, keduanya bukan tujuan. Ia datang untuk mempertanyakan.

“Aku kok sulit mengerti,” ucapnya sembari bersandar santai di bangku kayu taman kampus, tepat di sebelah Rosita.

“Bagaimana orang-orang bisa mengamini sesuatu yang bahkan belum pernah mereka tanyakan.”

Sontak, pandangan orang-orang tertuju ke sana, sebagian mulai naik pitam. Namun, Rosita hanya memandangnya dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.

“Mungkin karena tidak semua harus ditanyakan,” jawab Rosita pelan.

David tersenyum tipis, seperti menemukan celah yang menarik.

“Atau mungkin karena mereka takut hasilnya berbeda,” ujarnya.

Sejak hari itu obrolan mereka tidak pernah benar-benar tuntas. Awalnya cuma bahas hal-hal yang acak dan ringan. Soal kepercayaan, soal keraguan.

David dengan pertanyaan-pertanyaannya yang tajam, Rosita dengan jawaban-jawabannya yang sederhana. Mereka sering kali tak sepakat, tapi hal itu tidak benar-benar menjauhkan mereka, seolah perbedaan bukan sesuatu yang harus diputuskan, melainkan sebagai sesuatu yang bisa dijaga.

Di sela-sela obrolan singkat itu, rupanya telah tersemai benih yang tumbuh diam-diam di luar kendali keduanya. Bukan gelora asmara yang datang seketika, tapi rasa yang pelan-pelan hadir, tak berisik, namun enggan untuk beranjak.

Kala senja menyapa, di bawah rindang pohon tua yang menjadi saksi bisu kebersamaan mereka, David bertanya lirih, “Kalau nanti aku mulai ragu-ragu kamu bakal apa?”

Rosita menoleh sembari tersenyum kecil, senyumnya lumayan manis.

“Aku nggak akan marah, Vid.”

David mengerutkan dahi. “Serius?”

“Iya beneran.”

“Terus kamu mau gimana?”

Rosita menghela napas panjang.

“Aku tetap di posisi ini, menemanimu sampai ketemu apa yang kamu cari.”

David membisu. Tatapannya berubah serius. 

“Kalau seumur hidup aku nggak ketemu jawabannya gimana?”

Rosita terdiam sejenak, seolah membiarkan angin sore berlalu.

“Selama kamu masih mau percaya, kamu nggak akan benar-benar kehilangan.”

Waktu berlalu tanpa banyak suara, hari berganti hari David mulai melahap buku-buku yang dulu ia anggap asing, yang kini selalu menemaninya. Filsafat, pemikiran yang terkadang menantang apa yang selama ini ia amini. Perubahan itu tak terjadi dalam semalam, merambat perlahan, namun sanggup menggeser banyak hal dalam dirinya.

“Iman itu dijaga atau dicari sih?” tanya David, suasana malam itu mendadak lebih senyap dari biasanya.

Rosita mengernyit, “Kok tumben kamu nanya gitu.”

David menghela napas, “Karena selama ini aku ngerasa cuma nerima, dan sekarang aku pengen ngerti.”

“Aku rasa iman itu bukan soal kamu nemu atau nggak, tapi soal kamu bertahan atau nggak,” ucap Rosita tegas.

“Kalo bertahan bikin kita nggak jujur sama diri sendiri gimana?”

Pertanyaan itu terucap begitu saja dari mulut David, membuat Rosita terpaku karena untuk pertama kalinya ia tak tahu harus menjawab apa. Sejak saat itu semua mulai berubah. David memang masih datang dan duduk di dekatnya, tapi terasa ada sebuah jarak yang sulit dijelaskan.

“Ros,” ia membuka percakapan di suatu senja.

“Iya?”

“Menurutmu keyakinan itu harus sejalan?”

Rosita sedikit mengernyit, “Maksud kamu gimana?”

“Seperti ini, yang selama ini kita jalani”

Rosita terdiam sejenak, menimbang-nimbang jawabannya.

“Aku nggak tahu, tapi bagiku iman itu soal bertahan.”

David tersenyum tipis, namun tak pernah benar-benar sampai ke sorot matanya. Dan sejak percakapan itu, Rosita mulai merasakan ada yang perlahan menjauh, meskipun mereka masih duduk berdekatan.

“Aku khawatir dia semakin menjauh, Mit,” ujar Rosita pada Mita, sahabatnya, di malam hari di sebuah kedai kopi langganan dua sahabat ini.

Mita memandangnya dengan tatapan tenang.

“Tidak semua yang mencari itu akan tersesat.”

“Kalau begitu bagaimana kalau dia justru kehilangan arah?”

“Tidak semua yang bertahan, pada akhirnya akan berjalan bersama.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi diam-diam tinggal lama di benak Rosita.

Dua hari berselang, David menghilang tanpa kabar, seolah ditelan sunyi, meninggalkan Rosita yang terombang-ambing dalam kebingungan yang perlahan menjelma jadi gelisah. Sampai kabar itu benar-benar datang.

David kecelakaan.

Membuat Rosita kaget dan panik seketika. Rumah sakit pun terasa lebih dingin dari biasanya. Rosita berdiri cukup lama diambang pintu ruang perawatan ditemani rasa ragu, sebelum akhirnya melangkah masuk.

Dan ketika pandangannya jatuh pada David seolah waktu menahan napas.

David terbaring tanpa suara. Wajahnya pucat. Tubuhnya tampak begitu rapuh. Segala pertanyaan yang dulu terasa begitu penting, mendadak kehilangan maknanya.

“Hei aku di sini,” bisiknya lirih, jemarinya menggenggam tangan yang terbalut rasa dingin itu, air matanya luruh tanpa suara.

Beberapa hari berselang, David perlahan membuka kedua matanya.

“Ros.”

Suaranya lemah, nyaris patah. Namun, cukup untuk menyalakan kembali sesuatu dari dalam diri Rosita.

Sejak saat itu mereka mulai saling bicara lagi, meski tetap ada yang berbeda.

“Aku takut,” ucap David suatu hari.

“Takut apa?” tanya Rosita pelan.

David menatap langit-langit, seolah mencari jawaban disana.

“Aku takut jika selama ini aku salah memahami semuanya.”

Rosita meraih kedua tangannya, menggenggamnya dengan hangat.

“Kamu nggak sendirian.”

David tersenyum samar.

“Tapi aku udah nggak sama seperti dulu.”

Beberapa bulan kemudian setelah David sembuh, mereka kembali duduk di tempat yang sama, namun suasana tak lagi serupa.

“Aku mau jujur, Ros,” kata David pelan.

Rosita menatapnya serius juga dalam.

“Saat aku koma, aku ngerasa sendirian banget.”

Rosita masih diam menyimak.

“Bahkan doaku terasa nggak kemana-mana.”

Napas Rosita mendadak berat.

“Dari situlah aku mulai sadar, kalau aku terlalu sibuk mencari Tuhan di luar, sampai lupa menengok ke dalam.”

Rosita sebenarnya ingin menaruh harap. Namun harapan itu hanya mampir sekejap.

“Aku percaya lagi,” lanjut David.

Rosita menatapnya lekat. Tapi tidak dengan cara yang sama. Sunyi pun turun mengendap di antara mereka.

“Aku sudah tak bisa kembali seperti dulu Ros,” ucapnya pelan.

Rosita menunduk. Dan di saat itulah, ia baru benar-benar memahami, ini bukan perkara hilangnya iman, melainkan arah yang tak lagi sejalan.

“Tapi kita masih seiman,” ujar David.

Rosita tersenyum tipis. “Iya.”

Menghela napas panjang.

“Tapi kita tak lagi seamin.”

Tak ada pertengkaran. Tak ada pula perpisahan yang penuh drama. Hanya dua hati yang akhirnya memilih melangkah ke arah yang berbeda.

Subuh kembali lagi menyapa. Rosita kembali duduk di atas sajadahnya, doanya masih sama, namanya pun tetap sama. Meski kini ia tak lagi menanti. 

“Amin.” Ia melafalkannya seorang diri.

Di tempat yang berbeda, pada waktu yang nyaris bersamaan, David menengadahkan tangan.

“Jagalah dia, di mana pun ia berada.”

Subuh menjadi saksi dua doa yang melangit, dua nama yang saling sebut. Namun, tak saling menemukan.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, kampus masih terlihat ramai, diskusi tetap berlangsung. Kursi kayu di ruang itu masih berderit setiap kali orang duduk terlalu cepat.

Rosita masih datang, duduk di tempat yang sama, membuka buku yang sama. Sesekali terlibat percakapan yang dulu pernah menjadi dunia kecilnya bersama David. Tapi kini setiap kalimat yang datang hanya terasa seperti gema, terdengar, lalu pergi tanpa menetap.

Suatu sore tanpa rencana, langkah mereka kembali bertemu. Tapi bukan di ruang diskusi, bukan dibawah pohon tua. Hanya di parkiran kampus diantara lalu lalang orang yang sama sekali tak peduli cerita mereka.

Langkah mereka terhenti, jaraknya tak terlalu dekat, tidak juga terlalu jauh.

“Gimana kabarmu?” tanya David.

Rosita dengan senyuman manisnya, “Baik.”

Mereka saling menatap, dan tidak ada yang berubah dari cara mereka menatap.

“Doamu masih sama?” tanya David.

Rosita mengangguk, ”Iya masih”

“Namaku masih disebut?”

Rosita spontan menjawab lirih, “Masih, tapi nggak lagi sama.” Ucapan itu membuat David mengangguk seolah paham maksudnya.

pertemuan kali ini tak mereka perpanjang, karena mereka berdua tahu tak semua yang pernah dekat harus kembali bersama, bersatu.

Ada yang cukup dikenang, membiarkan tetap hidup dalam doa, yang tak lagi saling mengamini.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *