Sumber Foto: Alya/DinamikA
Klikdinamika.com –Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Salatiga menggelar diskusi buku Nyi Sadikem yang membahas berbagai isu, mulai dari perempuan, budaya, hingga sejarah, dalam kegiatan “Ngobrolin Buku” di Gedung C Fuadah, Kamis (16/4/2026).
Kegiatan “Ngobrolin Buku” merupakan agenda rutin yang diselenggarakan secara berkala oleh HMPS SPI.
Haris, panitia kegiatan, menyampaikan bahwa pemilihan buku tersebut didasarkan pada relevansinya dengan isu perempuan serta momentum menjelang Hari Kartini. Selain itu, penulis yang berasal dari Salatiga juga menjadi pertimbangan untuk memperkenalkan karya lokal kepada mahasiswa.
Kegiatan tersebut menghadirkan penulis buku sebagai narasumber serta diikuti oleh mahasiswa dan peserta umum. Diskusi menyoroti tradisi gowok yang diangkat dalam novel serta perspektif perempuan dalam konteks sosial dan budaya Jawa.
Artie Ahmad, penulis buku Nyi Sadikem, menjelaskan bahwa topik yang diangkat merupakan bagian dari sejarah yang bertujuan menambah pengetahuan pembaca mengenai profesi gowok di masyarakat, khususnya di Jawa. Ia menegaskan bahwa novel tersebut bersifat fiksi. Namun, terinspirasi dari tradisi yang pernah ada.
“Dengan adanya novel ini, gambarannya jadi lebih luas dari ‘katanya-katanya’ yang beredar di masyarakat. Teman-teman bisa mengambil insight dari cerita yang saya bawakan,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, penulis juga menyebutkan bahwa perempuan digambarkan sebagai individu yang merdeka dan memiliki otoritas atas pilihannya sendiri. Tradisi gowok dijelaskan sebagai peran perempuan dewasa yang memberikan pembelajaran kepada laki-laki sebelum memasuki jenjang pernikahan, termasuk bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik.
Dzuhud, salah satu peserta bedah buku, mengaku tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena tema yang diangkat berkaitan dengan perempuan dan budaya.
“Karena bukunya menarik, jadi kebetulan saya ada ketertarikan dari tema tersebut. Bagaimana wanita itu pada zaman dahulu bisa memiliki kesanggupan hak untuk bisa bersuara atau mengekspresikan apa yang dirinya bisa lakukan,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa kehadiran penulis novel Nyi Sadikem secara langsung membuatnya lebih leluasa memahami pengembangan karakter dari sudut pandang penulis.
“Jadi memang saya kalo semisal ingin bertanya tentang pengembangan karakternya saya lebih leluasa karena tidak dari sudut pandang orang lain, tapi karena yang jadi pemikiran si author tersebut,” tambahnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pemahaman kepada pembaca untuk lebih menghargai perempuan dan melihatnya sebagai individu yang memiliki nilai dan peran.
“Harapannya dengan adanya pembaca bisa mengambil ibrah atau suri teladan, itu nanti bisa kayak menghargai perempuan. Perempuan bukanlah alat ataupun istilahnya ‘bahan senang-senang’ bagi laki-laki,” tuturnya. (Alya/Juliana/Red)





