Sumber Foto: Pinterest
Oleh: Sitii Efrilia
Terhampar di rumah reyot bersama seorang kakek tua aneh dan bunglon besar seukuran bayi yang bisa berbicara adalah satu hal yang tidak pernah terbayangkan di hidupku.
Kucubit berkali-kali lenganku sendiri untuk menyadarkan diri bahwa ini bukan mimpi, aku tidak mengidap penyakit skizofrenia dan aku bukan penjelajah waktu. Aku hanya remaja tanggung yang sedang pusing dengan tugas sekolahku tentang teori relativitas Albert Einstein.
“Berhenti bertingkah konyol,” cicit suara bunglon itu yang sampai sekarang masih membuatku merinding, kini kupukul pipiku lebih keras, mencoba untuk bangun dari kejadian aneh ini, tapi tetap saja ini nyata.
Dalam batinku menggerutu, kalau aku benar-benar berada di dunia yang entah dunia apa ini, yang biasanya hanya ada di film fantasi, setidaknya hewan yang bisa berbicara denganku janganlah bunglon, tolong itu terlihat sangat tidak keren. Aku berharap hewan yang berbicara adalah hewan yang gagah dan mempunyai karisma. Kalau begini kan aku malah risih melihatnya daripada merasa takut dan segan.
“Berhenti bicara atau kau ku buang ke rawa-rawa,” desisku kearah bunglon yang kini berada di atas meja dan mewujudkan dirinya dengan warna yang sama seperti meja tersebut.
Di tempatnya, kakek tua tadi yang menyebut dirinya sebagai reinkarnasi dari James Halstead hanya terduduk diam. Rokoknya ia letakkan di meja samping kursi yang ia duduki.
Sampai di sini aku menunggu apa yang kakek itu katakan, karena setiap ucapannya selalu mengandung perintah, dan dua hari aku terjebak disini, perkataannya selalu benar. Maka sia-sia bagiku bila mengabaikan setiap perintahnya.
“Kalau kau kukembalikan ke lautan saja bagaimana? Ah bukan laut, tapi hutan atau kebun atau apalah itu, kau seharusnya hidup di darat.” Kata kakek ditujukan kepada bunglon itu, tetapi matanya memandang api perapian yang membara membakar kayu.
Sebelumnya, kakek tua itu, aku bingung menyebutnya siapa, jadi sebut saja reinkarnasi James Halstead itu, mengajakku memancing ikan di lautan, alih-alih mendapat ikan, yang ia dapat justru seekor bunglon besar, lebih aneh lagi bunglon itu bisa berbicara. Dan bunglon itu alasanku tidak bisa pulang kedunia nyata.
“Ya, seharusnya aku hidup di darat.” Jawab si bunglon.
Aku yang penasaran kemudian bertanya, “Lalu kenapa kau bisa hidup di lautan?”
Bunglon itu tersenyum aneh, mirip-mirip cicak gurun di kartun Oscar Oasis, “Sedari awal kau sudah merasakan keanehan di dunia ini kan? Kenapa masih menanyakan hal-hal tak masuk akal juga?”
Aku mendengus, benar juga. Sejak aku kehilangan sepatu kiriku dan berakhir terdampar di dunia yang aneh ini, aku memang tidak menemukan hal-hal yang waras. Semuanya terasa mengerikan.
“Tapi kalau kau bisa pulang ke hutan sendiri, itu lebih baik. Aku tak perlu bersusah payah mengantarmu.” Sahut reinkarnasi James Halstead itu.
“Aku memang bisa pulang sendiri, tapi aku masih ingin tetap berada di sini. Lagi pula aku tidak mengganggu kalian sama sekali. Oh satu lagi. Rumah reyot ini kan letaknya di tengah hutan, misal aku keluar dari rumah ini, sama saja aku sudah berada di hutan. Dasar kakek tua,” cibir bunglon itu. Reinkarnasi James Halstead hanya tersenyum miring sambil menyesap rokoknya.
Aku mengerutkan alis, kemudian mengamati dari dekat bunglon yang menyerupai warna meja ini. Tanganku dengan spontan menyentuh kulitnya yang kasar, ukurannya yang memang cukup besar masih membuatku bergidik ngeri, apalagi ketika tiba-tiba warna tubuhnya berubah menyerupai warna kulitku. Spontan aku menjauh.
“Kau bisa berubah secepat itu?”
“Ya, seperti dirimu.”
Aku menatapnya bingung, “Sepertiku?” Lalu beralih menatap reinkarnasi James Halstead.
“Iya, kau manusia, dan manusia cepat berubah juga kan?” Katanya dengan yakin. Aku yang masih tidak mengerti dengan ucapan bunglon ini menatap reinkarnasi James Halstead, meminta penjelasan. Sedang ia sendiripun hanya mengendikkan bahunya tak acuh, kembali menyesap rokok.
“Kalau hari ini kau bisa sangat menyukai akan suatu hal, besok mungkin kau akan sangat membenci hal yang kau sukai itu.”
Aku bergeming, menunggu bunglon itu melanjutkan ucapannya.
“Sang pencipta, menciptakan kita dengan keunikannya sendiri. Aku unik karena bisa dengan cepat merubah warna kulitku. Kau manusia, kadang bermuka dua, apa yang ada dipikiran, dihati, dan perilaku semuanya berbeda dan cepat berubah, tujuannya untuk apa? Untuk beradaptasi juga.”
“Bermuka dua? Maksudnya manusia berpura-pura?” Tanyaku.
“Bukan hanya berpura-pura, manusia juga sering tidak sinkron antara hati dan perbuatan yang mereka lakukan. Alasannya? Agar bisa diterima dan bisa mendapat apa yang mereka inginkan.” Jawab bunglon dengan nada tenang.
Hewan itu kini melompat, turun dari meja kearah jendela, berubah warna menjadi hijau daun, menyesuaikan dengan cat kusen jendela tersebut.
“Ketika temanmu adalah orang yang sopan dan baik tutur katanya, pasti di dalam dirimu akan ada rasa untuk mengeluarkan kata-kata yang baik dan sopan juga ketika berinteraksi. Namun, ketika kau punya teman yang selalu berterus terang, kau menyesuaikan dirimu dengan berterus terang juga kan? Seperti aku yang merubah warna kulitku agar tidak terdeteksi oleh predator, dan kau manusia merubah wajahmu sesuai keadaan untuk diterima di lingkungan.”
“Oh ayolah, itu bukan suatu masalah yang besarkan? Manusia memang dinamis, manusia memang berubah, jadi apa masalahnya?” Protesku.
“Masalahnya terletak ketika mereka terlalu banyak menggunakan “muka” untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ketika mereka terlalu berusaha untuk bisa diterima oleh orang lain, terlalu berusaha untuk menyenangkan orang lain, sampai lupa dengan diri mereka yang sesungguhnya.” Celetuk reinkarnasi James Halstead, ia mungkin mulai tertarik dengan obrolanku dengan bunglon ini.
“Oke, tapi kalau manusia nyaman ketika mempunyai banyak “muka” bagaimana? Bukankah itu suatu hal yang menguntungkan?” Sanggahku.
“Benarkah manusia nyaman ketika mempunyai banyak “muka?” Tanya bunglon dengan skeptis. Aku yang tengah menatapnya jadi berpikir.
Benarkah, orang dengan banyak “muka”, bahagia dengan hal itu?
Pikiranku terlempar ke masa-masa sekolah saat aku memiliki banyak teman, setiap aku melewati lorong menuju kelas, ada saja teman yang menyapaku. Aku bahagia ketika bisa membuat lelucon aneh yang membuat mereka tertawa, aku merasa menjadi orang yang berguna untuk mereka.
Tapi, apakah itu aku? Apakah disaat itu aku benar-benar menjadi diriku sendiri? Aku memakai muka nomor berapa di kala itu?
“Perubahan itu alami, kadang secara spontan, kita memang di design untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, tapi apakah kau nyaman dengan hal itu? Apakah kau tidak lelah menjadi kau yang seperti itu?” Kata reinkarnasi James Halstead.
“Tapi menyesuaikan diri dengan lingkungan itu kan penting!” Kataku.
“Siapa yang bilang tidak penting? Menyesuaikan diri dengan lingkungan itu penting, sangat penting. Tapi sampai kapan kau akan betah mengganti “muka” mu itu setiap waktu?” Lanjut reinkarnasi James Halstead.
Sementara itu, bunglon masih berada di posisinya, matanya menatapku dengan skeptis. “Sekarang kau sadar bahwa kau mempunyai banyak “muka?” Tanyanya. Aku diam.
“Tapi, bukankah bagus jika kita menyesuaikan diri untuk mempunyai banyak teman, banyak relasi?” Bantahku lagi.
Bunglon kini tersenyum, “Siapa juga yang bilang kalau punya banyak teman dan relasi itu tidak bagus? Sedari tadi yang kita bahas bukan itu, kita membahas seberapa bahagia ketika kau selalu merubah “muka” mu itu untuk membuat orang selalu senang dengan keberadaanmu.”
Reinkarnasi James Halstead berdecak pelan, tangannya dengan ringan memukul kepalaku. “Aku suka kau yang selalu bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi jangan sampai kau kehilangan dirimu sendiri karena terus-terusan menyesuaikan diri dengan lingkungan,”
Bunglon menyahut, “Jangan sepertiku, aku sudah lama kehilangan warnaku sendiri karena selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan,”
“Kalau mayoritas temanmu menyukai nasi padang sedangkan kau lebih menyukai soto, katakan saja kau ingin makan soto, bukan nasi padang.” Lanjut bunglon.
“Tapi aku lebih suka nasi padang daripada soto,” ucapku pelan.
Reinkarnasi James Halstead kembali memukul kepalaku, “Dasar bodoh, bukan itu inti pembahasannya.”
Aku terkikik geli. Bunglon hanya menggelengkan kepalanya seperti manusia.
“Adaptasi itu memang diperlukan, tapi jangan sampai adaptasi ini membuatmu kewalahan dan mengesampingkan kenyamananmu sendiri.”
Tangan reinkarnasi James Arthur memukul kepalaku untuk yang kesekian kalinya. “Jadilah jujur, minimal pada dirimu sendiri,”
Hembusan napas ringan kukeluarkan, ada benarnya memang ucapan bunglon dan kakek tua reinkarnasi James Halstead itu. Di dunia aneh ini, untuk membuat senang orang lain memang agaknya cukup melelahkan.
Bunglon itu berpindah tempat ke meja lagi, mengubah warnanya sesuai dengan warna meja. “Bisa antarkan aku pulang?” Katanya.
Aku dan reinkarnasi James Halstead saling bertatap-tatapan.
“Kau keluar saja dari pintu rumah reyot ini, kenapa aku harus repot-repot mengantarmu pulang?” Ucap reinkarnasi James Halstead, aku terkikik geli ketika bunglon terlihat menghembuskan napasnya malas.
“Kembalikan aku ke laut,” kata bunglon. Reinkarnasi James Halstead kembali menatapku.
“Anak ini yang akan mengantarmu ke laut,”
Aku mendengus kesal, enak saja ia menyuruhku. Memangnya kita sedekat apa sampai ia dengan gampangnya berkata bahwa aku akan mengantarkan bunglon ini pulang ke laut?
Tapi, memang dasarnya ucapan si kakek tua reinkarnasi James Halstead itu tidak bisa dibantah, tetap saja aku melangkahkan kaki mengantar bunglon sampai laut.
“Aku baru menyadari bahwa kau benar-benar gampang beradaptasi dengan lingkungan baru,” kata bunglon ketika kita sudah sampai di sebrang laut, aku mengernyitkan dahi dengan pernyataannya.
“Lihat dirimu sekarang, terdampar di dunia aneh ini saja kau tidak terlihat depresi,” lanjutnya diakhiri dengan tawa yang keras.
Aku sendiri hanya menggaruk kepalaku, bingung menjawab seperti apa.
“Kau tidak ingin ikut aku?” Tanyanya kearahku, aku spontan menggelengkan kepala. Seumur hidup tidak pernah berenang, bagaimana mungkin aku menyetujui ketika bunglon yang tinggal di laut ini mengajakku untuk ikut bersamanya. Pun jika aku bisa berenang, untuk alasan penting apa aku mengikuti bunglon besar aneh yang tinggal di lautan itu?
Namun, entah darimana asalnya, seperti ada sebuah kekuatan yang menarik kakiku untuk masuk kedalam air. Aku terkejut dan memandang kearah bunglon yang sedang menatapku juga.
“Bunglon! Tolong!” Teriakku meminta bantuannya. Air di laut ini menyeretku sampai aku tenggelam ke dasar, mataku pedih, napasku tersendat-sendat, kaki bergerak tak tentu arah untuk mencari apapun benda yang bisa kugapai agar sampai permukaan. Tapi kemudian ada sesuatu yang menarik tanganku untuk keluar. Aku merasa tubuhku diangkat sampai ke pinggiran. Mataku masih terpejam karena perih air yang masuk.
“Jo, Jovan! Bangun!”
“Jovan!”
“JOVAN!”
Teriakan itu menyadarkanku. Batuk keluar dari mulut disertai air. Saat mataku terbuka, aku bisa melihat sekelilingku sudah banyak manusia yang penasaran dengan apa yang telah terjadi. Beberapa juga ada yang khawatir melihat kondisiku saat ini.
“Astaga, akhirnya!”
Bajuku basah kuyup, Tiara yang berdiri tepat di samping tubuhku menepuk bahuku lumayan keras. “Kamu sembarangan banget bisa-bisanya nyebur ke danau,” katanya dengan nada kesal.
Aku tersenyum meringis, tubuhku masih sangat lemas.
“Aku tahu kamu memang manusia yang aneh Jovan, tapi jangan nyebur ke danau juga dong!”
Dari arah timur, datang wanita paruh baya dengan tongkat sapu yang ada di genggaman tangannya. Aku yang tadinya ingin menjelaskan banyak hal kepada Tiara tertahan.
“Siapa yang suruh nyebur di danau!” Katanya dengan marah. Entah kekuatan darimana aku berdiri dan berlari menjauh dari wanita paruh baya yang kusebut ibu itu.