Ilustrasi: Rifda/DinamikA
Oleh: Bilqis Khairani
Di antara sunyi yang kian panjang, kuberanikan diri bertanya,
“Apakah kau bosan, atau telah lelah?”
“Iya,” jawabmu,
dan seketika ada yang runtuh di dalam dada.
“Sejak kapan?”
“Tidak tahu.” Bahkan kemarin pun, katamu, iya.
Dulu, setelah hari-hari panjang dan segala kegiatan yang melelahkan,
kau adalah yang paling kutunggu untuk mendengar segala cerita.
Tentang riuhnya dunia yang tak ada habisnya.
Kini bahkan bercerita kepadamu terasa seperti mengetuk pintu yang tak lagi terbuka.
Ketika kau bertanya,
“Kau juga lelah, kan?”
aku hanya mampu menjawab,
“Lelah.”
Padahal aku lelah pada kita, pada wajah yang kehilangan cahaya, pada egomu yang menjadi dinding.
Berkali-kali kusalahkan diriku, seolah bertahan berarti harus selalu mengalah.
Malam menjadi ruang bagi pertanyaan yang tak kunjung berumah:
apakah aku kurang teduh bagi lelahmu, atau ocehanku telah menghabiskan tenagamu?
Apakah aku yang tak pernah cukup,
atau kau yang tak lagi ingin menjadikan kita tempat untuk pulang?





