Lompat ke konten utama

klikdinamika.com

Munir akan Terus Lahir Kembali

Munir

Ilustrasi: Istiqomah/DinamikA

Oleh: Zidane Heri Saputra/Mahasiswa Hukum Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

“Aku kadang-kadang lebih memilih tidak punya teman dalam satu keadaan dan dikeroyok orang banyak untuk mempertahankan apa yang menurutku benar” — Munir Said Thalib

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB), Malang. Berjalan kaki dengan suasana Malang yang sejuk, masuk ke salah satu dari tiga gedung perkuliahan, di atas ruang utama terdapat tulisan “Ballroom Munir” yang terlihat kokoh nan gagah. Terbayang bahwa ruang utama tersebut menjadi lokasi penyambutan calon mahasiswa baru sarjana hukum FH UB dari generasi ke generasi. Saya rasa menarik membayangkan perasaan para mahasiswa baru tersebut, mungkin ada yang sudah tahu tentang Munir atau mungkin ada juga yang bingung.

Saya kira kita semua perlu mengangkat topi setinggi-tingginya kepada jajaran dekanat dan mahasiswa FH UB dalam penyelenggaraan orientasi mahasiswa baru, karena dengan cara penyambutan seperti itulah akan terus lahir Munir baru. 

Bagi saya, penamaan Ballroom Munir bukan sekadar penghormatan kepada seorang tokoh. Ia adalah pengingat bahwa fakultas hukum seharusnya tidak hanya melahirkan sarjana yang memahami hukum, tetapi juga manusia yang berani mempertanyakan dan memperjuangkan ketika hukum sudah mulai menyimpang dari tujuan hukum itu sendiri, sebagaimana pesan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Prof. Erman Rajagukguk “Hukum itu tidak selalu tegak. Sekali tegak, sekali runtuh, karena ia tergantung pada tingkah laku manusia. Tugas kita adalah tegakkan ketika runtuh, berdirikan ketika rubuh.”

22 Tahun yang lalu seorang pengacara yang kaliber dan gigih telah dibunuh oleh kekuasaan di ketinggian 35.000 hingga 40.000 kaki di atas permukaan laut. Pengacara yang menjadi secercah cahaya bagi rakyat miskin dan tertindas, ya Munir Said Thalib. 

Munir hadir ketika hukum dijadikan sebagai benteng pada masa rezim kediktatoran Soeharto. Munir hadir ketika mereka yang berkata “Tidak!” pada kekuasaan dikriminalisasi melalui lembaga peradilan yang terintervensi.

Munir hadir tidak hanya sebagai sosok pembela di lembaga peradilan, ia turut turun dan melebur dalam berbagai forum pengorganisiran, karena ia percaya, persoalan hukum selalu memiliki latar belakang politik, ekonomi, dan sosial. Munir hadir sebagai pembawa kabar baik bagi mereka yang ditindas dan kabar buruk bagi mereka yang menindas di berbagai daerah seperti Malang, Surabaya, Sidoarjo, Jakarta, dan daerah lain, karena bagi Munir, ketika muslim berani salat, konsekuensinya harus berani memihak yang miskin dan mengambil pilihan hidup yang sulit untuk memeriahkan perintah-perintah itu, seperti membela korban. Tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak berpihak kepada yang tertindas

Selama lebih dari dua dekade pembunuhan Munir, berbagai upaya hukum telah ditempuh untuk memberikan rasa keadilan bagi keluarga korban. Namun apalah daya, kekuasaan terlalu kuat dan tidak ada “Political will” untuk mengungkap dalang di balik pembunuhan Munir.

Siapa dalang pembunuhan Munir?” 

Tampaknya sekarang pertanyaan tersebut tidak lagi relevan. Hal-hal yang patut dipertanyakan sekarang dan sampai kapan pun ialah: apakah pihak berwenang mampu membawa dalang pembunuhan Munir ke kursi terdakwa dalam peradilan yang tidak terintervensi? Apakah pihak yang berwenang akan mempertontonkan penegakan hukum yang objektif? dan apakah pihak yang berwenang akan berani mengambil langkah progresif bahwa tidak ada tempat di negara ini bagi kekuasaan yang berani menculik atau membunuh rakyatnya sendiri? Saya kira jawabannya tidak ada, kecuali di benak dan nurani para aparat penegak hukum.

Tidak perlu menjadi mahasiswa fakultas hukum untuk menuntut keadilan atas pembunuhan Munir, tidak perlu menjadi pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) untuk berada di barisan pembela Munir, hanya cukup untuk menyadari bahwa kebebasan yang kita nikmati sekarang juga terdapat andil dari Munir Said Thalib—meski digerogoti kekuasaan.

Sekali lagi Munir tidak pernah meninggalkan kita, Munir selalu hidup pada diri kita. Kita adalah Munir saat kita tersinggung ketika melihat perampasan hak oleh negara, kita adalah Munir saat kita marah ketika melihat penguasa memperkosa rakyatnya melalui kebijakan-kebijakannya, dan kita adalah Munir saat kita memberontak ketika melihat rakyat menjadi korban atas ketamakan penguasa.

Nafas Munir masih terus berhembus dalam setiap gerakan mahasiswa, gerakan rakyat, dan gerakan kaum tertindas.

Biarkanlah rakyat yang menentukan arah bangsa ini, dan bagaimana rakyat akan menjaga masa depannya, sebab rakyat pemilik sah konstitusi.” – Munir Said Thalib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *