Santri Kilat

Sumber Foto: pinterest.com

Oleh: Anitaap

Dering jam beker nyaring terdengar di telinga. Namun, pemiliknya masih saja asik di alam bawah sadarnya.

“Astaghfirullah, ini anak kebiasaan, deh. Tidurnya nyenyak banget sampai-sampai alarm sendiri enggak kedengaran,” omel wanita paruh baya yang selalu dibuat geram dengan anak gadisnya itu. Merasa ada yang mengusik ketenangan tidurnya, gadis bermata cokelat tersebut berlahan-lahan tersadar dari tidurnya.

“Ada apa sih, Bun?” Tanya gadis itu yang diketahui bernama Kayla, gadis semata wayang yang terkenal tomboi di sekolahnya.

“Jam berapa ini? Ayo, shalat terus siap-siap berangkat ke sekolah. Katanya mau berubah sebelum menyambut bulan yang berkah,” nasihat Syafinah, ibunda Kayla sambil mengusap kepada putrinya dengan penuh kelembutan.

“Memangnya ramadhan tinggal berapa hari lagi, Bun?” Tanya Kayla masih dengan nada khas orang bangun tidur.

“Dua mingguan lagi, sudah ayo shalat dulu,” ujar Syafinah sambil mencoba mengangkat lengan Kayla.

“Iya, bunda. Ini Kayla bangun. Bunda keluar dulu aja, tunggu lima menit nanti aku keluar,” kata Kayla dengan gerakan tangan seolah mengusir ibunya agar keluar dari kamarnya.

“Beneran ya? Oke, bunda tunggu. Kalau sampai dalam lima menit kamu belum keluar, bunda potong uang jajan kamu,” ancam Syafinah dengan nada bercanda sebelum akhirnya pergi dari kamar Kayla.

“Iya, Bunda. Enggak bakal lama kok,” jawab Kayla mengikuti bundanya, setelah bundanya keluar dia menutup pintunya.

Hari berganti hari, bulan suci sudah datang menghampiri. Penuh dengan kebahagiaan dan suka cita bagi semua umat muslim di seluruh penjuru dunia. Kayla duduk santai di depan rumahnya dengan pakaian biasanya, kaos dan celana pendek.

“Kayla, bunda boleh bicara sebentar?” Kata Syafinah sambil duduk di samping putrinya.

“Iya, ada apa Bun?” Jawab Kayla masih dengan tangan dan mata tertuju ke gawainya.

“Kalau orang lain, maupun orang tua lagi ngajak bicara lihat orangnya, Kay. Sepetinya bunda selama ini salah, belum bisa mendidik kamu dengan benar,” ujar Syafinah dengan mata berkaca-kaca.

“Emangnya bunda pernah mendidik aku? Bunda terlalu sibuk dengan pekerjaan bunda dari dulu. Sekarang aja bunda baru perhatian sama aku,” ujar Kayla dengan entengnya sambil tatapannya menerawang jauh.

“Maafkan Bunda, Kay. Bunda tahu jika selama ini salah sama kamu. Bunda melakukan ini juga demi kebahagiaan kamu, agar kita bisa bertahan hidup berdua. Sekarang di bulan yang suci ini, bunda mohon dan minta satu hal sama kamu.”

“Hm, apa Bun?”

“Bunda mau kamu bisa menjadi muslimah yang anggun, berakhlak mulia, kamu bunda daftarkan ke pondok kilatan, ya? Cuma satu bulan saja, selama bulan ramadhan ini, kok.”

“Hah? Bunda nggak salah? Bun, aku mau ngelakuin apa saja yang penting jangan di pondok Bun! Bunda kan tahu, aku nggak ada baju muslimah, jilbab dan sebagainya itu. Gerah Bun pakai itu semua!” Cerocos Kayla dengan nada penuh kemarahan. Hingga akhirnya dia pergi begitu saja dari hadapan bundanya, untuk menuju ke kamarnya.

“Tapi, Kayla! Tunggu bunda belum selesai bicara!” Teriak Syafinah yang tak digupris lagi oleh Kayla.

Seluruh santri diharapkan segera menuju ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh.

Suara speaker membangun seluruh santri, tak terkecuali Kayla.

Aku di mana? Kenapa banyak anak-anak yang sekamar denganku?

Masih banyak lagi pikiran yang terbesit di kepala Kayla.

“Kayla, ayo buruan ke masjid! Kata seseorang wanita yang usianya sekitar dua tahun diatas Kayla.

“Kakak ini siapa? Ini tempat apa kak?”

“Saya Ara, kakak pendamping kamu di pondok ini,” kata Ara sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah.

Kayla pun menyambut salaman tersebut dengan berbagai pertanyaan masih berputar-putar di kepalanya.

Sejak kapan bunda mengirim aku ke sini? Bukannya tadi aku ke kamar nangis gara-gara tidak terima dengan permintaan Bunda? Kenapa sekarang aku sudah berada di sini?

Dengan sedikit berat hati Kayla mencoba untuk mengikuti kegiatan yang ada di pesantren itu. Setelah dia jalani, ternyata kegitan di pondok enggak semengerikan yang dia pikirkan. Bahkan, di sini dia kembali belajar ilmu agama tentunya, dan tentang arti sebuah keluarga yang seutuhnya. Hati Kayla pun luluh dengan kedamaian dan ketenangan yang dia rasakan. Apalagi, terjadi ketika bulan suci ramadhan, dimana semua amal ibadah dan kebaikan dilipat gandakan.

“Kayla, melamun saja kamu ini, ayo ke depan sudah ditunggu Kak Ara dan teman-teman yang lain,” ajak Indah, teman satu kamar Kayla.

“Memangnya kita mau ke mana?”

“Kita mau foto bersama buat kenang-kenangan, besok kita kan sudah harus pulang, ramadhan sudah hampir selesai.”

“Hah? Kok cepat sekali?”

“Iya, mau gimana lagi? Sebentar lagi juga sudah idul fitri, Kay,” bukannya menjawab Kayla malah menangis sejadi-jadinya. Hingga akhirnya terdengar suara lirih memanggil namanya.

“Kayla, sayang bangun Nak, kamu kenapa menangis?” ujar Syafinah membangunkan putrinya yang terlelap dalam tidur, namun terdengar menangis.

“Bunda nggak akan maksa kamu lagi buat mondok kilatan, sayang,” imbuhnya lagi ketika Kayla sudah tersadar dari tidurnya.

“Bun, maafkan Kayla. Maaf, jika selama ini aku banyak salah sama Bunda. Kayla sekarang janji akan berusaha menjadi muslimah, berakhlak mulia seperti yang sudah agama Islam ajarkan, Bun,” jelas Kayla dalam dekapan bundanya.

“Tadi, Kayla jadi santri kilat, Bun. Sekilat mimpi yang Kayla rasakan,” sambungnya dengan tersenyum.

“Ada-ada saja kamu ini, meskipun menjadi santri kilat, semoga istiqomah engak ikutan kilatan juga ya, sayang,” kata Syafinah sambil tersenyum dan mengusap kepala putrinya.

“Aamiin, terima kasih Bunda,” ujar Kayla kembali memeluk bundanya.

Ternyata benar, terkadang Allah memberikan hidayah serta petunjuk maupun jawaban, bisa melalui mimpi. Kayla menyadarinya, setelah dia menjadi santri kilat dalam sekejap secepat kilat dalam mimpinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *