Ilustrasi: Aulia Ulfa/DinamikA
Oleh: Erick Avicena
Pohon-pohon gemetar dalam bisu, daunnya tertunduk enggan menyapa langit ,
mesin gergaji menebas bebas hening yang tersisa.
Burung-burung terbang bingung mencari sarangnya.
Langit pun ikut menunduk memikul tangis bumi yang pilu.
Akar-akar terlepas dari tanah yang memeluknya.
Daun-daun terpaksa gugur lebih cepat dari biasanya.
Angin berhembus lembut membawa debu beterbangan.
Hutan memandang manusia dengan luka, hampa namun penuh tuntutan.
Sungai mengalir membawa serpihan kayu juga daun yang hanyut,
airnya keruh menyimpan wajah bumi yang terluka.
Ikan-ikan berenang kebingungan mencari tepian yang aman,
jejak kehancuran mengapung di wajah sungai.
Ranting-ranting berserakan di tanah yang lembab,
Merekam jejak manusia yang tuli pada alam.
Hewan-hewan menepi, menahan napas sesaat.
Gelapnya malam merengkuh hutan dalam sunyi yang muram.
Suasana gelap menutupi batang pohon yang tersisa,
Tercium aroma hangus memenuhi udara.
Hutan merintih walaupun tak terdengar,
Ia berdoa untuk esok yang belum pasti.
Namun disela reruntuhan, ada tunas hijau yang menembus retaknya tanah,
Menyongsong dunia yang penuh kehancuran.
tunas hijau itu berbisik lirih: “wahai manusia masihkah kau mendengar suara yang tak bersuara?”
Haruskah pagi kembali menyaksikan tangis bumi?”





