Perpusda Salatiga Adakan Bedah Buku “Salatiga Paradys op Aarde”

Sumber Foto: Parid/DinamikA

Klikdinamika.com– Perpustakaan Daerah dan Arsip (Perpusda) Kota Salatiga mengadakan bedah buku yang berjudul “Salatiga Paradys op Aarde” di Ruang Multimedia Perpusda, Selasa (10/10/2023).

Kegiatan ini diikuti oleh guru, siswa SMA, pegiat sejarah, dan mahasiswa. Pada bedah buku ini membahas tentang sejarah kota Salatiga dari masa ke masa.

Menurut Warin, judul ini diambil dari julukan Salatiga di masa kolonial.

“Dari judul Salatiga Paradys op Aarde artinya Salatiga surga dunia, dan bukan gimik. Itu merupakan julukan di masa kolonial, yang ditulis oleh Jhon Richard Edson Lenis, Kepala Burgelijke Openbare Werken (BOW) saat itu,” tutur Warin, selaku penulisnya.

Ia menuturkan bahwa skema yang digunakan dalam penulisan ialah skema arkeologi.

“Kami menggunakan skema arkeologi, dan membagi menjadi 3 masa, yaitu prasejarah, klasik dan kolonial,” tambahnya.

Beberapa informasi yang tak semua orang tahu dibahas dalam buku tersebut, seperti tentang Prasasti Plumpungan, Naskah Merapi, Salatiga yang mulanya Gemeente menjadi Stadsgemeente, Sanatorium, dan lain-lain.

Di sesi diskusi, beberapa saran dan masukan diberikan terhadap buku yang akan dirilis tersebut. Salah satunya dari Atika, guru di SMA 3 Salatiga.

“Saya ada beberapa catatan. Di masa klasik menurut saya hampir tidak ada yang menulis itu sehingga menjadi daya tarik penelitian baru agar dibedah secara mendalam. Selanjutnya, saya menyarankan kata mitos diganti menjadi epos Mahabarata. Karena ini bisa dijadikan primer dalam penulisan sejarah tergantung siapa dan untuk apa tulisan tersebut. Ada pula sumber lain yang bisa dijadikan titik terang masa klasik di Salatiga yaitu dari sumber lisan/ berkaitan dengan ingatan masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menambahkan masukan terhadap bahasan di masa kolonial.

“Dalam menulis sejarah, perlu pendekatan multi dimensi. Artinya, tidak hanya memakai sudut pandang tunggal. Saya menambahi sudut pandang selain dari Belanda yaitu dari Raden Mas Said. Lalu kebanyakan sumber arsip adalah arsip Belanda, kekurangannya ialah belum bisa melihat dari kacamata orang yang hidup di masa itu,” pungkasnya.

Warin menambahkan, bahwa keterbatasan sumber menjadi tantangan, selain itu karena terbatasi waktu dan jumlah halaman. Namun ia berharap semakin baik kedepannya.

“Saya menulis ini karena ingin memberikan warna baru sehingga awareness pada cagar budaya bisa timbul. Harapannya bukan hanya saya yang mengerjakan, tetapi juga temen temen lainnya,” ujarnya. (Rika/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *