klikdinamika.com

Perayaan Tanpa Tuan

Tanpa

Lukisan Edvard Munch
Sumber foto: dailyartmagazine.com

Oleh: Ihda Atika Wulandari 


Dulu, aku adalah dermaga yang cemas jika lautnya hilang,
Mengira seluruh dayungku patah saat kau pilih pulang.
Kupikir aku akan mati kutu, jadi debu yang bisu,
Sebab langkahku seolah hanya sah jika ada di sampingmu.

Namun lihatlah, waktu ternyata tabib yang paling keras kepala,
Ia memaksaku berdiri di atas retak yang dulu kau tinggalkan.
Kini aku sudah berkelana jauh, melampaui peta yang kau tahu,
Menemukan benua-benua baru di dalam diriku yang dulu kau ragu.

Harapan tentang kita telah kupendam dalam-dalam,
Menjadi fosil yang terkunci rapat di dasar palung yang kelam.
Tak ada lagi bising doa yang menyebut namamu dengan gemetar,
Sebab aku telah belajar bernapas tanpa perlu kau jadi penyegar.

Lucunya, mimpi-mimpi yang dulu hanya mampu kita bicarakan,
Kini satu per satu jatuh ke pelukanku, menjadi kenyataan.
Tanpa tanganmu yang menuntun,
Aku justru tiba di pelabuhanku sendiri.
Sebab tanpamu,
Aku bukan kehilangan
Melainkan menemukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *