Sumber Foto: Pinterest
Oleh: Lina Duka/Kontributor
Di sebuah ruang bersalin di salah satu rumah sakit umum, dua puluh tahun lalu, seorang bayi laki-laki diadzankan dengan penuh khidmat. Ayahnya, seorang guru ngaji yang percaya bahwa nama adalah doa, membisikkan kata “Mahbub”. Dalam bahasa arab, Mahbub berarti “yang dicintai”. Harapannya cukup sederhana. Ia berharap kelak dunia membukakan pintu dengan senyuman ke mana pun putranya itu melangkah.
“Semoga kelak engkau menjadi manusia yang dicintai dan bermanfaat bagi sesama ya, nak,” ujar ayahnya dalam doa.
***
Tuhan tentu tidak tinggal diam. Ia selalu ingin menguji hati para hambaNya.
Mahbub tumbuh bukan sebagai pemuda yang dielu-elukan oleh banyak orang. Ia tumbuh menjadi pemuda dengan sepasang mata yang selalu tajam untuk melihat ketidakadilan, dan lidah yang terlalu kaku untuk menjilat kekuasaan. Alih-alih dicintai, Mahbub justru menjadi seperti slilit yang tersangkut di sela-sela gigi setelah makan rendang—kecil, namun mampu membuat jengkel para manusia yang buta akan kebenaran.
Kampus Universitas Negeri Sejahtera adalah sebuah miniatur negara yang sempurna. Di sana, demokrasi adalah sebuah pertunjukan teater dengan naskah yang sudah ditulis di kos-kosan oleh para “sutradara” organisasi ekstra kampus. Ikatan Mahasiswa Pejuang (IMP), demikian nama organisasi ekstra yang mendominasi kampus tersebut.
IMP bukan sekadar organisasi, ia adalah pabrik pencetak para politikus. Jika mahasiswa ingin menjadi ketua BEM, mereka harus punya embel-embel IMP. Jika mahasiswa ingin menjadi ketua HIMA, mereka mau tidak mau harus menandatangani kontrak politik dengan para senior IMP. Di kampus ini, bakat dan integritas dipinggirkan, sementara loyalitas buta adalah sesajen wajibnya.
Mahbub berdiri di seberang tembok itu. Ia adalah anomali.
“Kita ini mahasiswa, Bung! Bukan makelar jabatan! Apa bedanya kita dengan para politikus di Senayan sana,” teriak Mahbub dalam sebuah diskusi di salah satu kos-kosan kader senior IMP. Wajahnya memerah. Di depannya, sekelompok kader IMP berseragam PDH rapi hanya tersenyum sinis, senyuman yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah memendam kebencian yang lama.
“Mahbub, Mahbub,” salah satu dari mereka, seorang pemuda dengan rambut klimis bernama Samid, menyahut pelan. “Politik disini semua sudah diatur. Semua yang akan jadi ketum, itu harus dari kader IMP atau dengan persetujuan para senior IMP. Budayanya sudah seperti itu. Kamu itu terlalu idealis. Di dunia nyata bahkan, menjadi idealis saja tidak akan membuat perutmu kenyang, apalagi hanya untuk memenangkan pemilwa (pemilihan umum mahasiswa).”
Sejak saat itu, perang dingin dimulai. Mahbub menjadi oposisi tunggal. Ia bergerak dari satu tongkrongan ke tongkrongan lain, mencoba menyadarkan mahasiswa bahwa hak suara mereka sedang dirampok oleh oligarki kampus. Ia mencoba menggalang suara, menempel pamflet di mading, menulis opini di laman website pers mahasiswa, berharap para mahasiswa yang membacanya akan tersihir dengan goresan tangannya.
***
Puncak tragis dari cerita ini adalah Rahma. Rahma adalah satu-satunya alasan Mahbub masih merasa menjadi manusia. Perempuan itu adalah teman dekatnya, temannya diskusi, dan juga tempat Mahbub menuangkan isi hati. Rahma selalu ada di sampingnya saat Mahbub dihujat. Ia bagaikan segelas air yang menghilangkan dahaga saat Mahbub dilanda putus asa.
“Jangan menyerah, Bub,” bisik Rahma suatu sore di gazebo depan gedung kampus. “Kamu adalah nurani yang tersisa di kampus ini.”
Tidak ada suatu hal yang pasti di dunia ini. Satu-satunya hal yang pasti di dunia hanyalah ketidakpastian itu sendiri. Ketidakpastian yang membuat manusia jatuh berkali-kali. Pada suatu hari, teman Mahbub yang bernama Sarbin mengajak Mahbub pergi ke suatu warung dekat kampus. Ia menyodorkan sebuah rekaman berdurasi dua puluh menit. “Coba dengerin deh, Bub. Kamu pasti akan kaget.”
Mahbub mengernyitkan dahi, menatap bergantian antara wajah serius Sarbin dan layar ponsel yang menyala. Ia meraih gawai milik Sarbin, lalu menekan tombol play. Awalnya hanya terdengar suara lalu lalang sepeda motor, lalu disusul oleh tawa yang sangat familiar di telinga Mahbub. Itu suara Rahma.
“Tenang, Sam. Kamu nggak usah cemas soal gerak-gerik Mahbub di kampus,” suara Rahma terdengar jernih, disusul gumaman setuju dari beberapa orang yang Mahbub kenal sebagai kader-kader inti IMP. “Aku tahu luar dalamnya Mahbub. Semua titik lemah dan keburukannya sudah di tangan aku. Begitu momennya pas, kita tinggal lempar itu ke publik. Itu bakal jadi peluru mati yang langsung ngejatuhin dia sampai nggak bisa bangkit lagi.”
Detik itu juga, tangan Mahbub yang tengah memegang gelas es teh manis, senyum santai yang sempat tersungging di sudut bibirnya lenyap, digantikan oleh bibir yang merapat rapat hingga memutih. Kulit wajahnya mendadak pucat, seolah seluruh aliran darah di tubuhnya mendadak surut ke kaki.
Di dalam rekaman, suara Samid menyahut, berat dan penuh kemenangan, “Bagus, Rahma. Terus tempel dia.”
Suara-suara di dalam rekaman berdurasi dua puluh menit itu terus mengalir, merinci lembar demi lembar rahasia yang pernah Mahbub bisikkan pada Rahma pada malam-malam penuh air mata di masa lalunya. Rahma, perempuan yang beberapa jam lalu masih mengiriminya pesan teks berisi untaian doa dan penyemangat, kini terdengar seperti seorang arsitek yang sedang merancang upacara pemakamannya.
Sarbin yang duduk di hadapannya hanya bisa mengalihkan pandangan ke arah jalan raya, tidak tega melihat perubahan drastis pada temannya.
Mahbub tidak berkedip. Matanya menatap lurus ke arah layar ponsel yang durasinya masih terus berjalan, namun fokusnya telah hilang. Rahangnya mengeras hingga urat di lehernya menegang. Perlahan, ia meletakkan gelasnya ke meja dengan tangan yang sedikit gemetar, membuat beberapa tetes air teh tumpah membasahi permukaan kayu yang kusam. Dadanya kembang kempis dengan ritme yang memburu, menahan hantaman tak kasatmata yang baru saja meremukkan seluruh kepercayaannya tanpa sisa.
Dunia seolah runtuh. Ia menyadari bahwa “cinta” yang disematkan pada namanya telah mati di tangan orang yang paling ia percayai.
***
Keesokan harinya, langit kampus tampak mendung, seolah ikut merasa bosan dengan drama kemunafikan manusia. Mahbub tidak pergi ke kelas. Ia berdiri di depan gedung dekanat dengan membawa selembar kertas. Surat pengunduran diri. Ia memutuskan untuk berhenti kuliah.
Mahbub melangkah menuju gerbang kampus dengan tas ranselnya yang terasa lebih ringan. Di belakangnya, baliho besar bergambar Samid sebagai calon ketua HIMA terpampang gagah di tiang banner dekat masjid kampus.
Sesaat sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari gerbang, Rahma dan beberapa teman Mahbub termasuk Samid sudah menunggunya di pos satpam. “Kenapa kamu tiba-tiba berhenti kuliah, Mahbub?” ujar Rahma dengan raut muka penuh iba, meski tidak sama dengan isi hatinya.
Di hadapan wajah-wajah yang seolah tak merasa bersalah, ia berdiri tegak, membiarkan keheningan menjadi pembuka bagi kalimat terakhirnya.
“Jika memang keberadaanku hanya menjadi jelaga yang mengusik mata kalian,” ucap Mahbub. Suaranya tenang namun bergetar oleh keyakinan yang menghunjam, “maka biarkan aku enyah dari tanah ini. Aku bukan pergi karena menyerah, tapi untuk membuktikan bahwa negeri ini tidak memberikan ruang sedikit pun pada kebenaran dan keadilan!”
***
Mungkin doa ayahnya benar-benar terkabulkan, ia memang dicintai. Tapi bukan oleh mereka yang memuja kekuasaan, melainkan oleh kebenaran itu sendiri, yang sering kali memang memilih untuk tinggal bersama orang-orang yang kalah.





