klikdinamika.com

Ruang-Raung 2026, Upaya Merebut Kembali Ruang Waktu Sipil

Ruang Raung

Sumber Foto: Sidqon/DinamikA

Klikdinamika.com –Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang menggelar acara Ruang Raung bertajuk “Re-Klaim Ruang Waktu Sipil” di Kafe Grile Temcy, Banyumanik, Kota Semarang, Minggu (24/5/2026).

Acara dimulai dengan peluncuran jurnal kritis berjudul Re-Klaim Ruang Waktu Sipil, dilanjut dengan diskusi publik, kemudian malamnya penampilan musik dari The Joints, Ejakulator, Kendeng Squad, hingga Sukatani. Acara juga diramaikan dengan pameran dari Death Sugar dan Bersemai Sekebun.

Dika, seorang dari LBH Semarang mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan media bagi teman-teman masyarakat sipil untuk saling memberi kabar satu sama lain di tengah rezim yang makin otoriteristik dan militeristik.

“Ruang-Raung ini sebagai media kita, media teman-teman musisi, kawan-kawan kolektif, jaringan masyarakat sipil, organisasi rakyat, serikat buruh untuk bertemu, saling berkabar di tengah kondisi  rezim yang makin otoriter, di tengah rezim yang makin militeristik sehingga kemudian ruang-ruang temu kita acap kali mendapatkan tantangan tersendiri yaitu penyempitan,” ujarnya.

Semenjak UU TNI diteken pada Maret 2025, keterlibatan militer di ranah sipil kian masif. Imbasnya terjadi penyempitan ruang sipil yang menyerobot kerja-kerja perawatan di dalamnya.

“Kalau kita lihat ke belakang undang-undang TNI disahkan, dan itu membuka ruang sangat luas bagi militer untuk masuk ke ranah-ranah kita. sehingga kemudian kerja-kerja perawatan gerakan masyarakat sipil, waktu kita seringkali habis,” jelas Dika.

Oleh Karena itu, kata Dika, penting untuk merebut kembali ruang waktu sipil, supaya tidak terjadi nirfungsi sistem negara demokrasi dan negara kembali berkomitmen menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM).

“Jika tidak (red: merebut ruang waktu sipil) maka fungsi sistem negara demokrasi yang seharusnya berkomitmen terhadap penegakan Hak Asasi Manusia itu makin mundur, karena  negara sudah tidak peduli lagi dengan penegakan HAM dan demokrasi,” lanjutnya.

Sinar, seorang dari Kelompok Tani Kawulo Alit Mandiri Kendal mengamini apa yang dikatakan oleh Dika.

Sebagai Petani, Sinar perlu merebut ruang demi mengekspresikan nasib yang petani alami. Karena petani hari ini dihadapi dengan berbagai macam problematika, dari tengkulak hingga perampasan lahan.

“Kami sebagai petani ingin terus mencari atau merebut ruang untuk kami mengekspresikan atau kami mencurahkan semua yang kami alami. Karena menjadi petani di negeri Indonesia jauh dari kata sejahtera. Banyak sekali permainan-permainan yang membuat kami tidak sejahtera, seperti perampasan tanah, permainan tengkulak dan masih banyak lagi,” ungkapnya.

Sinar mengatakan, jika ruang sipil tidak kembali direbut maka di mana lagi mencari tempat untuk saling bercerita, saling belajar, dan saling memahami.

“Kalau (red: ruang waktu sipil) sampai nggak bisa kita dapatkan, nggak bisa kita rebut, lalu di mana tempat kita untuk saling bercerita, saling belajar, saling memahami tentang kondisi negara ini,” ujarnya.

Dika mengingatkan bahwa kerja-kerja perawatan bukanlah upaya individu. Maka dari itu perlu untuk saling terhubung satu sama lain.

“Ini bukan sebuah upaya individu, ini bukan sebuah upaya parsial, tapi dari semua unsur perlu saling terhubung, perlu saling  menjahit satu sama lain. Karena kita perlu merawat hal-hal kecil, hal-hal kecil yang sudah muncul,” ungkapnya. (Sidqon/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *