Sumber Foto: Arul/DinamikA
Klikdinamika.com –Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam beberapa Organisasi Mahasiswa Eksternal (Ormek) menggelar aksi damai dalam rangka mengevaluasi 1 tahun kepemimpinan Walikota Robby Hernawan dan wakil walikota Nina Agustin di depan Kantor Walikota Salatiga Jl. Sukowati No.74, Kalicacing, Sidomukti, Salatiga, Senin (9/2/2026).
Organisasi Mahasiswa Eksternal yang turut hadir dalam aksi meliputi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Saiful Anwar, perwakilan Ormek HMI, berpendapat bahwa tujuan dari aksi ini adalah untuk menyampaikan aspirasi dan beberapa tuntutan yang dinilai menjadi keresahan selama satu tahun kepemimpinan Robby.
“Tujuan kita adalah menyampaikan aspirasi beberapa tuntutan yang menjadi keresahan yang sudah kita maklumi selama satu tahun kepemimpinan Robby yang tidak ada tindak lanjut ataupun kinerja baik ataupun perbaikan tindak laku dari kepemimpinan walikota,” ujarnya.
Saiful Anwar menilai bahwa tidak ada kemauan berubah dari walikota sendiri yang dinilai memiliki ego pribadi dan bertolak belakang dengan perkataan saat awal dilantik.
“Pada awal dilantik wali kota ada menyampaikan tidak mau membebani APD (Anggaran Pembelanjaan Daerah) dengan menggunakan kendaraan pribadi tapi saat ini kita ketahui bahwasannya wali kota menganggarkan sewa mobil kendaraan sebagai kendaraan dinas sejumlah 815 juta per tahun Jadi itu sangat bertolak belakang,” ujarnya.
Saiful juga menambahkan, bahwa kepemimpinan kali ini dinilai sangat mirip dengan kepemimpinan gaya kerajaan. Hal ini lantaran walikota Robby Hernawan dinilai selalu memenuhi semua keinginannya.
“Kepemimpinan kali ini adalah kita anggap sebagai kepemimpinan kerajaan karena bagaimanapun apa yang menjadi keinginan Robby selalu dipenuhi dan diutamakan, tapi ketika ada suara-suara yang menjadi keresahan masyarakat itu selalu diabaikan,” ungkapnya.
Saiful Anwar juga mengaku bahwa diskusi dan kajian sudah dilakukan tapi respons mereka adalah membuat konten di media sosial agar masyarakat kota Salatiga seolah baik-baik saja.
“Kami sudah melakukan diskusi jauh-jauh hari, sebulan sebelum aksi ini sudah kita lakukan kajian, tapi respon mereka adalah membuat konten-konten yang ada di media sosial. Sehingga seakan-akan apa yang kita kaji ataupun apa yang kita sampaikan ini hanyalah omong kosong belaka dan nyinyir semata Jadi mereka buat konten sehingga masyarakat ini merasa kota Salatiga ini sedang berada dalam posisi baik-baik saja,” akunya.
Tuntutan massa aksi juga menyenggol permasalahan insentif guru dari beberapa guru honorer yang belum menerima insentif yang harusnya diterima. Wisnu, perwakilan GMNI mengklaim jika isu terkait insentif guru sebatas direspon lewat media sosial saja.
“Dari beberapa guru honorer yang ada di kota Salatiga ini benar-benar belum menerima insentif yang seharusnya diterima, dan hanya direspon sebagai statement media saja bahwasanya akan dianggarkan dan segera teratasi,” ujarnya.
Yusron, peserta aksi, menilai bahwa apa yang mereka sampaikan seakan-akan hanyalah omong kosong dan dinilai seperti stand up comedy oleh staf pegawai walikota.
“Untuk kebijakan Robby sebenarnya sudah terbuka, cuma dia kurang mendengarkan masyarakat. Secara pribadi Robby bagus, cuma dia bagus untuk keterbukaan pemikiran, tapi responsnya yang kurang kami sukai, karena tadi dia juga sempat marah-marah kepada kami, mukanya merah, Bahkan dia juga memaki kami, mengatakan kami stand up comedy dan seterusnya,” kata Yusron.
Yusron juga memberikan harapan agar kepedulian masyarakat ikut tersentuh sehingga ikut meramaikan massa aksi kedepannya apabila tuntutan hari ini dihiraukan.
“Jika misalkan tuntutan ini tidak dipenuhi, kami akan terus konsolidasi, kami akan terus mengumpulkan kekuatan agar nantinya ketika kami turun lagi kami akan jauh lebih kuat, lebih besar, dan lebih daripada Robby,” harapnya.
Sedangkan pendapat dari Walikota Robby Hernawan dalam menjawab salah satu tuntutan adalah mengajak mahasiswa ikut turun langsung menyertai masyarakat karena selama ini dianggap bahwa masyarakat tidak merasakan keberadaan mahasiswa secara langsung.
“Ayo turun menangani stunting. Ayo kita turun menangani MBG. Pengawasan MBG Silahkan kalian ikutlah berperan. Yang saya harapkan peran kalian sebagai intelektual, sebagai mahasiswa, itu mempunyai peran langsung, peran yang betul-betul dirasakan oleh kebermanfaatan masyarakat sekarang,” ujarnya.
Robby juga memberikan sebuah masukan terhadap massa aksi untuk melakukan aksi dengan santun dan beretika.
“Saya sebagai orang tua kalian hanya menyarankan, sampaikanlah aspirasi Ini dengan santun dan beretika. Tidak perlu nyinyir, tidak perlu teriak-teriak. Datanglah berdialog, dan saya menuntut kalian tidak hanya mengkritisi dan mengoreksi dengan cara demikian,” harapnya. (Randy/Red)





