Sumber Gambar: Cover Album
Oleh: Alya Risca Al Haris
Pertama kali saya mendengar lagu “Tarian Penghancur Raya”, saya langsung jatuh hati pada instrumennya. .Feast dengan cerdik mengawinkan tabuhan gamelan yang magis dengan karakter rock alternatif gaya mereka—racikan dinamis antara alternative, indie, hingga stoner rock.
Berbeda dari musik rock konvensional yang cenderung bermelodi rapi atau solo gitar, .Feast justru menonjolkan distorsi tebal, nada elektronik, serta ketukan ritme yang padat dan tajam. Ada perpaduan rasa yang unik—seperti mendengarkan nada tradisional yang mendadak ditabrakkan ke tengah bisingnya kota modern.
Waktu itu, saat lagu ini dirilis sekitar tahun 2019, saya hanya menikmatinya sebagai pengiring waktu luang di playlist yang terputar otomatis—sebuah hiburan pengisi sepi tanpa perlu repot-repot membedah apa yang sedang disuarakan oleh Daniel Baskara Putra dan kawan-kawan.
Namun, ketika saya memutarnya kembali belakangan ini dan mencoba meresapi maknanya, rasanya jauh berbeda. Lagu yang lahir enam tahun yang lalu tidak lagi terasa sekadar karya musik biasa, tetapi terdengar seperti “ramalan” tentang kondisi ekologi yang terjadi akhir-akhir ini.
.Feast tidak memilih diksi yang sederhana untuk menyampaikan kritiknya. Bahkan dari judulnya saja, lagu ini sudah menghadirkan sebuah pertentangan. Kata “tarian” identik dengan gerakan, perayaan, atau keindahan, sementara kata “penghancur” membawa makna sebaliknya—proses merusak dan merenggut ruang hidup.
Deretan kata seperti “kamar berjeruji berpenghuni bersafari” hingga “bank ahli industri teknologi etnografi” membuat liriknya terdengar padat, berirama, dan puitis. Ketika diluncurkan dalam tempo cepat, permainan irama dan aliterasi tersebut berkelindan menjadi bagian penting dari ritme musik itu sendiri. Di balik indahnya nada dan irama yang dimainkan, terselip pesan pahit mengenai krisis ekologi yang sedang mengintai kita.
Saat Alam Dirusak Demi Keuntungan Bisnis
Kamar berjeruji berpenghuni
bersafari
Berbagai fauna flora kerasukan
freon di ruko toko bunga”
Dalam lirik tersebut, .Feast menangkap ironi komersialisasi ekosistem. Ada kecenderungan ganjil di mana manusia saat ini gemar membatasi kehidupan alam—memotong ruang hidup satwa liar ke dalam kotak-kotak beton berlabel tempat rekreasi, atau mengurung tanaman di dalam ruko toko bunga yang hidupnya bergantung pada hembusan pendingin udara (freon) agar tidak cepat layu.
Kondisi ini tidak sekadar imajinasi liar. Fenomena eksploitasi ini nyata terjadi ketika kawasan hijau terus tergerus oleh pembangunan bisnis. Hal ini juga tercermin dari sejarah kelam Kebun Binatang Surabaya (KBS)—di mana buruknya tata kelola, konflik kepentingan, dan komersialisasi justru menelantarkan makhluk hidup di dalamnya hingga terancam punah.
Tidak berhenti di situ, .Feast juga membongkar bagaimana kekuatan uang dan investor menyingkirkan warga lokal yang selama ini menjaga tanah mereka.
Bank ahli industri teknologi
etnografi produksi menggurui penghuni asli
Kalimat ini menjadi sindiran pedas terhadap cara pemerintah dan pengusaha yang selalu memaksakan keputusan dari atas tanpa mau mendengarkan rakyatnya. Pihak luar—entah itu investor (bank), mesin industri (teknologi), maupun dokumen kajian formal (ahli/etnografi)—datang ke tanah-tanah ulayat dengan rasa superioritas. Mereka merasa paling tahu cara mengelola tanah, menentukan aturan main sendiri—menentukan mana tanah yang mau digusur, bagaimana tanah harus dikelola—tanpa peduli pada aturan adat atau suara masyarakat asli yang sudah tinggal di sana berabad-abad.
Hal tersebut menjadi cermin retak bagi konflik agraria yang terus berulang di berbagai pelosok negeri. Salah satu puncaknya tecermin pada perjuangan masyarakat adat Suku Awyu di Boven Digoel dan Suku Moi di Sorong, Papua.
Dalam Gerakan All Eyes on Papua, kita menyaksikan bagaimana dokumen Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dan izin industri kelapa sawit diterbitkan secara sepihak dan meminggirkan hak-hak masyarakat adat yang bertaruh mempertahankan hutan leluhur mereka. Atas nama ‘‘pembangunan dan pertumbuhan ekonomi’’. Cara hidup masyarakat asli yang bersatu dengan alam justru dianggap tertinggal dan harus disingkirkan.
Solusi Semu dan Ketidakadilan Kebijakan
Kemarahan dalam “Tarian Penghancur Raya” makin memuncak ketika masuk ke bagian pertengahan lagu. .Feast menyentil fenomena kapitalisme hijau—kedok ramah lingkungan yang dijual korporasi hanya demi citra sok peduli, tanpa pernah membenahi kerusakan alam yang sebenarnya dan berujung sekadar greenwashing.
Trotoar lebar
bahan hijau, Tesla
Kalah cepat disalip Kuda Asia
Tewas di lampu merah garis zebra
Melalui baris tersebut, .Feast membongkar kepura-puraan industri dan gaya hidup eco-friendly ala kelas atas. Penggalan lirik tersebut secara eksplisit membongkar hipokrisi korporasi dalam isu lingkungan. Mobil listrik hingga produk berlabel ramah lingkungan dijual sebagai solusi krisis iklim, di sisi lain rantai produksi dan ekstraksi tambangnya tetap mengeruk bumi. Gaya hidup mahal itu tak lebih dari sekadar kosmetik dangkal yang tetap terjebak macet dan “tewas di lampu merah” kota.
Absurditas ini diperparah oleh ketimpangan antara aksi individu warga dan kebijakan pemerintah yang tidak proporsional.
Sedotan besi, plastic cycle tiga
Pun pepohonan tak berkuasa
Lawan kebijakan yang
bertamasya
Dalam lirik tersebut, kita disadarkan betapa konyolnya ketika masyarakat kecil dibebani rasa bersalah untuk memilah sampah dan memakai sedotan stainless steel, sementara di saat yang sama, pengambil kebijakan leluasa memberi izin pengerukan hutan skala besar demi kepentingan investasi.
Ketika hutan terus digunduli dan warga lokal dibungkam, akibatnya tak berhenti pada angka laporan di atas kertas, dampaknya berubah menjadi penderitaan nyata yang harus ditanggung warga.
O2 dijual oleh negara
Mati sesak napas tengah malam
Penggalan lirik ini terasa menohok ketika dikaitkan dengan bencana kabut asap tahunan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan baru-baru ini.
Kebakaran memang dipicu oleh cuaca ekstrem seperti El Niño. Namun, dampaknya menjadi jauh lebih menghancurkan akibat kerentanan ekosistem gambut yang sengaja dikeringkan demi ekspansi perkebunan dan tambang.
Ketika asap pekat mengepung pemukiman, warga dipaksa terbangun tengah malam dengan paru-paru yang sesak. Di titik inilah ironi lirik .Feast terasa nyata. Negara yang membiarkan alamnya terbakar demi investasi, secara tidak langsung memaksa warganya membayar mahal demi bisa bernapas. Udara bersih—hak paling mendasar untuk bertahan hidup—perlahan menjelma menjadi barang langka yang terenggut oleh keserakahan industri.
Di penghujung lagu, .Feast menutup narasinya dengan sebuah peringatan dingin:
Laut dan pegunungan kecewa
Kudeta besar alam semesta
Meleleh matikan Kutub Utara
Alam tak pernah benar-benar diam. Bencana iklim global, gelombang panas, dan hilangnya ruang hidup adalah bentuk balas dendam atau kudeta alam semesta yang telah lelah ditindas.
Melalui racikan musik gamelan-rock yang magis dan kedalaman liriknya, .Feast menghadirkan sebuah peringatan tajam yang terus bergema di tengah krisis ekologi hari ini. Ia berdiri tegak di tengah kita hari ini—sebagai cermin yang memantulkan kerusakkan, sekaligus alarm yang terus berdering menagih kepedulian kita pada bumi yang kian menua.
Mendengarkan kembali “Tarian Penghancur Raya” hari ini menghadirkan renungan yang mendalam. Lagu ini membuktikan bahwa pesannya tidak berhenti saat masa populernya usai, tetapi justru makin relevan sebagai bahan renungan kita hari ini.





