Laut Bercerita: Matilah Engkau Mati, Kau Akan Lahir Berkali-Kali

Sumber Foto: books.google.co.id

Oleh: Alayya Iqna Annajwa

Identitas Buku:
Judul Buku: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit: 2017
Kota Terbit: Jakarta
Tebal: 379 halaman; 13,5 cm x 20 cm
ISBN: 978-602-424-694-5

Siapa, sih, yang tidak kenal dengan Laut Bercerita? Berangkat dari kisah nyata, buku fiksi sejarah yang memaparkan alasan di balik aksi Kamisan ini telah sukses meraup ratusan ribu pembaca. Tercatat per Desember 2022 Laut Bercerita sudah memasuki cetakan ke-51. Laut Bercerita telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan judul The Sea Speaks His Name serta berhasil menyabet penghargaan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI Awards) sebagai Book of The Year 2022 dan penghargaan SEA Write Award pada tahun 2020. Dengan demikian perjuangan Leila S. Chudori selama lima tahun untuk menyelesaikan cerita ini terbayarkan.


Novel yang bernuansa perjuangan, persahabatan, kehilangan, cinta, dan kekeluargaan ini diangkat dari kisah nyata tragedi hilangnya tiga belas mahasiswa aktivis pada masa orde baru dengan berpondasi pada riset beserta wawancara korban selamat dan kerabat korban tragedi 1998.

Biru Laut
Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali adalah kutipan larik puisi Soetardji Calzoum Bachri yang diungkapkan Sang Penyair pada salah satu pemuda yang menyandang status sebagai mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Gajah Mada, Biru Laut Wibisana namanya. Putra keluarga Wibisana itu telah menyelami sisi gelap pemerintahan orde baru yang otoriter bersama kawan-kawannya. Laut yang pada dasarnya memiliki kecintaan pada buku-buku milik penulis legendaris, Pramoedya Ananta Toer, mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan keadilan.


Berawal dari bergabungnya Laut pada organisasi Winatra dan Wirasena, Laut mulai mengenal Alex, Sunu, Kinan, Daniel, Naratama, dan teman-temannya yang lain. Mereka memiliki hobi yang sama; memfotokopi buku-buku sosial-politik untuk dijadikan bahan diskusi, di mana pada saat itu buku-buku yang dianggap sebagai golongan ‘kiri’ diboikot peredarannya.


Demi menghindar dari kejaran intel di Pelem Kecut, Laut dan kawan-kawannya menyewa sebuah rumah yang konon katanya berhantu di Seyegan. Bukan tanpa alasan mereka memilih rumah berhantu tersebut sebagai tempat berdiskusi. Lokasinya yang jauh dari pusat kota dan harga sewa yang miring dirasa lebih dari cukup untuk menyulap Rumah Hantu Seyegan menjadi ‘markas besar’ dengan dibantu tiga seniman Taraka yaitu Abiyasa, Coki, dan yang terakhir Anjani-Si Pendongeng Ulung.


Sebenarnya kegiatan Laut menjadi bagian dari aktivis Winatra dan Wirasena telah terendus oleh Bapak dan Asmara-adiknya. Sebagai wartawan Harian Jakarta, Bapak tahu betul konsekuensi yang harus dihadapi bila berani melawan rezim keji. Berkat kepiawaiannya memainkan kata, Laut berhasil meyakinkan Bapak dan Ibu, tetapi tidak dengan Asmara.


“Pak, Bu, tenanglah. Saya masih kos di Pelem Kecut, masih kuliah, masih belajar dengan tenang agar cepat selesai. Diskusi-diskusi itu perlu agar kami belajar dengan kritis…” (hlm 75)


Pelem Kecut menjadi objek pertama yang dituju ketika Laut dan kawan-kawannya mengadakan diskusi. Namun, hari itu Pelem Kecut digerebek dengan tuduhan mereka telah merencanakan aksi keonaran buruh di Yogya. Mereka diringkus dan dikembalikan keesokan harinya setelah Kinan mati-matian meyakinkan interogator bahwa diskusi mereka tidak berbahaya.


Meskipun diskusi kwangju di Pelem Kecut sempat terbaca oleh intel, Aksi Tanam Jagung di Blangguan tetap dilancarkan oleh anggota Winatra, Wirasena, dan Taraka Yogya. Salah satu buntut dari represifnya pemerintahan Orde Baru adalah dialihfungsikannya lahan warga menjadi medan latihan tentara.


“Lahan pertanian rakyat Desa Blangguan digusur secara paksa karena daerah kediaman dan lahan mereka akan digunakan untuk latihan gabungan tentara dengan menggunakan mortar dan senapan panjang” (hlm 116)


Bisa dibilang Aksi Tanam Jagung di Blanggguan tidak berjalan mulus. Demi meminimalisir kecurigaan para ‘lalat’ mereka kembali secara terpisah. Sialnya Laut, Sunu, Julius, Bram, Alex dan beberapa anggota Winatra yang lain berhasil diringkus dan diseret ke markas tentara untuk diinterogasi. Tak hanya itu, mereka juga mendapat berbagai macam penyiksaan selama dua hari satu malam hingga mereka dikembalikan ke Terminal Bungurasih dengan keadaan mengenaskan.


Sejak saat itu organisasi Winatra dan Wirasena dicap sebagai penentang pemerintahan. Mereka mulai diintai para lalat dalam setiap gerak-geriknya. Penyebaran anggota Wirasena dan Winatra dilakukan setelah Laut diangkat menjadi Sekjen Winatra. Jakarta menjadi tujuan utama Laut kali ini.


Tak hanya sekali Laut berpindah-pindah kota hingga ke pulau Sumatra bak buronan penjara. Laut juga menggunakan nama samaran untuk mempublikasikan tulisannya dan berkomunikasi dengan anggota lain. Beberapa kawan lain seperti Sang Penyair, Julius, Narendra, Dana, Kinan, Naratama, dan Gusti hidup jauh dari radar di luar Jakarta. Komunikasinya dengan keluarga sangat terbatas sebab keselamatan mereka ikut terancam.


Hingga tanggal 13 Maret 1998 yang diingat Laut sebagai hari ulang tahun Asmara, dirinya diculik di rumah susun Klender, tempat Laut, Alex, dan Daniel menetap baru-baru ini. Sunu sudah diringkus sebelumnya, sedangkan Alex dan Daniel ditangkap paksa beberapa jam usai batang hidung Laut tak dapat ditemukan di rumah susun Klender.


Kali ini mimpi buruk Laut betul-betul dimulai, mereka menyiksanya dengan bengis, kejam, dan tak berperasaan; melolongkan nama Gala Pranaya dan Kasih Kinanti dalam setiap sesi interogasi.


“Penyiksaan mereka terasa lebih metodik dan konsisten dibanding yang kami alami di Bungurasih.” (hlm 150)


Mengguyurkan air es ke tubuh Laut, menyetrumnya, menampar wajahnya, menyudutnya, menendangnya, menginjak dadanya, hingga menggantungnya dengan kaki di atas adalah rutinitas baru bagi para penyiksa. Matanya hanya dibuka ketika ia berurusan dengan kencing dan tinja.


Laut kembali menemukan teman-temannya yang hilang secara misterius di ruang bawah tanah yang bau apak. Mereka ditempatkan dalam satu ruangan meskipun dengan sel yang terpisah bersama dua Lelaki Seibo yang menjaga mereka sepanjang waktu. Asin darah dan pedihnya pukulan para penyiksa adalah hal yang lumrah didapat setiap harinya. Penyiksaan mereka telah melampaui batas kemanusiaan.


Laut bahkan tak dapat membedakan waktu siang dan malam sebab ruang bawah tanah itu gelap sepanjang hari. Ruang bawah tanah terasa seperti neraka, mereka tinggal menunggu giliran untuk dipanggil dan diganjar siksa.

Asmara Jati
Ritual makan bersama di hari Minggu tetap berlangsung meskipun tanpa kehadiran Laut Biru. Kini ritual hari Minggu bertambah satu; ritual penyangkalan absennya Mas Laut. Asmara Jati menjadi saksi bagaimana kedua orang tuanya belum dapat mengikhlaskan kepergian Laut. Bapak bahkan menyisakan satu piring kosong ketika ritual makan bersama itu dilangsungkan.


Keadaan Anjani lebih buruk lagi, ia bahkan terlihat seperti zombie berjalan di tengah-tengah kerumunan. Sejak hilangnya tiga belas mahasiswa aktivis, termasuk Laut, Asmara bekerja sama dengan keluarga korban dan beberapa pihak terkait mendirikan lembaga Komisi Orang Hilang. Mereka mendata siapa saja korban penghilangan paksa dan laporan terakhir para saksi bertemu dengan Laut dan kawan-kawannya.

Komisi Orang Hilang bahkan menyediakan safehouse bagi korban yang berhasil kembali meski dalam keadaan menyedihkan. Dari total sembilan orang korban yang berhasil kembali, nama Biru Laut tidak termasuk di dalamnya.


Butuh waktu cukup lama untuk membuat korban selamat berani berbicara di depan publik. Ada trauma besar yang menghantui para korban. Mereka baru mulai bersuara pada konferensi pers yang digelar oleh Komisi Orang Hilang bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Hak Asasi Manusia dihadiri oleh wartawan lokal dan wartawan asing.


Meskipun kasus hilangnya tiga belas mahasiswa aktivis sudah diangkat oleh media internasional dan Presiden Soeharto secara dramatis telah mencopot jabatannya, Laut dan kawan-kawan masih belum memunculkan batang hidungnya.


“Tetapi hingga Presiden Soeharto akhirnya mundur dari jabatannya pada 21 Mei, tak ada tanda apa-apa dari mereka yang hilang.” (hlm 261)


Asmara, Alex, dan Coki dikirim ke Pulau Seribu setelah adanya penemuan tulang manusia oleh penduduk Pulau Seribu. Ada harapan mungil tumbuh diam-diam di benak keluarga korban saat itu. Namun informasi itu masih terlalu sumir meskipun berbagai macam logika telah digunakan demi menghidupkan penyangkalan lenyapnya Laut dan kawan-kawan.


“Ini informasi yang sama sekali belum menyumbang pengetahuan apa pun tentang nasib keluarga kita yang hilang.” (hlm 330)


Demi mengenang mereka yang dihilangkan secara paksa, setiap hari Kamis para orang tua, kawan, saudara, simpatisan, dan wartawan berkumpul di depan Istana Negara dengan payung hitam menaungi kepala mereka. Mempertanyakan nasib para pejuang keadilan yang dihilangkan paksa oleh rezim keji.

Buku ini dikemas dengan permainan bahasa sastra yang indah sehingga kosa kata yang digunakan tidak membosankan. Penulis berhasil membangun karakter yang kuat pada setiap tokoh dengan penggambaran suasana yang sukses membuat pembaca seolah menerobos ruang dan waktu dalam cerita. Terutama pada adegan penyiksaan para aktivis yang dideskripsikan sedetail mungkin menumbuhkan perasaan sedih, hampa, marah, tegang, dan ngilu secara bersamaan. Terlebih desain cover buku yang cantik tanpa meninggalkan makna isi buku cukup memanjakan mata para pembaca.


Namun, pembaca cukup dibuat pusing dengan alur yang cerita yang dibuat maju-mundur, perlu konsentrasi penuh untuk memahami setiap isi buku. Selain itu juga ada bagian di mana terdapat unsur dewasa dalam novel tersebut sehingga tidak layak dibaca oleh remaja di bawah umur.


Terlepas dari kekurangannya, buku ini cocok dibaca generasi muda saat ini, tentunya dengan memperhatikan batasan umur yang telah ditentukan. Sebab buku ini berperan untuk membuka mata para pemuda terhadap perjuangan para aktivis dalam melawan bobroknya pemerintahan di masa orde baru dan menumbuhkan sikap nasionalisme dalam diri generasi muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *