Sumber Foto: Kompasiana.com
Oleh: Devi Kartikasari
“Nak…” suara ayahnya nyaris tenggelam oleh kipas tua di sudut ruangan. “Kalau tahun ini kamu belum bisa lanjut kuliah … Apa kamu marah sama Bapak?”
Jati menunduk pelan.
Rumah kecil itu terasa semakin sempit malam itu. Lampu kuning lima watt menggantung redup di atas kepala mereka, sementara dari dapur terdengar letupan minyak dan suara batuk kecil ibunya yang tak kunjung reda saat menyiapkan gorengan untuk dijual esok pagi.
Ayahnya duduk di kursi plastik hijau yang sudah retak di bagian sandaran. Kaus lusuhnya dipenuhi bercak semen putih, dan telapak tangannya yang kasar terlihat gemetar kecil di atas lutut. Televisi di depannya menyala tanpa suara, membiarkan rumah mereka tenggelam dalam sunyi yang berat.
Jati menatap wajah itu lama. Wajah yang selama ini selalu ia anggap paling kuat di rumah, kini terlihat begitu lelah dan tua, seolah hidup perlahan mengikis tubuh dan keberaniannya sedikit demi sedikit.
“Nggak, pak,” jawabnya pelan. “Jati nggak marah”. Namun, suaranya serak, seolah sedikit saja ia lengah, tangisnya akan pecah begitu saja.
Ayahnya hanya mengangguk pelan. Tatapannya tak pernah benar-benar sampai ke wajah Jati, matanya terlalu malu untuk membawa kabar seberat itu. Rumah itu tenggelam dalam sunyi. Sunyi yang menggantung di dinding-dinding sempit rumah mereka, lalu jatuh perlahan memenuhi dada setiap orang di dalamnya.
Padahal beberapa minggu lalu, rumah kecil itu sempat dipenuhi suara bahagia.
***
Hari pengumuman SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi), Jati berlari kecil menyusuri gang rumah dengan napas terengah. Sandalnya nyaris putus setelah dipakai berlari dari warnet dekat pasar. Jemarinya menggenggam ponsel erat-erat, seolah takut kabar bahagia di layar itu tiba-tiba menghilang jika ia lengah sedikit saja.
“Bu! Pak!” teriak Jati dari depan rumah dengan suara bergetar. “Aku lolos!”
Ibunya yang sedang menggoreng pisang buru-buru keluar dari dapur dengan spatula masih di tangan. Minyak di wajan bahkan masih terdengar mendesis.
“Apa, Ja?”
“Aku keterima, Bu!”
Ayahnya yang baru pulang kerja berhenti tepat di depan pintu. Sepatunya belum sempat dilepas ketika Jati menyodorkan layar ponsel dengan tangan bergetar. Di sana, namanya benar-benar tertera sebagai mahasiswa baru jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di universitas negeri impiannya. Ibunya langsung memeluk Jati sambil menangis haru. Sedangkan ayahnya tertawa lepas—tawa paling bahagia yang pernah didengar Jati dari lelaki itu.
“Anak gue kuliah!” katanya bangga pada siapa pun yang lewat di depan rumah kecil mereka.
“Masuk negeri!”
Malam itu mereka merayakan kebahagiaan dengan sepotong ayam goreng, nasi hangat, dan tawa yang memenuhi rumah kecil mereka. Bagi sebagian orang mungkin biasa saja. Namun, bagi keluarga Jati, itu adalah bentuk perayaan yang jarang terjadi. Ayahnya bahkan rela mengeluarkan sebagian uang yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan beberapa hari ke depan.
“Nanti kalau Jati jadi guru, hidup kita pasti berubah,” kata ibunya sambil tersenyum.
Jati mengangguk. Ia percaya. Selama bertahun-tahun ia percaya bahwa pendidikan adalah jawaban dari semua kesulitan yang mereka hadapi. Bahwa jika ia bisa sekolah setinggi mungkin, kemiskinan yang selama ini membayangi keluarganya perlahan akan tertinggal di belakang. Ia tak tahu bahwa beberapa minggu kemudian, justru biaya pendidikan akan menjadi tembok pertama yang menghalanginya melangkah.
Di sekolah, Jati adalah murid yang selalu dijadikan contoh. Nilainya nyaris tak pernah keluar dari peringkat atas. Ia memenangkan lomba debat bahasa inggris, mengikuti olimpiade tingkat kota, dan menjadi salah satu siswa yang paling diandalkan sekolah.
“Kalau ada murid yang pasti sukses, ya Jati,” ujar wali kelasnya suatu hari. Teman-temannya percaya itu. Guru-guru juga percaya itu. Dan Jati percaya lebih dari siapa pun.
Karena itu ia belajar sekeras yang ia bisa. Malam-malam panjang dihabiskannya bersama buku-buku pinjaman perpustakaan. Ia menukar waktu bermain dengan buku-buku. Ia menukar masa remaja yang santai dengan mimpi yang terasa begitu besar. Tetapi ia tak pernah mengeluh. Baginya, setiap halaman yang dibaca adalah satu langkah menuju masa depan yang selama ini ia impikan.
Ia tahu orang miskin tak bisa menggantungkan hidup pada banyak hal. Karena itulah ia menggantungkan seluruh harapannya pada pendidikan. Bagi orang seperti dirinya, pendidikan bukan sekadar jalan menuju masa depan. Pendidikan adalah satu-satunya jalan yang tersedia. Namun, harapan yang semula terasa begitu dekat perlahan menjauh.
Beberapa hari setelah pengumuman SNBP, Jati mulai membuka kalkulator di ponselnya. Ia mencatat biaya yang harus dibayar, mencari harga kos termurah, menghitung ongkos hidup, dan menuliskan semua kebutuhan yang diperlukan untuk menjadi seorang mahasiswa. Ia menghitung berkali-kali. Mengurangi. Menambah. Menghitung lagi. Sampai akhirnya ia sadar ada satu angka yang tak pernah berubah: pendapatan keluarganya. Dan angka itu terlalu kecil untuk mengejar semua mimpi yang selama ini ia perjuangkan. Untuk pertama kalinya, Jati menyadari bahwa ‘keterima di kampus’ dan ‘bisa kuliah’ adalah dua hal yang berbeda.
Awalnya ayahnya masih berusaha menyakinkan semua orang bahwa semuanya baik-baik saja.
“Nanti dipikirin,” katanya setiap kali Jati membahas biaya kuliah.Namun, tubuh manusia sering kali mengungkapkan hal-hal yang gagal disembunyikan oleh kata-kata. Jati melihat ayahnya mulai mengambil pekerjaan tambahan. Ia pulang lebih malam, makan lebih sedikit, dan lebih sering tertidur di kursi sebelum sempat mandi. Ibunya juga menerima pesanan gorengan sebanyak mungkin. Terkadang batuknya terdengar dari dapur sampai larut malam, bercampur suara minyak yang terus mendesis di atas kompor. Mereka sedang berjuang. Dan semakin keras mereka berjuang, semakin jelas bagi Jati bahwa mereka sebenarnya tidak memiliki cukup uang untuk memenangkan perjuangan itu.
Suatu malam, suara pelan dari ruang tengah membangunkan Jati.
“Kalau motor dijual gimana?” bisik ibunya.
“Masih kurang,” jawab ayahnya.
“Tapi kalau motornya dijual, kamu kerja naik apa?”
Tak ada jawaban. Jati berdiri di balik pintu kamar dalam gelap. Ia tahu motor itu satu-satunya kendaraan yang dimiliki keluarga mereka. Kendaraan yang setiap pagi membawa ayahnya mencari nafkah dan setiap sore membawanya pulang dengan tubuh penuh debu semen.
Matanya mulai panas. Selama ini ia mengira pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia baru sadar bahwa untuk sampai ke jalan itu pun, keluarganya harus membayar harga yang nyaris tak sanggup mereka tanggung. Dan malam itu, Jati merasa mimpinya sedang meminta terlalu banyak pengorbanan.
Hari-hari berikutnya menjadi penyiksaan kecil yang datang berulang-ulang. Grup kelas dipenuhi cerita tentang masa depan. Tentang kampus, ospek, kos-kosan, dan kehidupan baru yang sedang menunggu mereka. Teman-temannya mulai mengunggah foto almamater dengan wajah penuh bangga. sebagian sudah membeli tiket keberangkatan. Sebagian lagi sibuk menghitung hari menuju perkuliahan pertama. Mereka semua sedang bersiap melangkah. Sementara Jati masih berdiri di tempat yang sama.
“Kapan berangkat, Ja?”
“Udah daftar ulang?”
“Cari kos di mana?”
Ia selalu menjawab dengan tersenyum kecil. Seolah semuanya baik-baik saja. Padahal setiap kali pertanyaan itu muncul, ada bagian dalam dirinya yang terasa runtuh sedikit demi sedikit. Karena semakin dekat hari perkuliahan dimulai, semakin jelas bahwa ia mungkin akan tertinggal sendirian.
Setiap malam, ayahnya selalu menghabiskan waktu lebih lama di teras. Ditemani lampu redup dan asap rokok yang pelan-pelan larut ke udara. Kadang ia hanya duduk menatap jalan yang sudah sepi, seolah sedang mencari jawaban dari kegelapan di depannya.
Kadang Jati memilih berpura-pura tidur agar tak perlu ikut menghitung biaya kuliah, biaya kos, dan semua kemungkinan yang berakhir buntu. Namun, suara batuk ayahnya yang semakin sering terdengar dari luar kamar membuatnya tahu bahwa lelaki itu juga tidak sedang baik-baik saja.
Mereka sama-sama terjaga. Sama-sama cemas. Dan sama-sama menunggu seseorang mengucapkan kenyataan yang selama ini berusaha dihindari. Sampai malam itu tiba. Malam ketika akhirnya tak ada lagi yang bisa disembunyikan oleh diam. Malam ketika ayahnya akhirnya membuka suara dengan sangat pelan, seolah takut kalimat yang akan keluar dari mulutnya bisa melukai anak yang paling ia banggakan.
“Nak… Kalau tahun ini kamu belum bisa lanjut kuliah… Apa kamu marah sama Bapak?”
Jati menunduk. Ia ingin mengatakan tidak. Ia Ingin meyakinkan ayahnya bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, untuk pertama kalinya, ia tak tahu bagaimana caranya berbohong. Karena ia sedih. Karena ia kecewa. Karena ia lelah. Tetapi bukan kepada ayahnya. Ia lelah kepada keadaan yang membuat dua orang yang bekerja sekeras orang tuanya masih harus memilih antara makan besok atau pendidikan anaknya.
“Nggak Pak,” jawabnya akhirnya. “Jati nggak marah.”
Ayahnya mengangguk pelan. Lalu tak ada lagi yang mereka bicarakan.Jati menunduk pelan. Di antara mereka ada begitu banyak hal yang ingin dikatakan, tetapi tak satu pun mampu mengubah keadaan. Dan kadang, kemiskinan memang membuat manusia kehabisan kata-kata.
Beberapa minggu kemudian, teman-teman Jati mulai berangkat mengejar masa depan mereka. Media sosial dipenuhi foto almamater dan gedung-gedung kampus yang menjulang. Senyum mereka tampak begitu lebar, seolah dunia benar-benar sedang membuka pintu untuk mereka.
Sementara Jati berdiri di tempat yang sama setiap pagi. Di belakang mesin fotokopi. Ditemani bunyi kertas yang keluar satu per satu. Kadang ia membantu mahasiswa mencetak tugas. Kadang ia melayani anak SMA yang sedang menyiapkan berkas kuliah. Dan setiap kali itu terjadi, ada rasa nyeri yang pelan-pelan muncul di dadanya. Bukan karena iri. Melainkan karena ia tahu, ia pernah berdiri sangat dekat dengan mimpi yang sama.





