klikdinamika.com

Tak Hanya Penayangan Film, Jagad Film Festival Adakan Diskusi di Akhir Pemutaran

Film

Sumber Foto: Zahra/DinamikA

Klikdinamika.com – Jagad Layar Sinema (JLS) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga gelar Jagad Film Festival (JFF) di gedung DPRD Salatiga, dengan pemutaran film dan diskusi bersama sutradara, Sabtu (13/6/2026).

Setelah pertama kali diselenggarakan pada tahun lalu, JFF kini kembali diselenggarakan untuk kedua kalinya. Berbeda dengan JFF tahun lalu yang bertema Inception, yang berarti permulaan, tahun ini, JFF mengusung tema Expansion yang berarti perluasan.

JFF berlangsung selama dua hari. Hari pertama diisi dengan pembukaan, penayangan dan diskusi film program pelajar, program mahasiswa, serta Forum Komunikasi (Forkom) internal Salatiga. Sementara hari kedua diisi dengan penayangan dan diskusi film program lokal Salatiga, program umum, dan program spesial. Festival ini kemudian ditutup dengan hiburan DJ Auditz. 

Tabah, ketua panitia JFF mengatakan bahwa terdapat empat film dari setiap kategori yang akan ditayangkan. Kategori tersebut meliputi kategori pelajar, mahasiswa, lokal Salatiga, dan umum.

“Kita ada beberapa kategori dari pelajar, mahasiswa, umum, dan lokal. Dari program itu nanti kita kurasi dari film-film mereka ini. Nanti kita ambil empat dari yang terbaik, dari empat itu nanti kita tayangin di sini,” ucapnya.

Eva, sie acara dalam JFF menambahkan bahwa dengan mengusung tema Expansion, mereka berharap bahwa JFF dapat dikenal luas oleh masyarakat, tak hanya di kota Salatiga, tetapi juga di seluruh Indonesia.

“Kita sekarang memilih Expansion, harapannya itu agar Jagad Film Festival lebih dikenal luas oleh masyarakat di seluruh Indonesia,” ucapnya.

Pemutaran film kategori pertama menayangkan film berjudul Jejak Alangit, Gema, Kapsul Waktu, dan Unloved Love. Dilanjutkan diskusi bersama dengan sutradara penggarap keempat film tersebut. 

Diskusi berjalan baik karena penonton aktif memberikan pertanyaan terkait produksi film, dan tantangan yang dihadapi khususnya sejak masuknya Akal Imitasi (AI) pada industri perfilman.

Sein, salah seorang peserta, mengaku bahwa dirinya terbantu dengan sesi diskusi karena dapat bertanya langsung kepada sutradara.

“Diskusinya tentu bakal membantu, karena kita tidak hanya sekedar nonton filmnya, kita bisa bertemu dengan kreator film tersebut, bisa bertanya langsung dengan kreatornya tentang tantangan, alasan dari pembuatan filmnya itu yang membuat akhirnya asik juga. Jadi kita nggak hanya sekedar tahu tentang hasil akhir dari filmnya kita bisa tahu alasan lain-lain,” ungkapnya.

Sein juga memberikan harapan agar nantinya JFF dapat terus ada dan menjadi lebih baik lagi setiap tahunnya. 

“Karena JFF ini kan bisa dibilang satu-satunya di Salatiga, dan ini juga baru tahun keduanya. Harapannya semoga langgeng JFF ini, terus bertahan sampai tahun-tahun kedepan dan terus berbenah menjadi lebih baik lagi,” ucap Sein. (Zahra/Erick/Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *