Sumber Foto: Didot Klasta/Istimewa
klikdinamika.com – Aliansi Salatiga Menggugat menggelar serangkaian aksi demonstrasi di sejumlah titik. Aksi yang membawa berbagai tuntutan ini sempat diwarnai ketegangan hingga berujung kericuhan antara massa dan aparat keamanan di Kota Salatiga, Rabu (17/8/2026).
Aksi kali ini menuntut dua ranah isu sekaligus, yakni isu nasional mencakup penolakan Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) kemudian juga memprotes kenaikan bahan pokok, hingga kenaikan harga BBM,
Di ranah isu lokal aksi massa menuntut adanya tindak lanjut dari Pemkot Salatiga untuk menyelesaikan permasalahan mengenai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngronggo, kemudian juga mempertanyakan transparansi anggaran pengadaan barang dan jasa.
Rangkaian aksi dimulai sejak pagi hari. Setelah massa berkumpul di Gedung Korpri Salatiga. Mereka mulai bersiap dan melakukan mobilisasi pada pukul 10.05 WIB. Hanya berselang dua menit, tepatnya pukul 10.07 WIB, massa aksi langsung beranjak menggunakan kendaraan menuju Bundaran Tugu Jam Tamansari.
Setibanya di Bundaran Tugu Jam Tamansari, massa langsung mengepung lokasi dengan berjalan mengelilingi bundaran sembari menyuarakan orasi-orasi secara bergantian.
Pada pukul 10.24 WIB, setelah beriringan mengelilingi bundaran, massa melakukan aksi simbolik dengan mematikan mesin dan mendorong sepeda motor mereka menuju Gedung DPRD Salatiga.
Sepanjang perjalanan menuju Gedung DPRD Salatiga, jalanan riuh oleh suara klakson yang dibunyikan secara bergantian dan serentak, diselingi orasi-orasi dari atas mobil komando.
Mengenai aksi dorong motor, Memo, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang turut turun ke jalan, menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan simbol dari beban hidup rakyat yang kian berat dikarenakan hampir seluruh harga sembako mengalami kenaikan harga.
“Pesan di balik itu sebenarnya kami mau mengatakan bahwa ketika harga sembako naik atau ketika harga BBM naik, maka masyarakat sipil itu tidak mampu untuk membeli BBM, sehingga itu merupakan simbolis yang kami lakukan untuk mensimboliskan kondisi masyarakat ketika suatu saat nanti BBM ini sudah langka,” jelasnya.
Massa aksi akhirnya tiba dan memadati area depan gerbang Gedung DPRD Salatiga pada pukul 10.50 WIB. Di lokasi ini, massa melanjutkan orasi dengan pengawalan ketat dan secara tegas meminta perwakilan dari Pemkot Salatiga untuk turun langsung menemui mereka di lapangan.
Namun, hingga sembilan menit berlalu, tidak ada satu pun perwakilan Pemkot yang datang menemui massa. Merasa diabaikan, ketegangan mulai menyulut amarah massa aksi. Mereka mencoba memaksa masuk melewati gerbang utama, hingga akhirnya terjadi aksi saling dorong dan massa dipaksa mundur oleh aparat kepolisian dibantu personel TNI.
Memo menjelaskan alasan massa memaksa memasuki pelataran Gedung DPRD. Menurutnya, upaya memasuki pelataran Gedung DPRD dimaksudkan agar jalannya aksi yang lebih kondusif dengan tidak mengganggu laju kendaraan. Akan tetapi upaya tersebut dihalangi oleh aparat kepolisian dan TNI.
“Sedari awal kami datang di depan kantor Wali Kota ini kami sudah mengatakan bahwa kami ingin masuk ke dalam supaya tidak mengganggu laju kendaraan yang ada dan supaya lebih kondusif, akan tetapi respons yang kami dapatkan adalah bahwa aparat-aparat kepolisian dan TNI tidak mengizinkan kami masuk ke dalam dengan alasan yang tidak pasti, dengan alasan mengatakan untuk menjaga kondusifitas padahal secara logika kami rasa lebih kondusif,” terang Memo.
Sebagai bentuk kekecewaan atas penolakan tersebut, massa kemudian melakukan aksi simbolik dengan membakar ban di depan gerbang. Situasi kian memanas ketika aparat merespons tindakan tersebut dengan memadamkan api secara paksa.
Memo turut menyayangkan respons aparat yang berlebihan, hingga membahayakan aksi massa. “Kami menyayangkan adanya aksi dari aparat tentara menyiram APAR yang kemudian itu terkena pada teman-teman kami,” tegasnya.
Tindakan represif pemadaman paksa tersebut langsung memicu kericuhan antarkedua belah pihak pada pukul 11.04 WIB. Kericuhan berlangsung selama lebih dari sepuluh menit, situasi baru perlahan mereda setelah kehadiran perwakilan Pemkot, yakni Robby selaku Wali Kota Kota Salatiga pada pukul 11.14, yang akhirnya turun langsung ke lapangan untuk menemui massa aksi.
Namun, hanya Wali Kota dan Ketua DPRD yang turun menemui massa. Wakil Wali Kota tidak terlihat di lokasi. Kondisi itu memicu protes dari peserta aksi, massa terus melayangkan pertanyaan terkait ketidakhadiran Wakil Wali Kota untuk berdialog. Setelah beberapa kali didesak, Wakil Wali Kota akhirnya keluar dari gedung dan baru bergabung pukul 11.25 WIB. Ia turut duduk melingkar bersama Wali Kota, Ketua DPRD, perwakilan TNI, dan para demonstran di halaman depan gerbang DPRD.
Riski, koordinator lapangan (korlap) aksi mengungkapkan ketidakpuasannya atas diskusi, sekaligus menegaskan akan mengawal bersama tindakan pemerintahan dalam mengawal isu.
“Saya rasa sebagai korlap merasa belum cukup, kita harus terus mengawal dan follow up bagaimana tindakan daripada pemerintah kota salatiga dan DPRD untuk mengawal isu yang sudah kami sampaikan,” tegas Riski.
Polisi Kembali Halangi Aksi Simbolik Massa
Dialog dengan Pemkot selesai pada pukul 13.18. Usia dialog, massa aksi kembali melakukan pembakaran ban untuk kedua kalinya. Aksi bakar ban tersebut disampaikan demonstran sebagai bentuk ekspresi dan simbol protes. Namun, aksi bakar ban tersebut tidak berlangsung lama karena aparat merepresi aksi simbolik tersebut.
Tepat pukul 13.20 WIB situasi memanas kembali ketika aparat kepolisian tiba-tiba muncul dengan membawa tameng. Aparat langsung membentuk barikade mengelilingi ban yang terbakar. Bentrok pun terjadi kembali. Pihak kepolisian berupaya memadamkan api menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Upaya pemadaman paksa itu memicu aksi saling dorong antara polisi dan demonstran, sehingga kericuhan kembali pecah di jalanan depan Gedung DPRD Salatiga. Saat itu sempat terjadi rebutan APAR antara aparat dan demonstran, hingga semburan APAR mengenai demonstran yang berada di dekatnya.
Riski mengecam tindakan aparat yang akhirnya menimbulkan kericuhan tersebut. Menurutnya aparat tidak paham mengenai apa yang ingin disampaikan oleh massa aksi.
“Aparat itu tidak paham dengan kami, kami ingin membakar ban itu bentuk simbolis kekecewaan kami dan bentuk semangat kami untuk mengawal kebijakan pemerintah. Akan tetapi aparat tiba-tiba mematikan (red: api pembakaran ban) dan akhirnya menjadi sebuah kericuhan karena teman-teman tersulut kemarahannya,” kecamnya.
Situasi mulai melandai dan kembali damai pukul 13.25 WIB. Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, kemudian membacakan pernyataan sikap yang dibuat demonstran di hadapan massa. Setelah pembacaan selesai, Wali Kota menandatangani surat pernyataan tersebut.

Dari kiri; Dance Ishak Palit, Nina Agustina, dan Robby Hernawan
Penandatanganan surat tersebut menutup rangkaian aksi. Demonstrasi berakhir dan massa aksi mulai membubarkan diri meninggalkan area depan gedung DPRD Salatiga secara tertib pada pukul 13.35 WIB. (Radhit/Devi/Red)





