klikdinamika.com

Gema Yang Membawa Luka #Bagian 2

Yang

Ilustrasi: Aulia Ulfa

Oleh: Achaaa

Piyarr

Suara gelas kembali dilempar

“Bulan, Bulan, keluar kau, Nak.” Suara bapak terdengar marah, tak sabar.

“Keluar, Bulan, jangan jadi anak durhaka kau.”

Baru beberapa jam bapak datang sudah membuatku muak. Aku keluar, membiarkan Caya tetap berada di kamar. Aku tak mau ia mendengar semua pembicaraan bapak dan mamak. Caya kubawa ke kamar setelah merasakan ketegangan antara mamak dan bapak. Ia kusuruh menutup telinganya dengan selimut yang ada. 

“Tutup telingamu dengan ini ya, jangan dengarkan suara bising di luar.”

Ia menatapku lama, menganggukan kepala, menyetujuinya.

“Pintarnya Caya, kakak keluar dulu ya”

..

Benarlah sudah, tempat ini sudah tak bisa di bilang rumah. Pecahan kaca ada dimana-mana, mamak terlihat lelah, bapak tak habis-habis memecahkan semua barang yang bisa menyalurkan amarahnya. Bapak tak pernah bermain tangan kepada mamak, tapi ia selalu membanting atau merusak sesuatu untuk menyalurkan amarahnya.

“Jawab bapak, kau mau ikut bapak atau mamakmu ini?”

Aku diam, pertanyaan macam apa ini. Aku masih kecil, belum mengerti apa yang mereka bicarakan. Apa maksud perkataan bapak tadi, apakah aku disuruh memilih antara bapak dan mamak. Bagaimana bisa, mereka orang tuaku, tak mungkin aku hanya memilih salah satunya saja. Apa bapak sudah tak waras, hingga menyuruhku memilih satu diantara mereka.

“Kak, kakak ikut mamak aja ya, Kak,” usap mamak pelan, mencoba memelukku.

“Biarkan dia yang milih.” Bapak datang, hampir saja menendang mamak.

Sungguh aku benci suasana ini, rasanya aku ingin menghilang dari sini saja. Mereka sama sekali tak memikirkan kami, mereka tak tahu seberapa besar mental kami kena. Mereka tak tahu atau pura-pura tak tahu sedang membuat danau luka bagi anak-anaknya. Aku tak menjawab mereka, aku pergi keluar, aku tak peduli teriakan bapak, rengekan mamak, sungguh aku tak peduli, aku mencari sahabatku, Bubu. Tapi sayangnya kala itu takbir bergema di mana-mana, pertanda awal bulan tiba, aku lebih benci lagi, aku tak menemukan bubu di atas sana.

Namun tuhan menggantinya dengan hal yang jauh lebih indah, Bintang-bintang kecil itu berkumpul, seperti membuat bentuk seseorang yang tersenyum. Aku pun ikut tersenyum, menguatkan hati, sejenak hilang gundah gulanaku, sejak itu aku mencintai mereka, aku seperti menemukan tempat pulang. Aku menceritakan perjalananku pada malam-malam yang panjang itu.

“Dasar mamak dan anak yang tak tahu diuntung,” ucap bapak lalu membanting pintu, melenggang pergi.

…..

Langit yang tak pernah berubah selama 20 tahun ini sejak kejadian itu, aku menatapnya lagi. Sudah habis air mataku menangis mengenang masa-masa itu. Aku memutuskan keluar rumah, tepat tiga tahun yang lalu, setelah lebaran. Aku sudah lelah dengan drama mereka, Caya sudah tiada, jadi tak ada alasan untukku bertahan di rumah itu. Aku sebenarnya tak peduli dengan pertengkaran mereka, tapi kenapa harus di depan kami. Kenapa kami juga menjadi korban dari keegoisan bapak dan mamak? Lebih baik mereka berpisah, daripada kami harus melihat pertengkaran itu terjadi.

“Bub kau tau kan bagaimana orang tua ku berubah, setiap malam aku bercerita denganmu loh.” Bulan melanjutkan ceritanya.

“Semenjak itu suasana di rumah tak lagi nyaman, Bub, mereka ada tapi suasana keluarga menghilang.”

Aku menghela napas, aku tahu tak kan ada jawaban, bahkan ia pun tak kan menampakkan dirinya. Sayup-sayup gema sudah tak seramai tadi, tapi tetap terdengar ditelingaku.

“Tak apa, Bub, walau kau tak menampakkan wajahmu aku akan tetap cerita. Aku yakin kau akan mendengarnya, aku akan menepati janjiku waktu itu. Kuceritakan semuaya.”

“Kalau mereka di rumah hanya ribut yang ku tahu, tak seperti keluarga lain yang menyempatkan waktunya untuk saling bertukar cerita.”

“Kalau boleh memilih, aku tak ingin dilahirkan dari keluarga ini, Bub.”

“Kau ingat malam ketika ulang tahunku, ia tiba-tiba datang, lalu marah-marah tak jelas, saat itu Bulan kecil sedang menangis. Bapak tak suka berisik suara tangis, ia mengambil cabai di dapur, menyuruhku diam, saat itu rasanya sesak, Bub, sulit sekali untuk berhenti dari tangis. Bapak yang tak sabar langsung menyuap paksa dengan cabai yang dibawanya.” Bulan menangis untuk kesekian kalinya, tak ada yang disembunyikan dari Bubu. Hanya padanya segala cerita Bulan tumpahkan.

“Ada lagi Bub, malam lebaran tiga tahun yang lalu. Ia datang sama seramnya dengan sebelumnya, aku tak pernah bertanya alasan marah-marahnya apa, saat itu aku sedang tidak di rumah, hanya Caya yang sedang membantu mamak. Lagi-lagi bapak membanting segala barang yang ada, memarahi mamak, mencaci maki seenaknya. Caya tak tahan, ia sudah lebih besar dibanding saat bersamaku di kamar itu. Ia membalas omongan bapak, bapak yang tak suka membentaknya hingga membuat penyakit jantung nya kambuh.” Ceritanya terhenti, tapi ia tak bisa memendamnya sendiri.

“hufft.” Bulan menarik nafas, lalu menghembuskannya pelan. Berusaha menstabilkan detak yang tak karuan ritmenya.

“Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya, Bub? Kau tahu?!!”

“Caya tak terselamatkan, sejak jantungnya kambuh Caya di bawa ke puskesmas terdekat. Namun penangannya kurang, saat itu mamak juga sedang tidak punya uang. Mamak sudah mencari pinjaman kemana-mana tapi tak ada yang bisa membantu. Caya dengan tersenyum berkata kepada mamak bahwa ia akan sembuh, ia baik-baik saja. Ia bilang ini hanya gejala seperti biasa, nanti juga akan sembuh. Namun, kami tertipu dengan senyum manisnya, nyatanya itu senyum termanis yang pernah kulihat untuk terakhir kalinya.”

“Bub aku kakak yang jahat, tak bertanggung jawab, tak bisa melindungi Caya, aku gagal bub, gagal. Jantungnya memang sudah lemah dari ia lahir, bapak tak tahu, mamak ingin memberi tahu bapak tentang Caya tapi belum menemukan waktu yang pas. Bapak juga tak pernah peduli tentang keadaan anak-anaknya. Ia hanya peduli pada uang dan kesenangan dirinya.”

“Entah apa yang membuat bapak sadar, Bub, setelah ia mengunjungi makam Caya itu, ia langsung pergi menyerahkan diri ke kantor polisi. Aku hanya berharap ia bisa benar-benar berubah. Aku membenci laki-laki karena bapakku, Bub, sosok yang seharusnya menjadi pelindung keluarga tak lain adalah pembawa traumaku. Sejak itu, aku menganggap semua laki-laki sama seperti bapakku. Mereka keras, kasar, dan tak punya hati.”

Bulan mulai lega, segala sesak mulai lepas dari ikatan itu satu persatu. Ia mulai tersenyum, memandang langit penuh harap

“Maaf ya, Caya, kakak banyak salah denganmu. Kakak selalu mendoakanmu, Dek, semoga di malam lebaran ini dan malam-malam selanjutnya hanya senyum dan tawa yang kau ingat dariku. Kakak sedang belajar untuk berdamai, tak mudah, sungguh tak mudah. Tapi kakak sudah mulai terbiasa dek, kamu juga harus selalu tersenyum di alammu ya. Kamu bidadari kecil yang kakak punya, pemilik senyum termanis sedunia.”

Kriing, kriing

Suara alarm dari gawainya berbunyi, menunjukan kini sudah pukul tiga pagi. Tak terasa entah berapa jam ia menghabiskan waktu disini.

“Ternyata sudah pagi, aku akan istirahat sebentar, Bub. Sepertinya tuhan sudah mengirim sedikit lega dihatiku, tak sesesak tadi. Hari ini aku akan pulang bub, sepertinya ini keputusan yang baik. Aku teringat perkataan kak Dinda tadi, aku harus pulang, Bub,” ucap bulan lalu beranjak. 

Bulan mulai belajar menerima segalanya, walaupun perkembangannya lambat. Setidaknya hatinya sudah mulai lega, tak sesakit dulu, mentalnya pun berangsur membaik tak sehancur dulu. Kini ia perbaiki pelan-pelan, mencari energi positif dari segala macam tempat. Ia sekarang rajin pergi ke konselor, mengikuti kajian-kajian keagamaan dan mencari relasi yang lebih banyak. Mungkin ia tak menyukai keluarganya, tapi ia tak bisa memilih mau lahir dari orang tua yang mana. Dari sini ia mendapat banyak pelajaran tentang kehidupan, ada kalanya ia pernah hancur, ada kalanya juga ia bangkit menjadi lebih baik. Dan sekarang ia berterima kasih kepada tuhan, atas segala cerita yang pernah ada.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *