klikdinamika.com

Mata Yang Ditutup, Luka Yang Terbuka

Perempuan

Ilustrasi: Aulia Ulfa

Oleh: Thilal Asy Syifa Salsabila Santoso

Kini aku berdiri di tengah jalan, jalan yang besar dan penuh dengan orang-orang yang berlalu lalang. Wanita, pria, anak-anak, lansia, semuanya tak luput dari pandanganku. Wajah manusia itu menarik. Mereka menunjukkan ekspresi yang memukau, terlepas dari usia mereka. Senang, sedih, lelah, kecewa, bahagia, semuanya tampak jelas ketika kau memperhatikan gurat-gurat wajah itu. Kulihat temanku yang membantuku memasang sepotong kain untuk menutupi pandanganku. “Mengapa banyak manusia bejat yang lebih memperhatikan bentuk tubuh dan memikirkan hal-hal tidak senonoh ketimbang memperhatikan emosi yang tercetak jelas pada wajah orang-orang itu?” Temanku hanya terdiam, mungkin dia tidak tahu harus menjawab apa, atau mungkin memang tidak ingin menjawab.

Hari ini adalah hari spesial, ketika International Women’s Day diperingati setiap tahunnya. Kami—aku dan temanku maksudnya—mengadakan eksperimen kecil yang terinspirasi dari eksperimen sosial di TikTok, yaitu dengan menjadikan seseorang berdiri di tengah jalan sembari menutup mata, menyediakan tiga piring besar berisi cat berwarna ungu, hijau, dan kuning. Temanku bertanya apakah aku sudah siap untuk menunjukkan tulisan besar pada orang-orang yang ada di balik kertas. Aku mengangguk, bersiap untuk membalikkan kertas, sementara temanku menjauh beberapa langkah untuk mengambil momen-momen itu dengan kameranya.

Ketika kubalikkan kertas putih dengan tulisan, “Jika kau pernah mengalami kekerasan atau pelecehan, silakan tinggalkan jejakmu padaku,” eksperimen kami dimulai. Selama beberapa menit, tidak ada yang menyentuhku dengan cat yang telah kami sediakan. Aku sempat merasa senang, mengira tidak ada orang yang mengalami pelecehan. Namun perasaan itu runtuh ketika kurasakan seseorang menyentuh pahaku. Aku tercengang, membeku. Ada seseorang yang pernah mengalami pelecehan, korban itu disentuh pada pahanya tanpa izin.

Tak berselang lama, seseorang datang lagi, kini ia meninggalkan jejak pada pipi dan pinggangku. Aku menelan ludah, turut merasakan kesedihannya. Ia mengalami pelecehan pada area itu. Kehadirannya terasa selama belasan detik sebelum akhirnya meninggalkanku sendirian lagi di tengah jalan.

Sebelum eksperimen ini dimulai, kami memang sudah sepakat untuk memberiku waktu selama aku sanggup berdiri. Namun semakin banyak orang yang menyentuhku, semakin aku merasa tidak kuat, semakin aku ingin pergi dari sini. Aku ingin menangis, ingin mengeluarkan isi hatiku. Tuhan, mengapa begitu banyak manusia bejat yang melecehkan orang-orang ini? Aku berusaha menahan air mata, tetapi tak kunjung kuasa kutahan ketika seseorang menyentuh area kedua dadaku. Itu dia, seseorang pernah merasakan pelecehan di bagian paling sensitif tubuhnya. Aku menangis sejadi-jadinya, membiarkan kain yang menutupi mataku menjadi basah.

“Kau berhak mendapatkan rasa aman atas setiap perjalananmu,” gumamku, sebelum orang itu mengucapkan terima kasih dan beranjak pergi.

Setelah dirasa cukup lama, aku membalikkan kertas yang kupegang dan menaruhnya ke bawah, pertanda eksperimen ini berakhir. Kulepas kain yang menutupi penglihatanku, menatap tubuhku yang telah dipenuhi cat tiga warna.

“Miris,” ujar temanku, matanya tampak sedikit bengkak seperti seseorang yang baru saja menangis. “Mereka pantas mendapatkan sesuatu yang baik di setiap perjalanan. Semoga kedamaian selalu menyertai mereka.”

Aku mengaminkan ucapannya dalam hati.

Setelah membereskan peralatan dan membersihkan area sekitar, kami berjalan pulang dengan perasaan sedih. Tak banyak bicara di antara kami. Kami memilih merenung, membayangkan berada di posisi korban, dan mempertanyakan kebijakan moral manusia. Jalanan masih ramai seperti sebelumnya, tetapi hatiku dilanda perasaan tak nyaman, sehingga pemandangan yang semula tampak menyenangkan kini terasa seperti pola kriminal yang berulang.

Hal biasa ketika mendapati satu atau dua orang menggelar permainan musik kecil di tepi jalan. Biasanya aku hanya mengabaikannya, berlalu tanpa berminat memperhatikan walau hanya satu menit. Namun kali ini berbeda. Apa yang dinyanyikan seorang gadis remaja di sana adalah lagu yang cukup memilukan—lagu yang menggambarkan kemarahan dan kelelahan perempuan akibat ketimpangan gender serta beban kerja ganda dalam hubungan patriarki—membuatku memutuskan untuk berhenti sejenak.

Temanku turut memperhatikan di sebelahku, menghela napas panjang. “Kau tahu? Banyak yang bilang, menikah adalah satu-satunya cara agar wanita bisa hidup dengan aman. Faktanya, kita masih menemukan berita tentang relasi patriarkal, dan pelakunya sering kali justru orang terdekat.” Ia memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan. “Patriarki, pelecehan, pembungkaman hak kesetaraan gender… semua ini mengerikan. Perempuan harus menjelaskan setertutup apa pakaiannya sebelum mengalami pelecehan. Wanita harus menanggung beban rumah tangga sendirian dengan dalih kewajiban. Dan masih banyak yang menyangkal bahwa kesetaraan gender bagi perempuan dianggap tidak adil bagi laki-laki. Menghargai sesama manusia saja seolah sulit dilakukan.”

Aku tak langsung menanggapi. Kurangnya edukasi, kesadaran, dan empati mungkin membentuk perilaku seperti itu. Tuntutan agar perempuan diam di rumah seakan mereka hanyalah alat bagi lelaki membuat mereka bersuara, sebagai pengingat bahwa mereka bukan alat, mereka manusia.

Langit siang itu terlihat sedikit gelap. Aku menepuk bahu temanku tanpa mengalihkan pandangan. “Mari kita renungkan di tempat lain.”

Ia mengangguk.

Kami berjalan menjauh dari keramaian itu, menyisakan jalanan yang tetap riuh, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Orang-orang masih tertawa, kendaraan tetap berlalu, dan dunia berjalan dengan ritmenya sendiri. Tak peduli pada jejak cat yang menempel di pakaianku, tak peduli pada tangis yang sempat pecah di tengah jalan. Aku menunduk, memperhatikan tanganku sendiri. Cat sudah mulai mengering, membentuk pola-pola asing yang tak pernah kuminta. Aku membayangkan jejak serupa yang tak terlihat, yang melekat di tubuh dan ingatan orang-orang yang tadi menyentuhku. Jejak yang tak bisa dibilas air, tak bisa dihapus dengan sabun.

Di kejauhan, suara nyanyian itu masih terdengar samar, terbawa angin. Liriknya bercampur dengan langkah kakiku, membentuk irama ganjil yang membuat dadaku terasa sesak. Aku tak lagi menoleh ke belakang. Bukan karena tak peduli, tetapi karena terlalu banyak yang tertinggal di sana. Langit semakin gelap, meski hari belum benar-benar sore. Kami terus berjalan, membiarkan keheningan menggantikan kata-kata yang tak sanggup kami ucapkan.

Dan di setiap langkah itu, aku membawa satu harapan kecil yang rapuh, tetapi keras kepala. Semoga suatu hari nanti, perempuan tak perlu berdiri diam dengan mata tertutup hanya untuk didengar.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *