Sumber Foto: Kamal/DinamikA
Klikdinamika.com–Mekanisme distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 3 Salatiga mengalami penyesuaian selama bulan Ramadan. Jika pada hari biasa makanan disajikan dalam bentuk siap santap saat jam istirahat kedua, selama Ramadan menu dibagikan dalam bentuk makanan kering untuk dibawa pulang, Kamis (26/2/2026).
Sekolah menerima porsi sebanyak 818 makanan untuk siswa, guru, dan pegawai yang didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Kecandran. Pihak sekolah membentuk tim kecil yang dinamai Person In Charge (PIC) untuk memastikan makanan layak untuk dikonsumsi.
“Di sekolah kami membentuk tim kecil seperti guru biologi dan lulusan perawat, bersama saya mengecek kelayakan setiap makanan yang sampai,” ungkapnya.
Danny Pranindyo, Ketua PIC MBG SMPN 3 Salatiga, menjelaskan, pada hari normal MBG dikirim sekitar pukul 11.00 dan dibagikan kepada siswa pukul 12.00 saat istirahat kedua. Selama Ramadan, menu diubah menjadi makanan kering seperti roti, susu, tempe kering, atau telur rebus dan buah. Mekanisme pembagian juga dilakukan saat siswa pulang sekolah sekitar pukul 11.30 untuk menghindari konsumsi di lingkungan sekolah.
“Selama bulan puasa ini bentuknya kering, dibawa pulang. Karena takutnya anak-anak tuh mokel, makanya dibawa pulang langsung,” kata Danny.
Program MBG diberikan kepada seluruh siswa tanpa membedakan latar belakang agama dengan sistem dan paket yang sama.
“Walaupun tidak semuanya berpuasa, pembagiannya tetap sama dan selama ini tidak ada masalah,” tambahnya.
Dari SPPG Kecandran sendiri juga memberi kesempatan kepada SMPN 3 Salatiga untuk memberikan usulan menu MBG. Danny mengatakan, biasanya pihak sekolahnya meminta foto menu terlebih dahulu kepada pihak dapur.
Meski secara umum pelaksanaan berjalan lancar, pihak sekolah mengakui sempat menemukan menu telur puyuh yang bau dalam paket makanan. Danny menjelaskan, telur yang bau sebelumnya karena ada sebagian kecil telur yang awalnya memang sudah bau, tetapi karena direbus secara bersamaan, sehingga semua telur ikut terkena imbasnya.
“Memang ada (red: telur) yang bau dan ada yang ndak, enggak semua ya. Kalau bau itu dari mentah biasanya sudah bau. Kalau enggak bau, walaupun enggak mateng tetep enak tho ya. Karena memang dari awalnya cuma satu-dua yang bau, digodog bareng jadi bau semuanya,” terangnya.
Athala, siswa kelas 8D menyebutkan apa saja menu MBG selama Ramadan sejak hari pertama. Ia mengutarakan sempat dapat telur puyuh yang bau, sehingga ia buang. Ia juga berharap menu kedepannya bisa lebih enak
“Hari ini dapat telur mas, jeruk, karo iki mas, roti. Kemarin-kemarin dapat susu, roti. Kalau bisa dapat lebih enak. Telur puyuh yang kemarin itu iya dibuang,” ucapnya sepulang sekolah.
Anisa Cahaya, siswi kelas 9 mengatakan tidak semua paket mengalami kendala. “Ada beberapa yang iya (red: bau), ada beberapa yang enggak. Katanya wali kelas dicium dulu, kalau enggak ada bau itu boleh dimakan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, selama Ramadan tetap menantikan pembagian MBG. “Puas banget, enak banget. Nunggu jam pembagian MBG, soalnya menu-menunya enak semua,” kata Anisa. (Kamal/Negla/Budi/Red)





