Ilustrasi: Aulia Rahma
Oleh: Aulia Rahma
Namanya hidup,
pasti akan dihadapkan oleh perpisahan.
Cepat atau lambat,
semua akan sibuk dengan urusannya masing-masing
pergi,
seolah kita tak pernah benar-benar penting
untuk ditunggu lebih lama.
Entah karena cinta,
atau cita-cita,
atau mungkin karena memang sudah waktunya
bahkan bayangan pun tahu caranya meninggalkan,
saat malam datang
dan kita sendirian dengan pikiran sendiri.
Perpisahan itu tidak pernah absen,
ia selalu ada
di setiap kehidupan seseorang.
Kita hanya diberi pilihan yang sama:
menjalaninya dengan berat,
atau meratapinya
tanpa benar-benar bergerak.
Namun waktu tidak punya belas kasihan.
Ia tetap berputar,
tanpa peduli siapa yang tertinggal di belakang
mereka yang berhenti di tengah jalan,
sibuk mengumpulkan sisa-sisa
yang sebenarnya sudah tidak utuh.
Dunia berjalan bersama takdir,
tanpa menunggu kesiapan kita.
Siap atau tidak,
ikhlas atau tidak,
langkah tetap harus dilanjutkan,
meski hati masih tertinggal di tempat yang sama.
Ada hal-hal yang tak bisa dilawan,
norma yang harus dipatuhi,
arah yang tak selalu bisa dipilih
karena pada akhirnya
manusia hanya sekadar menumpang.
Dan ketika perjalanan ini selesai,
kita akan mengerti
bahwa semua yang datang
memang tidak ditakdirkan untuk tinggal.
Lalu, di satu titik yang tak bisa ditolak, bisa
kita hanya akan diam,
menunggu kereta kencana itu datang,
membawa kita pergi
tanpa bisa meminta untuk kembali.





