Sumber Foto: Pinterest
Oleh: Siti Efrilia
“Hei, sini merapat dulu. Aku punya cerita tentang dua rubah egois yang suka bermain tarik tambang.” Kiki berkata kepada dua temannya untuk mendekat, bantal sudah ia pangku di atas paha, wajahnya mulai serius akan menceritakan sebuah cerita yang sepertinya cukup menakjubkan baginya.
Ale dan Dini, dua temannya yang baru saja masuk kos menatap Kiki keheranan, tapi tetap mendekat kearah Kiki, bergabung bersama perempuan itu di atas tempat tidur, mengabaikan ransel yang masih melekat di punggung, siap mendengarkan cerita terbaru dari Kiki.
“Jadi bagaimana ceritanya?” Dini bertanya penasaran. Meraih boneka yang akan ia jadikan tumpuan selama mendengar cerita Kiki.
“Pada suatu hari, ada seekor rubah jantan yang tertarik dengan seekor rubah betina.”
“Yaaah, ini pasti cerita pasaran yang membosankan,” cibir Ale sambil merebahkan badannya, tak minat dengan cerita yang akan Kiki bawakan.
“Hei, tunggu dulu. Itu kan baru awal mula, kamu harus mendengarkan sampai selesai.”
Ale mendengus, lalu mencoba menebak alur cerita Kiki, “Oke, jadi rubah jantan tertarik kepada rubah betina, pasti rubah jantan itu mendekati rubah betinanya, kan?”
Anggukan antusias dari Kiki membuat Ale menghembuskan napas sebal, “Tukan, ceritamu pasaran.”
“Bisa dengarkan dulu tidak sih, berisik kamu, Le.” Dini menyahut ketika Ale terus-terusan memotong cerita Kiki.
“Yaps, seperti yang dikatakan Ale, rubah jantan mendekati rubah betina. Berbagai macam trik digunakan untuk memikat rubah betina. Mulai dari menyisakan makanan yang ia cari untuk diberikan kepada rubah betina, mengikuti ke mana pun rubah betina pergi, dan bersiap jika rubah betina butuh pertolongan, bahkan menjaga rubah betina saat kehujanan. Semua rubah jantan lakukan untuk rubah betina, sampai si rubah betina luluh dan menerima cinta dari rubah jantan.”
“Kedengarannya klise sekali.” Ale kembali mencibir. Tangan Dini sudah bersiap membungkam mulut Ale, tapi gadis itu segera menoleh, menghindar dari tangan Dini.
“Mereka menjalin hubungan?” Dini bertanya.
Kiki mengangguk, “Mereka menjalin hubungan, semua kegiatan mereka lakukan bersama-sama. Rubah jantan dan rubah betina membutuhkan satu sama lain.”
“Mereka saling memperkenalkan kawan dan keluarga masing-masing. Tapi, suatu hari, hubungan mereka terancam harus berpisah, rubah betina menerima sebuah permata cantik dari rubah jantan lain, sebut saja Rukasa. Rubah betina suka sekali dengan permata yang diberikan Rukasa.”
“Pasti Rubah betina itu kini lebih memilih Rukasa daripada rubah jantan?” tebak Ale yang mendapat tepukan tangan dari Kiki karena berhasil menebak ceritanya.
Ale memutar bola matanya malas dan berbalik memunggungi Kiki dan Dini, nampaknya gadis itu mulai muak dengan alur cerita Kiki. “Karena rubah betina lebih memilih Rukasa, akhirnya Rubah jantan marah. Ia pergi karena sakit hati melihat rubah betina lebih memilih Rukasa,”
“Kasian sekali rubah jantan itu.”
Kiki bergumam menyetujui pendapat Dini, “Iya, tapi dari situlah muncul sayembara yang membuat seisi hutan tertarik melihatnya.”
Ale yang tadi memunggungi mereka kini berbalik, mungkin ia jadi penasaran dengan kelanjutan cerita Kiki. “Sayembara tarik tambang?” tebaknya lagi yang diangguki Kiki.
“Yaps, sayembara tarik tambang.”
“Siapa lawan siapa?” tanya Dini.
“Coba tebak.” Kiki berkata sambil menaik-turunkan alisnya.
“Pasti Rubah jantan dan Rukasa kan?” Tebak Ale dengan yakin, yang kini malah mendapat gelengan kepala dari Kiki.
“Yang melakukan tarik tambang adalah rubah jantan dan rubah betina,” kata Kiki.
Ale mengernyitkan dahi tak terima. “Loh, kenapa tidak rubah jantan dan Rukasa yang bersaing? siapa yang menang bisa mendapatkan rubah betina, kan?”
Tapi kini Kiki menggelengkan kepala, “Alurnya bukan seperti itu Ale, coba kamu dengarkan dulu.”
Terjadi hening beberapa saat.
“Jadi, rubah jantan berada di posisi timur dan rubah betina berada di posisi barat,” sambung Kiki.
“Yang menang rubah jantan dong, pasti kekuatannya berbeda.” Dini berceletuk, respons Kiki menggeleng.
“Tidak, rubah betina meminta bantuan Rukasa.”
“Curang!” Ale berseru.
Kiki tersenyum, “Rubah jantan marah, tidak terima dan ia tidak tinggal diam begitu saja, ia meminta bantuan hewan lain.”
Dini berkata santai, “Hewan apa? Kerbau? Pasti kalau minta bantuan kerbau, rubah jantan akan langsung menang.”
“Tidak, rubah jantan tidak meminta bantuan kerbau, ia malah meminta bantuan kelinci kecil.”
Ale dan Dini tertawa bersamaan, menertawakan cerita Kiki yang semakin tidak masuk akal, mereka juga mengolok pilihan rubah jantan karena memilih kelinci kecil sebagai kawan satu tim.
“Kenapa kelinci kecil yang dipilih?” tanya Ale.
“Karena kelinci kecil itu cantik, indah, dan mudah diperalat. Rubah jantan sangat pandai untuk mengajak kelinci itu bermain tarik tambang,” jawab Kiki, membuat Ale dan Dini mengerutkan dahi bingung.
“Loh, tapi kan yang dibutuhkan itu tenaganya untuk bisa menang tarik tambang, bukan paras menawan si kelinci,” sanggah Dini, Kiki hanya tersenyum dan melanjutkan ceritanya.
“Iya, tapi saat pertandingan dimulai, saat rubah betina melihat teman satu tim rubah jantan adalah si kelinci kecil, rubah betina marah, ia tidak bisa mengendalikan emosinya, konsentrasi rubah betina buyar, kekuatannya untuk menarik tali tambang melemah, dan pada pertandingan pertama ini, rubah jantan yang menang.”
“Sangat tidak masuk akal, rubah betina kenapa marah saat melihat kelinci kecil?”
“Ya karena tadi, kelinci kecil ini cantik dan indah, membuat rubah betina iri dan marah, ia melepaskan tali tambangnya karena enggan melihat kebersamaan rubah jantan dan kelinci kecil saat berjuang menarik tali tambang.”
Ale dan Dini hanya mengangguk-anggukkan kepalanya santai.
“Kalian tahu hal apa yang lebih menyedihkan? Gigi kelinci putih terluka karena terlalu kuat menarik tali, begitu juga dengan gigi Rukasa yang berdarah karena harus menarik tali sendirian.”
“Apakah rubah jantan meminta maaf kepada kelinci kecil?” Ale bertanya penasaran.
Kiki menoleh ke arah Ale, “Ya, rubah jantan meminta maaf kepada kelinci kecil. Tapi, rubah jantan meninggalkan kelinci kecil yang sudah terluka. Di pertandingan selanjutnya, pasti mereka tidak akan menang kalau rubah jantan masih menggunakan kelinci kecil sebagai kawan satu tim.”
“Wah, kasian sekali kelinci kecil.”
Kiki mengangguk, “Rukasa juga mulai diabaikan oleh rubah betina karena tidak sekuat rubah jantan. Pada pertandingan selanjutnya, mereka membawa hewan lain untuk menjadi tim dalam sayembara tarik tambang ini. Rubah jantan membawa merak cantik, dan rubah betina membawa tupai. Kalian bisa tebak di pertandingan ini siapa yang menang?”
Dini dan Ale saling berpandangan, kemudian dengan suara lirih Dini berkata, “Rubah jantan kembali menang, karena rubah betina iri dan marah melihat kecantikan merak tadi, sehingga ia melepas tali tambangnya dan ….”
Belum sempat Dini menyelesaikan tebakan alur ceritanya, Kiki segera menyela. “Salah, yang menang dalam pertandingan kali ini adalah rubah betina.”
“Kenapa? Merak kan punya pesona yang cantik dengan bulu-bulunya, seharusnya rubah betina iri, marah, dan kalah.”
“Ya, merak memang memiliki pesona, tapi hanya itu yang dia punya. Merak tidak memiliki tenaga untuk menarik tali tambang sehingga membuat bulunya yang indah itu rontok tertimpa tubuhnya sendiri yang berkali-kali jatuh. Rubah betina sudah memiliki strategi lain, ia tidak lagi iri dengan keindahan kawan rubah jantan. Ia membawa tupai yang cerdas untuk menjadi teman satu timnya,”
“Apakah setelahnya mereka masih bermain tarik tambang?” Ale bertanya.
“Mereka masih bermain tarik tambang, dan lebih seru karena kelinci kecil dan Rukasa yang tadi sempat ditinggalkan kini diikutsertakan kembali.”
Dini menyahut, “Tapi kan mereka masih terluka,”
“Iya, semua yang bermain tarik tambang itu terluka.”
“Apakah ada yang menyerah?”
Terjadi hening sesaat, Kiki membenarkan posisi bantalnya.
“Ada, kelinci kecil menyerah. Ia lelah, terluka, dan sudah tidak ingin lagi bermain tarik tambang yang menyakitkan itu. Setelahnya, Rukasa menyusul untuk ikut menyerah, memilih meninggalkan rubah betina, ia merasa hanya dimanfaatkan.”
“Lalu bagaimana dengan hewan lain yang masih membantu rubah jantan ataupun rubah betina? Bagaimana dengan merak dan tupai?”
“Saat ini mereka masih membantu, masih bermain-main dengan tali itu, saling tarik-menarik, menyakiti satu sama lain.”
“Ah, aku penasaran, sebenarnya apa yang sedang mereka perebutkan?” Ale yang awalnya tidak tertarik dengan cerita Kiki kini malah aktif bertanya.
“Ego. Mereka sedang memperebutkan ego masing-masing. Saling melukai diri sendiri, juga mengikutsertakan orang lain untuk membantu ego mereka agar menang. Padahal kalo bisa sedikit saja melunakkan perasaan, meruntuhkan amarah yang masih terpendam, melepaskan tali tambang dan saling memaafkan, mereka bisa kembali bersama tanpa harus menyakiti yang lainnya.”





