Thursday, 14/12/2017 | : : UTC+0
LPM DinamikA

Muhammad Hanif: “Budaya yang mulai luntur cenderung radikal dan tekstualis”

Muhammad Hanif: “Budaya yang mulai luntur cenderung radikal dan tekstualis”

Post by relatedRelated post

5%
User Rating
suasana dalam acara

suasana dalam acara

Gedangan-Senin (4/4), Muhammad Hanif sebagai ketua yayasan pondok pesantren Edi Mancoro mengatakan bahwa budaya Islam di nusantara yang mulai luntur cenderung radikal dan tekstualis. Hal ini disampaikannya di Majelis Ilmu Dzikir Ajeg Seloso Kliwon atau biasa disebut grup musik Seloso Kliwon (SK) yang khas dengan aransemen gamelan jawa. Acara ini digelar di pondok pesantren Edi Mancoro desa Gedangan, kecamatan Tuntang kabupaten Semarang yang dihadiri oleh para santri dan tamu undangan.

Beberapa tamu undangan merupakan warga desa Gedangan, delegasi pondok pesantren sekitar Tuntang-Salatiga, beberapa tokoh organisasi Islam seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), beberapa dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, terlihat pula perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) IAIN Salatiga dan beberapa tokoh masyarakat lainnya. Majelis ini juga dihadiri beberapa tokoh penting sebagai pembicara seperti Gus Candra Malik yang tidak lain adalah pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syahadah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Hadir pula Habib Anis Sholeh Ba’asyin, Kyai Agus Sua’idi, dosen IAIN Salatiga, dan disusul kyai Amin Maulana Budi Harjono, pengasuh pondok pesantren Al-Islah Semarang. Tamu undangan dan santri terlihat antusias  mengikuti diskusi yang berjalan dengan melontarkan beberapa pertanyaan.

Muhammad Hanif menambahkan bahwa diadakannya acara ini tidak lain adalah untuk mengkaji nilai-nilai Islam di nusantara yang mulai luntur dengan banyaknya pelecehan-pelecahan terhadap Islam dalam bentuk visual maupun non visual. Ia menghimbau agar umat Islam tidak mudah terpancing dengan adanya isu-isu tersebut karena menurutnya isu tersebut adalah upaya barat dalam memecah belah kesatuan umat di Indonesia.

Habib Anis yang terkenal dengan suluk maleman itu menuturkan, “Kita tahu bahwa 80% aset negara dikuasai pihak asing, dengan adanya isu-isu yang mudah memecah belah umat Islam tertama akan memudahkan mereka untuk mengeruk kekayaan Indonesia.”

Ia juga menambahkan, “Orang Islam itu selalu bicara ini bid’ah, itu bid’ah, apa-apa bid’ah. Sudahlah, yang sudah Islam ya jangan dikafir-kafirkan. Kita tidak bisa menutup mata kalau orang luar ingin menguasai Indonesia jadi, janganlah saling mengafirkan yang sudah Islam. Orang Indonesia itu terlalu sibuk dengan hal-hal kecil seperti ini sampai ia lupa bagaimana mempertahankan nusantara. Mereka tidak berfikir kalau Indonesia tidak ada lalu, bagaimana caranya berislam yang dalam artian melakukan segala ibadah dan lain sebagainya. Mereka yang mudah mengafirkan orang lain itu pikirannya dangkal dan tidak mengerti.”

“Islam itu seharusnya cocok untuk semua bukan semuanya harus cocok dengan Islam. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara mentelamatkan Indonesia. Manusia sering berbicara tentang Islam tetapi iman mereka lompati. Kearifan lokal harus dihormati bahkan perlu dipelajari untuk dapat tetap menjaga keindonesiaan kita,” tambah Candra Malik yang terkenal dengan lagunya “Syahadat Cinta” yang menjadi original sound track (OST) Cinta Tapi Beda.

Kyai Budi yang kondang dengan ceramahnya yang menggelitik ini datang membawa beberapa penari sufi asuhannya. Ia menuturkan, “Islam itu agama cinta. Cinta mengubah kebiadaban menjadi peradaban. Akal budi tidak bertentangan dengan ayat-ayat qauliyah Allah. Satu hal yang memuat Islam adalah nusantara.”

Ia juga mengibaratkan untuk menjadi seperti petani yang sedang menanam padi, “yang bicara hanya tindakanmu jangan tindakanmu yang berbicara.” Kedatangannya dengan penari sufi dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa dalam mencintai Allah itu tidak hanya dilakukan secara ibadah yang terlihat (dzohir) tetapi sebagian ada yang mencintai Allah dengan caranya sendiri seperti gerakan-gerakan yang dipraktekkan oleh penari sufi yang mengibaratkan bahwa seorang hamba itu lemah dan penuh dosa yang berharap untuk diampuni karena sesungguhnya Allah mencintai hambaNya yang bertaubat.

“Kita ini pemilik sah republik ini. Jadi, jangan biarkan Indonesia diambil secara perlahan oleh orang luar,” Tambah Kyai Budi. (Tika/Crew Magang_)

 

POST YOUR COMMENTS

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us

Email: redaksi@klikdinamika.com

Phone: 089668318523

Address: Gd. A Lt. 2 Kampus 1 IAIN Salatiga, Jl. Tentara Pelajar no. 2 Salatiga