Ilustrasi: Rifda/DinamikA
Oleh: Devi Kartikasari
Sebelum fajar menyingsing, Guntur sudah berdiri di dapur rumahnya. Ia menyalakan lampu kecil yang sedikit redup, menerangi panci berisi sayur sisa semalam yang kembali ia hangatkan. Dengan suara pelan, ia membangunkan ibunya, berhati-hati agar adiknya tetap terlelap. Kantuk masih menggelayut di matanya, tetapi ia tak pernah mengeluh. Setelah sahur dan salat subuh, Guntur bersiap berangkat sekolah dengan seragam yang warnanya mulai memudar.
Sepulang sekolah, Guntur hampir tak pernah benar-benar pulang. Ia lebih dulu menuju toko kelontong di ujung jalan raya, tempat ia bekerja paruh waktu. Di sana ia membantu apa saja, menjaga kasir, menyusun barang di rak sempit, dan sesekali mengantar galon ke rumah pelanggan.
“Capek nggak kak?” tanya Tari suatu sore.
Guntur tersenyum, mengacak rambut adiknya pelan. “Capek itu kalau kita nggak ada tujuan. Kakak punya tujuan.”
Tujuannya sederhana, membantu ibunya, meringankan beban ayahnya yang hanya buruh serabutan, dan memastikan Tari tetap bisa bersekolah.
…
Malam itu, malam takbiran dan toko terasa lebih riuh dari biasanya. Orang-orang datang silih berganti membeli sirup, gula, minyak goreng, hingga petasan untuk menyambut lebaran.
“Lembur sampai malam ya,” kata pemilik toko. “Buat ongkos lebaran kamu.”
Guntur mengangguk senang. Ia membayangkan wajah ibunya saat menerima uang tambahan itu. Barangkali tahun ini mereka bisa membelikan sepatu baru untuk Tari.
Jarum jam hampir menunjukan pukul sebelas malam ketika Guntur menyalakan motor tuanya. Jalanan riuh oleh takbir keliling. Lampu warna-warni berkelip di sepanjang jalan, anak-anak menabuh beduk dengan riang, dan petasan sesekali memecah langit malam.
“Allahu Akbar … Allahu Akbar …”
Gema takbir memenuhi udara. Guntur menarik napas panjang sebelum memutar gas motornya. Ia ingin cepat sampai rumah.
Di sebuah persimpangan yang sepi, lampu jalan menyala redup. Sebuah mobil patroli berhenti agak miring di pinggir jalan. Di sampingnya berdiri seorang aparat, langkahnya tampak sedikit goyah.
“Berhenti!” teriaknya.
Guntur segera menepikan motornya. Aparat itu mendekat perlahan. Bau alkohol samar tercium dari napasnya. Matanya merah, ucapannya terdengar berat.
“Surat-surat mana?”
Guntur merogoh dompetnya dengan tergesa, mengambil surat-surat motor dengan tangan yang mulai gemetar. “Ini, Pak,” ucapnya pelan.
Aparat itu hanya melihat sekilas surat-surat yang diberikan Guntur. Entah karena apa, wajahnya tiba-tiba mengeras.
“Kamu ngebut tadi, ya? Mau balapan, hah?”
Guntur menggeleng cepat “Saya nggak ngebut, Pak. Saya habis kerja … mau pulang.”
Jawaban itu justru membuat suasana semakin tegang. Entah karena alkohol atau amarah yang tak jelas arahnya, aparat itu tiba-tiba meraih helm Guntur.
“Bantah kamu?”
Guntur mundur selangkah “Saya nggak bantah, pak ….”
Namun malam itu bukan malam yang rasional. Alkohol dan kuasa bercampur menjadi amarah yang tak terkendali. Helm itu terangkat tinggi. Takbir masih bergema di udara. Lalu satu benturan keras memecah riuh malam takbir. Tubuh Guntur jatuh ke aspal. Helm yang seharusnya melindungi kepalanya kini tergeletak retak beberapa meter darinya. Pipinya menyentuh aspal yang dingin. Pandangannya perlahan kabur, sementara gema takbir terus bergulung di langit malam.
Di ambang kesadarannya yang meredup, dunia Guntur menyusut menjadi empat memori suara yang berdenyut di kepalanya.
Satu gema takbir yang kian menjauh.
Tiga letupan petasan yang merayakan kemenangan semu di langit.
Satu bentakan kasar yang menghancurkan martabatnya.
Dan, Dua hantaman benda tumpul yang mengakhiri seluruh mimpinya tentang sepatu baru untuk Tari.
Setelah itu, hanya gema takbir yang tersisa di telinganya. Dunia tetap merayakan kemenangan, sementara hidupnya perlahan menjauh dari malam itu.
…
Di rumah kecil di gang sempit, ibunya menata ketupat di atas meja makan. Tari tertidur di sofa, memeluk boneka panda milik kakaknya.
“Guntur belum pulang?” tanya ayahnya.
“Katanya lembur sebentar.”
Malam berjalan lambat, terlalu lambat, seolah menunggu sesuatu. Sampai akhirnya telepon itu berbunyi. Dan sejak detik itu, malam takbiran berubah menjadi malam yang tak pernah ingin mereka ingat.
Di rumah sakit yang dingin, ibu Guntur terduduk lemas di sisi ranjang. Tangannya menggenggam ujung selimut yang menutup tubuh anaknya.
“Bangun, Nak … besok lebaran ….” Suaranya pecah di antara tangis.
Ayahnya berdiri kaku di samping ranjang, seolah tulang punggungnya runtuh bersama tubuh anaknya. Seorang petugas berbicara dengan nada datar, menyebut kata-kata seperti insiden, kesalahpahaman, dan prosedur. Tak ada yang menyebut mabuk. Tak ada yang menyebut amarah yang tak terkendali. Yang ada hanya kalimat-kalimat rapi untuk menjelaskan kematian seorang anak.
Berita keesokan harinya singkat. Terlalu singkat untuk sebuah kematian.
Remaja Terlibat Cekcok dengan Aparat di Malam Takbiran
Kata “terlibat” menempatkan Guntur sebagai pemain dalam sirkus kekerasan ini. Seolah kematian Guntur adalah kesalahan bersama. Oknum aparat itu diamankan dan diperiksa. Hanya itu. Ayah Guntur membaca berita itu berulang-ulang. Tangannya gemetar.
“Kalau anak saya yang mukul duluan,” katanya lirih, “Mungkin sudah disebut kriminal.”
Ia sadar, di atas kertas, nyawa anaknya hanyalah angka dalam laporan “prosedur” yang rapi. Di sana, kebenaran seringkali kalah oleh seragam.
…
Pagi idulfitri akhirnya datang. Orang-orang saling bermaafan. Rumah-rumah dipenuhi tawa. Anak-anak berlarian dengan baju baru. Di rumah Guntur, ketupat tetap di meja, tak tersentuh.
Tari duduk diam di sudut ruangan. “Bu … Kak Guntur sekarang lihat kita dari surga ya?”
Ibunya tak mampu menjawab, ia hanya memeluk anak bungsunya erat-erat, seolah takut kehilangan lagi.
Bagi dunia, malam itu adalah malam kemenangan. Namun bagi rumah di gang sempit itu, takbir adalah lonceng kematian. Dan bagi Guntur yang kini diam, keadilan hanyalah deretan angka yang terkunci dalam ingatannya yang terakhir: Satu. Tiga. Satu. Dua. Sebuah sandi tentang malam di mana hukum kehilangan nuraninya.





