klikdinamika.com

Mientje

Mient

Ilustrasi: Aulia Ulfa

Oleh: Gerry

Seperti biasa, hari tetap hari, terus bergulir dan waktu terlipat satu demi satu. Ya. Waktu dengan bagak memakan dirinya sendiri. Sedang kita, manusia dan jam-jam di dinding telah sukses menjadi budaknya.

Pagi ini aku kembali memandanginya, burung-burung kecil itu, yang terbang dan hinggap kesana kemari, menyambangi pohonan, lalu hinggap di atap dan kabel-kabel. Ketika siang, dia dan satu burung lain—sepertinya pacarnya, akan asyik nongkrong di pentilasi kamarku. Seakan bumi ini milik berdua. Miliknya saja.

Ketika hari berganti kembali. Kujumpai hari yang hanya lain. Datar, nyaris membosankan. Kusadari waktulah yang telah memaksa orang untuk mau tidak mau, suka atau tidak suka, melewatinya. Betapapun manisnya; betapapun rusaknya.

Namun, catatan ini aku buat dalam hari-hari yang diisi oleh cinta dan luka. Di antara perasaan senang, gundah dan kesedihan. Saban waktu sampai di titik nelangsa. Bisa jadi, hanya ejawantah dari perasaan abstrak yang aku sendiri tidak tahu namanya.

Untuk itu, entah untuk siapa dan apa ini kurangkai, tapi kususun sedemikian rupanya agar kiranya suatu waktu catatan ini pernah ditemukan, ia dapat dibaca sebagai satu karangan Cerpen yang tak seperti cerpen, cerpen yang mencoba utuh, yang entah apa boleh aku mengembangkannya menjadi sebuah hikayat masa kanak dalam waktu yang menunggu berhenti.

***

Dua hari yang lalu aku menjalani hari dengan peristiwa yang memaksa aku mengenangnya, masa kecilku. Maka dalam catatan kecilku ini, kucoba mendedah memori yang masih dapat kugapai.

Maka kucoba merangkainya, menarik yang kini dan yang esok, berkumpul dan merayakan kejamakan kata, dan begini kemudian jadinya:

Kenalkan, namaku Subin. Ahmad Subin. Acap dipanggil Kelana. Agak jauh dari nama asli, tapi mau bagaimana lagi, itu panggilanku sejak duduk di bangku SMA. Katanya karena aku suka sekali mengembara. Aku sendiri tidak ambil pusing soal itu, dan terima-terima saja karena nama itu, bagiku sendiri, terdengar enak di telinga. “Kelana. Anjay~,” pikirku hahaha.

Aku lahir di Pulau K dan ikut berbagi kehidupan dengan pohon-pohon di bumi pada awal abad 21; tepat lima belas hari sebelum tsunami menyerbu daratan di Banda Aceh. Baru-baru ini aku menemukan motto hidup yang pas: Break the Rules. Aku percaya: orang baik adalah mereka yang tidak mematuhi aturan yang buruk.

Soal latar belakang pribadi, sampai sekarang aku sendiri masih bertanya-tanya, kenapa ditakdirkan menjadi anak dari pasangan yang sepintas amat tidak serasi antara Pak Rojak dan Ibu Desi. Bagaimana mungkin mereka bisa sesering itu bertengkar setiap pagi di hari minggu?

Rumah tangga ini, kalau coba kugambarkan, agaknya tidak begitu ideal secara umum, juga tidak kulihat indikator yang mengarah pada aspek Sakinah Mawaddah Warahmah. Namun, meski begitu, aku merasa Pak Rojak—sebagai pribadi dengan segala kekurangannya—adalah Ayah terbaik, dan Ibu Desi—dengan segala keteguhan dan keindahan hatinya—adalah yang tidak ada duanya.

Aku bertanya hanya untuk heran betapa kuatnya mereka melewati dunia ini—yang destruktif ini. Dan bagaimanapun bentuk keluarga ideal bagi sebagian oran––aku tidak tahu, yang jelas, aku bersyukur dilahirkan di keluarga ini, meski akhirnya tidak dapatkan privilese muka tampan ala Adipati Dolken atau Jefri Nichole.

Dulu sekitar tahun 2009 saat masih di Taman Kanak-Kanak, pertengkaran mereka adalah tontonan, sebelum pada akhirnya aku dipanggil menonton serial Power Ranger oleh Mustofa—sahabatku yang rumahnya terletak tepat di depan rumahku, Kompleks Perumahan Lintang Selatan No. 45.

***

Hari ini di belakang jendela yang terbuka lebar, aku duduk di meja belajar kamarku bersama perasaan yang baru saja akan bersuka hati, tapi tidak jadi. Sedang kulihat cahaya Matari datang seperti berbisik dari balik pohonan Palm, dari sebelah selatan rumahku, mencuri waktu dan merangkak naik di kejauhan. Pelan tapi pasti. Inci demi inci. Menggerayang di sebelah gunung-gemunung dan pohonan bambu, yang mana di atasnya terhampar langit dengan jejeran rambut awan sirus; gunung lainnya ditumbuhi rumpun pepohonan papyrus; dan matahari tanpa pikir panjang menyerobotkan cahayanya ke dalam celah semak belukar.

Burung kutilang beterbangan dan kejar-kejaran. Burung pingai yang barangkali lebih akrab disapa burung gereja juga ada di sana. Berkicau bak alarm penanda, bahwa ini masih pagi.

Seperti kataku sebelumnya, aku duduk dengan perasaan yang hampir senang, tapi tidak jadi. Sebab, tepat dua menit yang lalu, aku telah sampai pada halaman terakhir Tetralogi Buru karya pak Pram dari serinya yang paling ujung: Rumah Kaca.

Penyelesaian dan kebahagiaan itu berlangsung amat sebentar, sebab tersusul—agaknya—satu menit setelahnya, kusaksikan salah satu anak kompleks perumahanku mengayuh sepeda kecilnya yang bercat putih, dengan ban depan berukuran lebih kecil dari ban belakang. Sepeda yang dulu … ku pikir tak ada duanya. Sepeda yang … mengingatkan aku pada seseorang, yang hadir di hidupku ketika usiaku masih sangat belia.

Peristiwa itu mengingatkanku padanya: Seseorang ber-sepeda putih dengan ban depan yang lebih kecil dari ban belakang.

Hari itu juga, di balik jendela yang terbuka lebar, dengan sisa-sisa bayangan sepeda putih pemanggil cerita lama: kenangan-kenangan tentangnya mulai datang, jatuh berjatuhan, menghinggapiku satu demi satu.

Cerita kecilku yang sederhana dan amat biasa-biasa saja, benar datang dan mengisi kepalaku:

“Subin … Subin ….” 

“Power rangernya udah mulai, ayoh nonton di rumahku ….” 

“Subin ….” 

Suara itu merongrong, terus merongrong, dan akan segera merenggut perhatian semua orang jika tak segera kugagas. Aku pun beranjak untuk menjemput suara itu. “Lagian tak ada gunanya mendengarkan pertengkaran dua orang kesayanganku ini,” gumamku sambil berjalan.

Barang beberapa langkah, kami sampai di rumah berwarna coklat itu dan mulai duduk di depan Televisi. Kami melakukan kebiasaan kami—memilih jagoan—dan menganggap ranger itu adalah kami sendiri.

Aku selalu memilih Ranger Merah. Mustofa memilih Ranger Hijau—kadang Hitam. Kami bertengkar kalau dia mau mengambil Ranger Merah, soalnya itu punyaku. Titik. Aku sendiri tidak pernah mengubah pilihan.

“Aku merah, lescup,” ucapku mengunci.

Orang yang lebih dulu memakai kata sakti ini tak terbantahkan, dan yang lain harus rela memilih pilihan lain.

Di tempatku, “Lescup” adalah mantra mandraguna dalam mengunci pilihan. Ketika berhasil lebih dulu mengucapkannya, pilihan sudah mutlak. Jika ada yang ngeyel dan hendak melanggar mantra itu, bertengkar adalah sebuah konsekuensi logis.

Tapi sebagaimana anak-anak, aku dan Mustofa pernah bertengkar di luar kata lescup: cuma soal siapa yang membuat gawang untuk bermain bola.

Waktu itu di ruko kosong depan rumahku. Aku memegang spidol dan menggambar gawang di dinding. Lalu Mustofa mengacau. Dia kekeh mau jadi satu-satunya yang menggambar gawang, padahal aku sudah terlanjur menggambar setengah.

“Sini spidolnya, biar aku saja yang menggambar gawangnya,” pinta Mustofa, agaknya ingin merangkap jadi fasis kecil.

“Tidak bisa, aku saja,” ucapku ngeyel, memberontak pada fasis kecil sepantaran itu.

Kemudian karena tidak ada yang mau mengalah, Mustofa merajuk dan pulang, enggan menoleh dan melihatku lagi, apalagi bicara. Sedang aku, juga dengan marah mencoba tidak hiraukan dia dan masuk ke dalam rumah untuk mulai sibuk dengan urusan sendiri: ya, membuat pesawat terbang dari kertas. Sebenarnya waktu itu aku merasa bersalah dan memikirkan perasaan Mustofa, tapi aku urungkan. Persoalan harga diri, pikirku.

Saat itu terjadi, Ibuku sedang di dapur, menyiapkan makan seperti biasa, seolah di belahan dunia lain—di ruko rumah sendiri—sedang tidak terjadi apa-apa, seolah dunia tengah berjalan lancar sebagaimana mestinya. Agaknya ia—Ibuku yang cantik jelita—sedang memotong bawang dan beberapa serei untuk memasak bau piapi seperti biasanya. Sementara dua orang sahabat tengah berseteru dan baru saja mendeklarasikan perang. Perang yang besoknya baikan lagi. Menukar jari kelingking, masing-masing sebagai tanda gencatan senjata.

***

Selain Mustofa, ada satu anak perempuan dalam lingkar pertemanan kami.

Namanya Mientje, anak perempuan berdarah Jawa. Rumahnya terletak di ujung gang kami, di gang 3. Dalam persoalan Power Ranger, dia memilih Ranger warna pink. Dia adalah anak tunggal dari Om Sutarmo dan Tante Rahayu. Jawa Tulen.

Aku tidak begitu paham sudah berapa lama sejak mereka di pulau K, tapi nampaknya mereka sudah lumayan lama, sebab paham bahasa Daerahku walau tidak bisa mengucap.

Mientje sendiri sepertinya sudah lahir sejak Om Tarmo dan Ibu Rahayu merantau di sini. Dan waktu itu aku tidak paham persoalan muasal, yang aku tahu hanya: mereka adalah pindahan dari tempat lain yang tidak kutahu namanya.

Om Tarmo dan Tante Rahayu membuka warung bakso yang pada saat itu hanya dapat kutafsir bahwa, ini adalah yang terenak di dunia. Warung itu terletak di halaman rumahnya, dengan gerobak kayu sederhana dan wangi bakso sebagaimana warung bakso pada umumnya.

Aku tidak tahu, racikan daging, bakso dan bumbu-bumbu yang dibuat oleh tante Rahayu berhasil menggugah selera orang-orang sekampung.

Sejauh jalan cerita hidupku waktu itu, Mient adalah wanita termanis yang pernah aku kenal—mungkin karena umurku pun belum genap tujuh.

Mient dengan gaya tomboynya itu amat senang bersepeda. Sepeda mungil cat putih dengan ban depan yang lebih kecil dari ban belakang. Sepeda yang berbeda dari semua-mua yang pernah aku lihat. Dia juga suka bermain Barbie. Barbie yang aku sendiri tidak tahu namanya. Bajunya bisa dibongkar pasang, dan terbuat dari kertas karton.

Pernah suatu waktu saat terpaksa bermain Barbie di rumahnya—iya itu memang memori memalukan—Aku dan Mustofa ditawari penis sapi goreng. Sangat aneh, setidaknya bagi kami dua anak asli pulau ini … dan khusus untuk bagian yang bermain boneka Barbie, tolong jangan bilang ke siapa-siapa.

Kami bertiga memang acapkali bertengkar, sebab ego besar masing-masing kami. Tapi kami bertiga adalah teman baik, bisa dibilang sahabat karib. Mencari capung adalah kegiatan kami yang paling authentic. Mustofa satu tahun lebih tua dariku. Dia seumuran dengan Mient. Akulah yang paling muda, dan berkuasa, hahaha, bercanda. Aku sendiri tidak suka kekuasaan, hal yang barang tentu baru kusadari belakangan setelah bertumbuh dan menyaksikan pelbagai hal.

Mient. Berita duka pertama agaknya bagiku, saat kudengar kabar: Ia hendak pindah rumah, yang sepertinya disebabkan sesuatu atas keluarganya: dapat tuduhan menjual bakso tikus. Entahlah. Saat itu aku masih seumur jagung, dan tidak percaya pada berita murahan itu. Juga tidak tahu duduk permasalahannya. Yang aku tahu hanya, kami kehilangan teman. Dan aku masih marah pada semua orang yang menuduh keluarga Mient soal bakso tikus.

Saat itu umurku bahkan belum cukup untuk masuk Sekolah Dasar. Hikayat tentang pertemanan kami bahkan belum cukup banyak sebelum aku tahu bahwa ternyata sekarang aku rindu padanya.

Hingga kini tak ada kabar, aku bahkan tidak ingat apa aku sempat mengucap selamat tinggal atau tidak. Begitupun Mustofa, yang meninggalkan aku saat keluarganya memutuskan untuk menyambung hidup di tempat lain, tepat dua tahun sebelum aku masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Karenanya, tinggal aku seorang dengan beberapa teman baru. Tapi Aku dan Mustofa beberapa kali masih dapat bercengkrama, sebab rumah barunya hanya 4 kilometer dari rumahku. Sedang Mient, kabar burung pun nihil. Sama sekali. Melihat atau membayangkan wujud dewasanya pun aku gagal.

***

“Pikirkan apa, Kelana?” Suara Ibu datang dari balik pintu, memecah ruangan yang hendak lengang. Kertas yang tengah kuisi dengan prosa, sajak dan metaphora, kujeda.

Aku melanjutkan obrolan dengan Ibu.

“Tak apa, Bu. Aku hanya sedang penasaran, atau mungkin cukup rindu pada Mientje. Kira-kira sekarang ada di mana, ya, dia, bu? Bagaimana kabarnya? Aku amat ingin tahu bagaimana atau seperti apa dia sekarang.”

“Lima belas tahun berlalu, dan kami sama sekali tidak mendapatkan diri satu sama lain. Tidak bertemu sosial media, tak ada surel, nomer telepon, atau alamat rumah. Dia juga tidak pernah datang, bahkan untuk sekedar minum teh atau menghabiskan biskuit kesukaan kami.”

“Lima belas tahun, dan aku tidak akan berhenti mengutuki orang-orang yang telah menodai nama baik keluarga Mient. Orang-orang yang telah terbukti sengaja memasukkan 78 bangkai tikus ke gerobak bakso milik pak Tarmo, tapi tidak dipenjara atau diadili, yang kuduga hanya karena mereka orang dari Partai Golongan Karia. Padahal jelas-jelas itu perbuatan kotor. Jelas pencemaran nama baik”.

“Sudah-sudah,” ucap ibu sambil menyurutkan emosiku yang membuncah, “Doakan saja keluarga Mient yang terbaik, ya, Nak. Coba saja CCTV gang ujung waktu itu tak coba disembunyikan oleh pemiliknya yang disogok, yang diakui menjelang kematiannya, mungkin warga akan percaya dan Ibu Rahayu sekeluarga masih ada dengan kita di Perumahan ini.”

“Tegarkan hatimu, Anakku. Biarkanlah yang sudah berlalu. Semoga nanti kita bertemu Mient dan keluarganya lagi. Di kesempatan hidup yang kali ini, atau bagaimanapun nanti bakal jadinya, semoga kita bertemu dengan mereka lagi.”

Ibu keluar dan menutup pintu perlahan. Setelah sendiri aku masih mencerna sedikit demi sedikit kalimat terakhir. Di hadapan awan, di balik jendela, aku mulai memikirkan kalimat yang akan kusampaikan pada Mient, kalau saja diberi kesempatan bertemu suatu nanti.

“Mient. Aku menyesal. Waktu itu harusnya aku sadar dan menahanmu, atau menangis sekencangnya agar para orang dewasa itu tidak mengusirmu pergi.”

“Semoga kamu baik di mana pun sekarang.”

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *