klikdinamika.com

Prodi SPI Terapkan KKL Berbasis Riset di Semester 7

KKL

KKL SPI tahun 2025
Sumber Foto: Istimewa

Klikdinamika.com –Tidak lagi Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di semester 4, Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) menetapkan pelaksanaan KKL berbasis riset sejarah pada semester 7 sebagai bagian dari penguatan kurikulum berbasis penelitian, Senin (6/4/2026).

Kebijakan ini diambil sebagai respons dan evaluasi pelaksanaan KKL di kurikulum sebelumnya yang kurang berdampak secara akademik.

Faidi, Kaprodi SPI mengatakan bahwa perubahan konsep berawal dari kegelisahan mahasiswa yang menilai KKL sebelumnya hanya bersifat kunjungan singkat.

“Beberapa mahasiswa memberikan masukan bahwa kunjungan dua hari-tiga hari seakan-akan tidak berbekas secara kognitif dan pendidikan, atau hanya dianggap sekadar jalan-jalan,” ujarnya.

Sebagai solusi, Prodi SPI merancang program KKL berbasis riset sejarah berbobot 4 SKS dengan mengajukan empat tahapan pelaksanaan ke institut. Program ini tidak hanya menekankan kunjungan lapangan, melainkan mahasiswa juga dapat menghasilkan karya ilmiah.

“Jadi KKL riset sejarah ini berbobot 4 SKS yang tahapannya masih diajukan ke institut seperti pembekalan metodologi penelitian sejarah lisan dan observasi lapangan, penyusunan proposal, riset di lapangan, dan diseminasi hasil riset sejarah. Untuk output minimal mahasiswa menghasilkan transkrip riset dan kedepannya diarahkan menjadi karya ilmiah,” lanjut Faidi.

Faidi kembali menambahkan bahwa konsep ini juga mendorong kolaborasi antara dosen dan mahasiswa dalam karya ilmiah.

“Jadi dosen juga harus berperan aktif sebagai pembimbing sekaligus mitra akademik untuk berkarya bersama mahasiswa, ini juga menjadi semacam kolaborasi antara dosen dan mahasiswa untuk berkarya, termasuk mendorong lahirnya artikel ilmiah bersama,” tambahnya.

Menurutnya, penempatan KKL di semester 7 dinilai sebagai waktu yang ideal karena mahasiswa telah memiliki bekal metodologis yang cukup.

“Semester 7 itu kami anggap ideal, karena mahasiswa sudah memiliki dasar metodologi setelah mereka menempuh mata kuliah dasar seperti sejarah lisan, metodologi penelitian sejarah, dan seminar sejarah yang diharapkan siap untuk terjun ke lapangan,” kata Faidi.

Sementara itu, Habib, mahasiswa SPI menilai program ini memiliki peran penting dalam persiapan mahasiswa menghadapi penelitian skripsi.

“Menurut saya KKL ini sangat penting karena ini sebagai langkah awal atau sebagai batu loncatan pertama bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian skripsi, meski saya belum memiliki gambaran yang jelas karena program KKL riset sejarah ini masih tergolong baru di kalangan mahasiswa,” jelas Habib.

Sebagai Kaprodi, Faidi berharap adanya program ini dapat membangun kultur akademik yang kuat di lingkungan prodi SPI. 

“Karena suksesnya pembelajaran itu ketika culture akademiknya kuat, jadi lebih pada bagaimana culture akademik itu betul-betul dilakukan oleh Prodi SPI sehingga lulusan Prodi SPI itu adalah kaum intelektual muda yang sudah menguasai metodologi riset dan mereka lebih siap di lapangan sebagai intelektual atau istilahnya biar matang,” harapnya. (Erick/Amma/Red)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *