Sumber Foto: Yudha/DinamikA
Klikdinamika.com – Sebagian mahasiswa dan kakak asuh mengeluhkan lokasi PBAK hari pertama Fakultas Sains dan Teknologi (FST) yang dirasa sesak dan panas di ruang seminar lantai 3 Fakultas Dakwah, Kamis (20/8/2026)
Firda Aldi Wardhana, Ketua HMPS TI sekaligus Ketua Panitia PBAK FST 2026 mengatakan, keputusan panitia untuk mengadakan PBAK FST di ruang seminar lantai tiga Fakultas Dakwah berdasarkan pilihan dari Dekan FST, yakni Noor Malihah.
“Kalau dari pemilihan tempat itu semua dari Dekanat,” ungkapnya.
Aldi mengatakan, sebelumnya panitia berencana untuk mengadakan PBAK FST hari pertama di lahan parkir belakang Fakultas Dakwah. Namun, karena mencegah terjadi risiko yang lebih besar, panitia memilih mengadakan di Ruang Seminar lantai 3 Fakultas Dakwah.
“Kita sendiri fiksnya PBAK aja baru H-4 sebelum PBAK univ dimulai. Jadi kalau itu (red: PBAK FST) dilakukan di luar ruangan terlalu mepet persiapannya. Jadi nanti takut risikonya terlalu besar,” terangnya.
Berbeda dengan PBAK fakultas lain yang diadakan di ruang terbuka, Aldi mengatakan bahwa dana yang dikeluarkan untuk PBAK FST di ruang tertutup juga diatur oleh dekan.
“Dari kita sendiri pendanaan itu bukan diambil sama kita. Jadi (red: dana) PBAK Saintek itu diatasi sama dekanat. Jadi kita hanya mengikuti perintah dari dekanat,” ujarnya.
Zahra Soleha, salah satu mahasiswa baru program studi Perpustakaan dan Sains Informasi (PSI) mengira PBAK FST tidak terasa panas karena bertempat di dalam ruang tertutup.
“Soalnya itu, di dalam AC kan banyak ya, tapi masih panas (red: udaranya),” keluhnya.
Serupa dengan Zahra, salah satu peserta PBAK lainnya, Azriel juga mengeluhkan ruangan yang panas. Imbasnya Azriel tidak dapat fokus menyimak materi.
“Saya sebagai maba mendengarkan materi itu jadi tidak fokus karena yang pertama, kepanasan, yang kedua ruangan yang tidak memadai,” ucap Azriel.
Beberapa kakak asuh (kasuh), mengatakan bahwa panitia sempat meminta kipas angin blower, tapi tidak diperbolehkan oleh dekan FST. Sedangkan terdapat maba yang mengalami asma. Alhasil ia sempat mengalami sesak nafas hingga hampir pingsan.
“Panitia udah minta kipas blower, tapi sama bu dekannya itu nggak dibolehin. Padahal tadi ada (red: maba) yang asma, sesak juga,” ungkapnya.
Kasuh tersebut juga mengatakan bahwa panitia masih terlalu disetir oleh dekan FST, termasuk lokasi PBAK dan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan.
“Panitianya masih terlalu diatur sama dekan, apa pun harus lapor ke dekan dulu, kalau dekan (red: bilang) ‘no’, panitia nggak bisa apa pun,” ujarnya.
Selain itu, kasuh juga mengeluhkan perihal anak asuhnya yang menjalani puasa ngrowot tetapi tidak mendapatkan konsumsi. Padahal di PBAK Universitas, ia sudah memberitahukan terdapat anak asuhnya yang ngrowot.
“Aku kira bakalan di-forward ke PBAK fakultas, ternyata nggak, terus ya konsekuensinya day satu ini nggak dapet makan, makannya cuma makan lauk doang. Tapi Alhamdulillah sekarang udah clear, jadi udah dikasih makan,” ujarnya.
Kasuh juga menceritakan, meskipun anak asuhnya yang ngrowot sudah terpenuhi konsumsinya, tetapi yang mempunyai alergi makanan tertentu tetap tidak terpenuhi konsumsinya.
“Tapi yang alergi tetap nggak bisa. Jadi (red: katanya) ‘makan yang kalian bisa makan aja’ gitu,” ungkapnya. (Kamal/Red)





