Sumber Foto: Aulia Eka/DinamikA
klikdinamika.com –Masyarakat Ngadiprono Temanggung ramaikan rutinan Pasar Papringan di tengah rimbunnya kebun bambu di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Minggu (5/7/2026).
Pasar Papringan dilaksanakan sebulan dua kali, yakni di Minggu Pon dan Minggu Wage berdasarkan penanggalan jawa. Dalam penyelenggaraannya, Pasar Papringan diisi dengan pertunjukan seni musik, pameran kerajinan lokal, dan pasar kuliner tradisional yang beraneka ragam.
Sunhaji, salah satu pedagang dari desa setempat, mengatakan bahwa awal mula sejarah Pasar Papringan adalah ide dari salah satu warga tetangga desa yang akhirnya mengajak warga setempat untuk bersama sama mendirikan pasar papringan tersebut.
“Awalnya ide pasar ini berasal dari salah satu warga desa tetangga, lalu kami diajak untuk mengembangkan Pasar Papringan ini. Untuk pengelolanya sudah ada paguyubannya sendiri dan juga bekerjasama dengan mahasiswa dari Jepang,” terangnya.
Sunhaji mengatakan bahwasanya Pasar Papringan ini memiliki banyak keunikan di antaranya: pantangan bahwa semua barang yang diperjualbelikan termasuk makanan, dibuat secara alami tanpa sentuhan teknologi apa pun, bahan-bahan pokok untuk makanannya tidak memakai pengawet dan terigu dari pabrik. Selain itu, semua makanan yang diproduksi juga tidak mengandung micin.
“Mulai dibiasakan makan makanan yang enak tapi bahannya nggak mahal. Meskipun jadul tapi tetap sehat dan alami,” katanya.
Sunhaji melanjutkan bahwa masyarakat desa Ngadiprono memiliki kebiasaan unik terkait kemasan pembungkus makanan yang digunakan sehari-hari yaitu tidak menggunakan plastik. Kebiasaan tersebut diterapkan dalam Pasar Papringan dan menjadi daya tarik tersendiri di Pasar Papringan.
“Kalo kalian udah biasa belanja atau beli jajan pakai plastik, warga dan anak-anak di sini tidak menggunakan plastik sama sekali karena sudah terbiasa,” lanjutnya.

Devi, mahasiswa Universitas Tidar Magelang yang sedang berkunjung, mengaku mengetahui informasi kegiatan tersebut melalui laman media sosial TikTok dan tertarik hadir karena dirasa kegiatannya sangat unik dan menarik.
“Sebenernya kalo kegiatannya sendiri udah tahu dari lama soalnya asal saya dari Temanggung, cuma agak pelosok. Awalnya nggak ada niatan sama sekali mau ke sini, tapi kan kegiatan ini nggak setiap minggu ya, hanya di minggu-minggu tertentu. Kebetulan pas liat di TikTok kayak menarik, terus akhirnya memutuskan untuk ke sini mumpung long weekend,” katanya.
Sunhaji juga menambahkan informasi, bahwa selain digunakan untuk menggelar Pasar papringan, tempat ini juga sering disewa untuk acara pernikahan yang mana makanannya juga memesan kepada warga yang berjualan disini. Selain itu juga kerap disewa untuk kegiatan KKN.
“Tempat ini juga sering dipakai untuk resepsi pernikahan, nanti makanannya disediakan dari sini. Semua makanannya alami hasil produksi warga. Termasuk yang juga sering yaitu kegiatan KKN dari berbagai daerah seperti Bandung, Semarang, Tangerang dan luar negeri,” pungkasnya. (Hira/Afa/Red)





