Ilustrasi: Sidqon & Aulia Ulfa/DinamikA
Oleh: Ulin Hayati
Identitas Buku
Judul buku: Entrok
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Cetakan ke-6, Juli 2025
Tebal buku: 288 hlm
Entrok. Apa hal pertama yang muncul dalam benak kalian saat pertama kali mendengar atau membaca judul buku ini?
Aku menjadi orang yang pernah berpikir bahwa Entrok adalah nama tokoh utama yang akan diceritakan pada novel ini. Tapi salah. Sangat salah. Karena faktanya, “entrok” berarti bra, BH, atau pakaian dalam wanita dalam bahasa Jawa. Kalian akan menemukan penjelasan ini pada halaman 19 di buku Entrok.
Temanku kerap menyebut buku ini berkaitan dengan peristiwa G30S dan banyak intrik politik lainnya. Namun, saat pertama kali membaca dan menemukan fakta makna “entrok”, aku mulai skeptis. Apakah benar buku ini berkaitan dengan peristiwa itu. Bukankah hanya akan menceritakan perjuangan Marni untuk mendapatkan bra. Dan ternyata, memang harus membaca sampai akhir untuk bisa berkata, “Oh ternyata buku ini memang ada kaitannya dengan peristiwa G30S dan kondisi politik Indonesia pada saat itu.”
Buku ini mengambil sudut pandang Marni dan Rahayu, Ibu dan anak yang terlahir pada generasi berbeda dengan keyakinan dan kepercayaan yang juga berbeda. Marni banyak dibentuk oleh pengalaman dan perjuangannya sebagai perempuan miskin, sementara Rahayu tumbuh dengan pendidikan dan pemahaman agama yang lebih kuat. Sehingga, kalian akan disuguhkan dengan berbagai dinamika kehidupan Marni untuk memperjuangkan kemakmuran keluarganya, di samping kalian akan diperlihatkan bagaimana keinginan Rahayu untuk mendapat kebebasan dan kebenaran dalam keadaan idealis dan agamis. Itulah sumber konflik yang disajikan Okky Madasari pada novel Entrok.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa persoalan yang muncul antara Marni dan Rahayu tidak lepas dari bagaimana budaya patriarkis, negara yang represif, hingga peristiwa pasca-G30S yang memengaruhi cara hidup mereka sebagai rakyat kecil.
G30S dan Bayang-Bayang Politik dalam Entrok
Ketika berbicara tentang G30S, perhatian kita cenderung tertuju pada peristiwa historis dan tokoh-tokoh politik yang terlibat langsung di dalamnya. Namun, menariknya novel Entrok ini justru menawarkan ruang pandang yang berbeda dengan memperlihatkan bagaimana masyarakat yang tidak tahu-menahu tentang politik bisa merasakan dampaknya secara lebih dekat dan lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi pasca-G30S terasa ketika kehidupan masyarakat digambarkan begitu terbatas. Tidak ada kebebasan, muncul ketakutan, hingga kecurigaan terhadap label politik tertentu. Tuduhan mengenai keterkaitan seseorang dengan PKI atau komunisme terlihat sangat memengaruhi bagaimana orang dipandang oleh masyarakat dan bagaimana dia harus berhadapan dengan kekuasaan. Kondisi ini terlihat ketika Marni harus mencoblos partai dengan “gambar kuning” supaya dia tidak dicap sebagai PKI.
Marni dan Rahayu beberapa kali dihadapkan dengan abuse of power dari aparat yang berdalih orang negara, yang menjaga keamanan negara, dan yang bisa melindungi rakyat kecil. Tidak hanya sekali dua kali, Marni harus kehilangan sebagian harta yang didapat dengan susah payah untuk mempertahankan kehidupan dan status sosialnya. Kerap kali aparat melakukan ancaman kepada tokoh dalam novel ini untuk meguras harta dan memenuhi keinginannya. Kita akan diperlihatkan bahwa pungutan, tekanan, dan berbagai bentuk kontrol yang tidak bisa ditawar membawa tokoh dalam novel ini untuk menerima kenyataan, bahwa posisi masyarakat biasa dengan kerja keras yang telah dilewati tidak serta merta menyeimbangan kedudukan dengan aparat atau pemegang kuasa dan jabatan lainnya. Akhirnya, banyak yang memilih untuk diam karena ketakutan.
Salah satu abuse of power yang dilakukan aparat, akan bisa kalian rasakan ketika meresapi peristiwa saat Marni harus memberikan satu hektare pertanian tebu untuk aparat demi “membersihkan” namanya, supaya tidak disebut PKI karena telah membiarkan Koh Cahyadi (singkek)—yang menjadi buron karena menyumbang uang untuk tari naga di Klenteng —bersembunyi di rumahnya. Semakin miris ketika dihadapkan pada situasi seperti ini Marni berkata, “Dan aku menyerah begitu saja, karena bukan orang negara yang punya senjata.”
Situasi itu semakin kuat jika dibaca dalam konteks politik Orde Baru. Setelah peristiwa G30S, pemerintah membangun narasi antikomunisme yang sangat kuat. Stigma terhadap orang-orang yang dianggap berkaitan dengan PKI menjadi bagian dari kehidupan sosial. Orang-orang pada cerita ini dituntut untuk berhati-hati dalam bertindak, di samping mereka harus berpikir bagaimana caranya untuk makan esok hari.
Membaca Entrok dari Kehidupan Orang Biasa
Setelah menyelesaikan membaca novel ini, aku menyadari bahwa kekuatan Entrok terletak pada berhasilnya Okky Madasari membawa persoalan besar dalam kehidupan tokohnya. Keinginan Marni untuk memiliki entrok memang sangat sederhana, tetapi justru menjadi simbol penting dalam perjalanan hidupnya. Bagi Marni, mendapat entrok sama artinya dengan kemampuan mendapatkan sesuatu melalui hasil kerja sendiri. Karena itu, perjalanan marni dapat dibaca sebagai usaha perempuan untuk memperoleh kendali atas kehidupannya.
Sialnya, ketika mulai memiliki kekayaan, permasalahan Marni tidak otomatis selesai. Ia tetap dihadapkan dengan masyarakat, aparat, dan berbagai aturan yang membuatnya tidak bebas. Dari sini dapat kita ketahui bahwa kemiskinan bukan hanya tentang tidak punya uang, tapi juga ada struktur sosial yang membuat seseorang tidak bisa menentukan nasibnya sendiri.
Ditambah dengan konflik antara Marni dan Rahayu yang akan membuat kita sadar bahwa perbedaan generasi, pendidikan, pengalaman, dan keyakinan sangat memengaruhi hubungan dalam keluarga. Oleh karena itu, persoalan politik dalam Entrok menjadi lebih personal. Peristiwa politik tidak lagi berdampak pada tingkat negara. Dampak itu akan merambat pada persoalan ekonomi, agama, keluarga, bahkan diri sendiri.
Inilah yang membuat Entrok menarik dibaca dalam konteks G30S. Kita tidak diajak untuk mendapat jawaban tunggal mengenai peristiwa politik. Namun, dibalik istilah “PKI”, “komunis”, “Orde Baru”, atau “stabilitas politik”, ada banyak sekali manusia yang harus tetap bekerja, mengurus keluarga, mempertahankan keyakinan, dan terus menjalani kehidupannya sehari-hari.





