Sumber Foto: dakwah.uinsalatiga.ac.id
Klikdinamika.com – Fakultas Dakwah (Fakda) memfasilitasi clip on kepada salah satu mahasiswa disabilitas rungu semester 5 untuk menunjang proses belajar di kelas, pada Kamis, 3 September 2026. Namun, penggunaanya belum efektif untuk pembelajaran, Kamis (24/9/2026).
Setelah hampir tiga minggu penggunaan clip on, ternyata masih ada beberapa kendala seperti masalah perangkat pada laptop penerima yang tidak mendukung, sehingga harus meminjam laptop atau gawai teman.
Muna, Wakil Dekan II Fakda, mengatakan bahwa pemberian clip on baru dilakukan di semester 5 karena pihak kampus baru mengetahui bisa menggunakan clip on untuk mahasiswa disabilitas rungu setelah pelatihan relawan PBAK 2026.
“Baru ketika kemarin kita ada pelatihan relawan untuk PBAK 2026 itu, kan mentornya menyampaikan. Itu satu, kemudian yang kedua ternyata di FEBI itu juga ada Mahasiswa tunarungu, terus mereka berinisiatif membelikan seperti itu (red: Clip On),” jelasnya.
Muna juga menjelaskan, bahwa sebelumnya sudah mencoba untuk berkomunikasi dengan Tazkia untuk memberikan mahasiswa pendamping saat di kelas, tetapi dari anggota Tazkia, terkadang jadwalnya tidak memungkinkan.
“Tapi nggak semudah itu. Anak-anaknya (red: anggota Tazkia) mau tapi kadang jadwal kuliahnya yang nggak memungkinkan,” tambahnya.
Menanggapi terkait pemfasilitasan clip on, Nurul selaku Mahasiswa disabilitas rungu yang mendapatkan clip on mengatakan bahwa dia lebih nyaman menggunakan clip on karena teksnya lebih jelas.
“Aku pribadi lebih nyaman memakainya, tapi kadang-kadang memang tidak pakai clip on di laptopnya,” kata Nurul melalui pesan WA.
Namun, Nurul juga memiliki keluhan terkait clip on-nya yang tidak bisa menyambung ke laptopnya, tapi dapat tersambung ke laptop lain.
“Kesulitannya kalau disambungin ke laptopku hampir nggak ada muncul rekaman suaranya sama sekali, tapi ternyata bisa disambungin ke laptop lain atau HP lain,” tambahnya.
Di sisi lain, Bahrur, teman sekelas Nurul, masih mempertanyakan keefektifan alat tersebut, karena kalau dilihat dari laptop dan gawai nurul itu kurang mendukung.
“Pertanyaannya apakah alat tersebut itu bener-bener efektif buat Nurul, terlebih untuk pembelajaran, karena kalau kita lihat dari laptop atau HP itu kan dari punya Nurul kurang mendukung,” jelasnya.
Bahrur, juga memberikan saran untuk melakukan riset lebih lanjut terkait penggunaan alat tersebut, seperti konfirmasi atau tanya-tanya terkait kebutuhan dan kendala kepada mahasiswa penerima.
“Ada konfirmasi atau tanya-tanya atau gimana dari kebutuhan dia, kendalanya dia, jadi kan malah nggak kepakai juga, beli alat mahal mahal pun terus nggak cocok di dia jadi kan malah percuma juga kan,” sarannya.
Galih, teman sekelas Nurul juga menanggapi bahwa clip on sudah bagus tapi kampus harusnya mempertimbangkan juga terkait perangkat dan speech to text-nya (konversi ucapan ke teks) dari laptop Nurul.
“Karena dari kemarin-kemarin itu dipinjami (red: Laptop) dari teman-temannya,” jelasnya.
Selain itu Galih juga memberikan saran kepada dosen untuk memberikan transkrip materi pembelajaran atau setidaknya menggunakan transkip langsung yang memunculkan sulih teks dalam PPT yang dibawakan.
“Saran dari aku, dosen itu bisa memberikan transkrip kepada mahasiswa tersebut atau materi kepada mahasiswa tersebut atau mungkin bisa menggunakan live transkrip ketika presentasi sehingga muncul subtitle PPT-nya,” sarannya.
Di Akhir, Nurul berharap bisa mendapatkan lingkungan yang inklusif dan dia juga mengatakan bahwa ia membutuhkan fasilitas aksesibilitas seperti JBI atau note-taker.
“Mendapatkan lingkungan inklusif dan membutuhkan fasilitas aksesibilitas seperti ketersediaan Juru Bahasa Isyarat (JBI), note-taker (rekan mahasiswa atau relawan yang bertugas mencatat materi kuliah), atau transkripsi agar dapat menyerap materi perkuliahan dengan optimal dan mudah dipahami,” harapnya. (Rifka/Red)





