klikdinamika.com

Gema Yang Membawa Luka #Bagian 1

Yang

Ilustrasi: Aulia Ulfa

Oleh: Achaaa

Malam itu tak seperti biasanya, lampu colok bertebaran di jalanan, mengitari rumah-rumah di pedesaan. Para pemuda berlomba-lomba membangun gapura yang indah, tiap gangnya akan mereka hiasi dengan lampu colok yang dirangkai seperti bentuk masjid, istana, atau bentuk unik lainnya. Aroma minyak tanah terasa menyengat di jalanan, hanya hari itu, sekali dalam setahun sejak datangnya lampu listrik di desa tersebut. Gema suara manusia memenuhi gelapnya malam, lantunan pujian, dan perayaan kembang api terasa begitu menyenangkan di seluruh sudut desa. Semua orang bahagia, setelah sebulan penuh berpuasa. Berbeda dengan Niah, perempuan yang sudah menginjak kepala lima ini hanya diam di sudut kamar. Ia membuka jendela, melihat indahnya langit malam, berharap seseorang juga melihat ke langit yang sama, untuk menghilangkan sedikit rindu yang membara.………

“Lan, kau tak pulang?” tanya perempuan berambut blonde itu.

“Kemana?” jawabnya dengan senyum setengah tertawa.

“Kuburan,” ledeknya.

“Shit,” ucapnya dengan sinis.

“Rumah lah, masa iya ke kuburan, lucu kali kau.” Perempuan blonde itu tertawa menepuk-nepuk bahu Bulan.

“Rumah itu sudah seperti kuburan, Kak. Aku membencinya!!” tukas Bulan.

“Bukankah kau masih punya orang tua? Ini sudah tahun ketiga kau tak pulang, Lan.”

“Entahlah, Kak, jangan kau tanyakan itu,” ucap Bulan melenggang pergi. Mukanya tak murung tapi cukup mengisyaratkan bahwa ia tak suka pertanyaan tersebut.

“Selagi kau masih punya orang tua, Lan, tak sepertiku. Jangan kau siakan kesempatan ini,” teriak pemilik rambut blonde itu.

Bulan tak menggubris teriakan perempuan itu. Ia terus berjalan. Menjauh.……

Bulan sudah sampai di tempat tinggalnya, tempat yang menemani perjalanannya tiga tahun terakhir. Tempatnya tak luas tapi cukup untuk menguras kantongnya, menurutnya bagaimanapun tempat tinggalnya asal ada tempat meneduh ia akan ambil. Kebetulan sekali saat ia pertama kali menginjakkan kaki ke kota besar ini tak ada siapapun yang dikenalnya, kecuali teman onlinenya yang berawal dari DM Instagram.

Panggil saja Dinda, perempuan berambut blonde yang ia temui beberapa menit yang lalu. Dinda menawarkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik dibanding pekerjaannya di desa. Dinda juga mencarikan kontrakan untuk Bulan, Dinda sudah seperti kakak baginya, Dinda akan datang di saat Bulan merasa kesepian, sakit, dan hari-hari penting Bulan. Walau Dinda sudah di anggap saudara sendiri oleh Bulan, tapi tetap saja Dinda tidak pernah mencampuri urusan keluarganya. Hingga sekarang pun Bulan tak pernah menceritakan apapun tentang keluarganya.

Malam semakin larut, sayup-sayup pujian, takbir, semakin ramai. Suara dan suasana yang sama seperti 20 tahun lalu. Seorang gadis kecil duduk melingkar bersama teman-temannya, kala itu takbir bergema di seluruh penjuru desa, para bapak beramai-ramai membawa karungan beras ke masjid. Ibu-ibu memasak ketupat dan opor ayam, remaja desa bergantian memegang pengeras suara menyandungkan takbir.

Anak-anak tak kalah sibuk, mereka ikut berkumpul di masjid atau rumah teman-temannya. Mereka saling bercerita tentang banyak hal, mulai dari puasanya yang penuh satu bulan, baju lebaran yang dibeli untuk stok selama seminggu, sepatu hak tinggi yang sedang tren, parabola pak Ridwan yang terkena angin sampai hilang semua sinyalnya, hingga kue kering yang selalu ada selama lebaran.

Berbeda dengan gadis lainnya. Bulan hanya diam di rumah, membantu mamak memasak ketupat. Malam itu berbeda dengan malam lainnya, bapaknya pulang. Entah mengapa bukannya senang, ia merasa kepulangan bapaknya bukan pertanda baik. Rasa bahagia yang ia bangun sedari siang tadi hancur karena ulah bapaknya. Ia tak suka dengan bapaknya yang sekarang, yang mudah marah, pemabuk berat, berjudi, dan mempunyai hutang dimana-mana.

Mamaknya yang selalu ditagih para rentenir, karna bapak selalu menggunakan nama Niah, mamaknya. Bapaknya akan mengancam menggadaikan rumah kalau mamak tak membayarkan utangnya, terkadang bapak juga akan mengambil uang hasil jualan mamak untuk taruhan dengan teman-temannya. Sama seperti sebelumnya kali ini bapak pulang hanya untuk meminta uang pada mamak, kalau mamak tak mau memberi, bapak akan menggunakan dalil-dalil busuknya tentang istri yang harus taat pada suami. Jika mamak berani membantah, bapak akan memecahkan segala barang yang ada hingga ia mendapatkan apa yang ia mau.…..

“Lihatlah bub, kenangan itu terus menghantuiku tiap malam lebaran,” Bulan selalu seperti ini, menatap langit seakan-akan berbicara kepada Bubu, nama yang ia sematkan pada bulan diatas sana.

Namun saat itu Bubu tak memunculkan dirinya, Bulan mengetahuinya, tapi ia tak peduli terus bercerita dan menatap langit penuh harap, semoga saja tuhan mengirimkan sesuatu untuk membantunya bebas dari luka ini. Sekarang ia tak bisa menyebutnya hanya luka, namun ini adalah trauma. Trauma yang ditanamkan keluarganya sedari kecil.

“Mereka egois, Bub,” lanjutnya

“Kau mendengarkanku kan, Bub?” tanyanya memastikan.

“Aku sudah muak dengan kehidupanku, Bub.”

“Aku sudah bosan, Bub, semenjak kejadian itu cahayaku redup.”

“Andai aku tak lahir dari mereka, pasti hidupku tak seperti ini kan, Bub? Iya kan, Bub?”

Bulan menangis sejadi-jadinya, di daerahnya hampir semua orang mudik ke kampung halamannya, hanya beberapa yang tersisa karena urusan pekerjaan. Tak ada yang mendengarnya, suara nya tenggelam bersama gema yang saling beradu.…….

Piyar!!!

Piring berbahan kaca itu terbang tepat di depannya.

“Sudah, Mas, aku minta maaf,” isak seorang wanita yang tak lain mamakku.

“Kau terlalu munafik untuk ku maafkan, Niah.”

Piyar!!

Suara gelas melayang memekakan telinga, area dapur sudah penuh dengan pecahan beling.

“Lantas aku harus bagaimana lagi?”

“Kau buktikan,” ucap orang yang ku panggil bapak.

“Buktikan bagaimana? Disini kau yang salah, aku yang ikut menanggungnya, lihatlah dirimu, hanya mabuk yang kau tahu,” ucap mamak pedas.

“Apa? Kau tak suka? Pergi kau kalau tak suka!!”

“Bukan begitu, Mas, tapi sekarang kau sudah punya anak istri, jangan kau teruskan ini. Lagi pula rumah ini peninggalan jiddahku, kau yang harus pergi dari sini.”

“Kau berani berkata begitu kepadaku? Sudah berani melawan rupanya, berani dengan suamimu ya!!” Bapak meninggikan suaranya.

Piyarr

Suara gelas kembali dilempar

“Bulan, Bulan, keluar kau, Nak.” Suara bapak terdengar marah, tak sabar.

“Keluar, Bulan, jangan jadi anak durhaka kau.”

Bersambung ….

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *