Ilustrasi: Aulia Ulfa
Oleh: Randy Abdul Aziz
Jam enam pagi di hari minggu, Putra terbangun di antara kerumitan pikiran, memandang plafon kamar yang bolong dan menganga, menghadapkannya secara langsung dengan cahaya matahari terbit yang menembus lapisan tebal genteng tua itu. Putra menarik napas panjang, mencoba merangkai dan menerka apa makna tersirat di balik kejutan sinar mentari di pagi hari.
Terdengar sayu di telinga Putra, suara burung bercuit dan ayam berkokok, menandakan dunia di luar kamarnya tetap berjalan semestinya meski di dalam kamar itu masih terbaring Putra dengan segala kerumitan paginya.
Ia bangun perlahan merambah kain gorden tipis, lesuh, nan tua. Di balik gorden tua kusam tersebut, mulai terbuka kaca yang menampilkan halaman rumah dengan panorama anak-anak berlarian riang tanpa beban pikiran, sementara di sisi lain ada tukang sayur mendorong gerobaknya sambil bersenandung lirih.
Di saat melihat dunia pagi tersebut Putra merasa ada yang telah hilang dari dirinya. Putra merasakan kebahagiaan yang dulu dimiliki telah tertimbun oleh hari-hari letih dan keraguan atas dunia. Terbesit dalam hati dan pikiran Putra.
Apakah hari minggu ini akan berlalu begitu saja atau menjadi langkah perubahan dari hari-hari kelam sebelumnya
Di antara kebimbangan merevolusi hidupnya atau tetap lontang-lantung dengan keraguan dan ketakutan itu, Putra mulai terbaring lemas di ranjangnya lagi. Kerumitan pikiran benar-benar sudah menguasai isi kepalanya. Pikirannya mulai berputar kencang mengingat hal-hal seperti apa yang harus ia bahagiakan dan ia maknai.
Putra mulai berpikir tentang apa itu bahagia, kapan bahagia itu datang, dan kenapa bahagia itu bisa hilang. Sempat terpikir olehnya untuk melanjutkan saja kehidupan yang membosankan itu dengan bantuan kata-kata umpatan andalannya.
Putra masih terbaring lemas menutup mata atas kekalahan diri dalam menjalani hari-hari sebelumnya. Ia membiarkan bayangan masa lalu untuk berlalu-lalang di pikirannya; senyum teman-temannya, keluarga yang selalu memberikan support di meja makan. Semuanya hadir bagaikan bioskop yang menerangi isi kepalanya, sedikit ia mulai mengucapkan:
“Apakah kebahagiaan itu bukan sesuatu yang asing, tapi hal yang dekat, sangat begitu dekat?”
Di saat Putra mencoba meraih kembali kenangan itu, ia merasa selalu ada jarak yang membentang. Seketika ia bangkit dan duduk di sisi ranjang. Kakinya merasakan lantai masih dingin dengan embun pagi. Seketika sinar mentari mengenai mata dan menyilaukannya lagi.
Tiba-tiba ia mendengar ada suara yang memberi jawaban, suara yang menyerupai seorang sahabat duduk di dekatnya.
Menurutku… bahagia itu ada ketika aku bisa tersenyum lebar, memperlihatkan sisi ceria, mampu tertawa dengan keras seolah tiada masalah.
Suara itu tak lain adalah dari sudut hati Putra yang memberikan rasa terkait kebahagiaan.
Setelah itu, Putra menatap plafon bolong dan ternganga yang menampilkan genteng tua itu lagi. Membayangkan momen kecil yang dulu pernah membuatnya tersenyum lebar, melihat benda-benda kesukaan, bercengkerama dengan orang-orang terdekat yang sangat ia cintai, atau sekedar bergurau dengan hewan peliharaannya. Semua yang hadir di pikiran itu seketika terasa nyata kembali, bukan lagi sekadar kenangan. Namun, bayangan yang terasa nyata tersebut segera memudar.
Aku merasa akhir-akhir ini bahagiaku hilang karena salah satu alasan bahagiaku pergi dari duniaku.
Dunia yang tadi menampakkan hal ceria seketika menjadi kosong seperti keheningan di kamar Putra. Suara hati yang menyerupai sahabat tiba-tiba hadir dengan bahasa yang berat dan jujur. Putra kembali menengok jendela dan masih melihat anak-anak riang bermain, sementara tukang sayur masih bersenandung. Dunia tetap berjalan semestinya, dengan segala kebingungannya, Putra mulai membersihkan kamarnya.
Setiap gerakan aktivitas yang dilakukan oleh Putra seperti simbol yang membuka jawaban-jawaban baru. Suara hati sialan itu berbisik Kembali, mengucapkan suara yang lebih tegas.
Bahagia itu bukan sesuatu yang hilang, tapi sesuatu yang bisa kamu pilih untuk hadir lagi, jangan pernah menunggu kebahagiaan, tetapi ciptakanlah kebahagiaan
Putra mulai tersenyum tipis, raut wajahnya menampilkan keeleganan dan kegirangan mendengarkan suara hatinya tersebut, sembari menalarkan secara logika bahwa yang dikatakan oleh hatinya adalah benar. Ia mulai sadar bahwa ia tidak bisa menghapus setiap keraguan yang menghantui, tetapi ia bisa memulai langkah indah dengan senyuman dalam setiap keraguannya.
Pada akhirnya minggu pagi ini, bukan lagi hari di mana Putra mengeluh akan hari-hari sebelumnya, tapi adalah hari di mana Putra mulai melangkahkan kaki dengan senyuman tipis, dibarengi dengan keyakinan bahwa kebahagiaan akan datang ketika kita berusaha untuk menghadirkannya, bukan lagi tentang menunggu bahagia, tetapi ketika memulai bahwa hidup harus dilalui dengan kebahagiaan kecil, melihatnya dengan optimis, memberikan makna dalam setiap detik perjalananya dan diakhiri dengan senyum terhadap kebahagiaan di sela-sela hari sibuknya.
Jawaban Putra tidak berhenti disitu. Setelah ia selesai membereskan kamarnya, ia mulai mengambil kursi untuk duduk di dekat jendela memandangi lagi anak-anak yang berlarian dengan riang kesana kemari. Putra kembali membuka memori masa kecilnya, di mana ia melihat masa kecil yang berlari, bermain, dan tertawa tanpa sebuah beban, tertawa tanpa memikirkan masa depan. Memori yang dihadirkan seolah menampar putra dan mengatakan bahwa kamu pernah bahagia dengan hal-hal sederhana, kenapa sekarang sulit?
Putra mulai mendapatkan anugerah jawaban lagi, bahwa kebahagiaan bukan sesuatu yang akan permanen menemani, melainkan datang dan pergi seperti lantai yang dingin terkena embun pagi dan akan hilang ketika siang hari.
Kebahagiaan akan hadir dalam setiap sendi yang kita hargai dan kita maknai, entah dalam sebuah senyum teman, keluarga, dalam rangkulan sahabat, atau dalam keberhasilan kecil yang jarang kita hargai.
Putra mulai memikirkan sebuah hal, apakah dirinya terlalu sibuk mencari hal-hal yang besar, sampai lupa bahwa kebahagiaan kecil selalu ada di sekitar kita.
Suara sudut hati kembali hadir, kali ini dengan bahasa yang lembut mengatakan:
Bahagia bukanlah tujuan akhir melainkan perjalanan yang harus kita maknai. Kamu tidak perlu mencari hal yang besar untuk bisa merasakan bahagia, tetapi lihatlah sudut di sekitarmu yang tidak pernah kamu lihat, seperti melihat luar jendela. Hal itu sudah akan memberikan banyak makna dan alasan untuk tersenyum.
Putra kembali menatap tukang sayur yang bersenandung dan mulai mendorong gerobaknya. Barangkali setiap senandung tersebut tersimpan ketulusan dan kebahagiaan. Ia juga berfikir mungkin orang itu tidak punya harta yang mapan, keadaan yang selalu membuatnya lelah dan menyerah, tetapi ia tetap menyanyi, berjalan, dan tetap hidup. Mungkin harta terbesar adalah kebahagiaan.
Entah kebahagiaan yang lahir dari penerimaan, atau rasa syukur atas apa yang ada, Putra mulai memaknai hidup bahwa kebahagiaan bukan berada dalam jangkauan yang jauh, bukan lagi bahagia ketika melihat plafon yang tidak bolong atau genteng yang bersih ataupun gorden yang indah, tetapi bahagia adalah ketika kita bisa memaknai dan menemukan rasa dalam setiap keterbatasan yang kita lalui.
Setelah detik berfikir panjang, Putra memutuskan untuk tidak hanya berdiam diri, tapi ia mulai keluar kamar, melangkah mencari udara segar, udara pagi telah menyambutnya dengan angin sepoi-sepoi, aroma tanah yang menempel dengan daun-daun basah telah memberikannya makna yang membuat ia merasakan, inilah hidup.
Anak-anak itu seketika menatap putra dengan tersenyum dan melambai, putra pun membalas lambaian dengan senyuman yang lebih tulus daripada sebelumnya.
Putra berbisik dalam hatinya sendiri
Mungkin ia tidak bisa mengubah dunia dalam hari-harinya, tapi ia bisa mengubah caranya memandang dunia
Ia mulai berjalan pelan merasakan setiap langkah, merasakan setiap tanah yang dingin, udara yang menyediakan angin sepoi-sepoi. Setiap detiknya menjadi lebih bermakna, seolah ia sedang belajar bagaimana mulai menghargai hidup sederhana.
Putra kemudian duduk di bangku tua dekat rumahnya, dan mulai memandang langit yang sangat cerah pagi itu, ia teringat kata-kata ibunya bahwa bahagia itu bukan tentang apa yang kamu punya, tapi tentang bagaimana kamu bisa bersyukur atas langkah yang bisa kamu lakukan hari ini. Ia mulai sadar bahwa kebahagiaan bukan hilang, tetapi kebahagiaan selalu ia abaikan.
Seiring waktu berjalan, Putra mulai merasakan perubahan kecil dalam dirinya, ia tidak lagi hanya memikirkan keraguan dan ketakutan, tetapi mencoba melihat dunia dari sisi positifnya, setiap ia melihat anak-anak berlari ia ikut tersenyum, setiap melihat penjual sayur bersenandung, ia merasakan senang, ketika ia merasakan matahari semakin memancarkan sinarnya ia mulai merasakan hangatnya semesta.
Putra sadar bahwa kebahagiaan memang bisa hilang tetapi bukan berarti bahwa ia takkan kembali. Ia hanya perlu membuka hati, membuka mata, melangkahkan kaki, dan menambahkan senyuman.
Hari minggu itu bukan lagi hari ia mengeluh atas dunianya, tetapi hari di mana ia merasakan titik balik dalam memandang dunia.
Menjelang siang hari, Putra kembali ke dalam kamarnya. Plafon bolong itu masih sama, masih ternganga. Genteng tua itu masih kumuh terlihat. Namun, ia tidak lagi melihatnya sebagai simbol kerusakan atas hari-harinya yang sebelumnya ia anggap rapuh. Ia melihatnya sebagai celah yang memberi jalan bagi cahaya, cahaya yang selalu hadir sebagai pengingat bahwa bahkan dalam kekurangan selalu ada ruang untuk harapan, harapan agar kita bisa berani menatap dunia dengan segala celah kecil keindahannya. Ia tersenyum, lalu berbaring sebentar, bukan lagi dengan rasa lemas, melainkan dengan rasa damai.
Dalam hati ia berkata:
Bahagia itu memang dekat. Aku hanya perlu membuka mata, membuka hati, dan membiarkan diriku merasakannya, lalu akan kubalas dengan senyumanku yang tulus untuk semesta ha-ha-ha
Dengan pikiran itu, Putra menutup mata, membiarkan dirinya beristirahat, bukan karena kalah, tapi karena siap untuk memulai hari dengan gebrakan-gebrakan barunya.
Sekali lagi, hari Minggu itu, bagi Putra, bukan lagi sekadar hari libur. Ia menjadikannya sebagai awal perjalanan baru, perjalanan untuk menemukan kembali jati dirinya, menemukan Kembali senyumannya, mental dan kesehatannya, kebahagiaan yang sempat ia kira hilang. Namun, ternyata selalu ada di dekatnya, menunggu untuk diraih, menunggu untuk dianggap, menunggu untuk diberikan senyum manis di sela-sela harinya.
Kamar bak kapal pecah dengan segala inferior kumuhnya pada hari itu bukan lagi kamar ratapan terhadap gagalnya dunia atau hilangnya senyuman atas kehidupan palsunya, akan tetapi kamar yang memberikan sekecil makna bagaikan cahaya yang menembus plafon tua di hari paginya, plafon kumuh genteng tua yang memberikan cahaya kecil, secercah cahaya kehidupan dan harapan untuk menatap dunia dengan lebih bermakna atas diri yang mengendalikan. Di kamar itu mulai berputar lagi bioskop pikirannya yang menjalankan adegan visual hari-hari bahagianya.
Hari di mana ia leluasa tertawa bersama kawan sejawatnya, keluarganya dan lingkungan kecilnya, sekecil cahaya yang menembus plafon kumuh dan tua renta di pagi itu. Yaitu ketika hidup mulai bukan tentang kesedihan dan kesibukan yang harus selalu dirasakan larut, akan tetapi adalah persoalan berbahagia dengan canda tawanya bersama sahabat yang akan terus ikut mendengarkan dan memberikan masukan dan semangat perjuangan akan hari-hari letihnya, ketika di mana hari terasa begitu sukar untuk merasakan, dan hari di mana ia akan merasa hilang kebahagiaan dan arah untuk memaknai rasa hidup pagi seperti ini.
Terbesit dalam hati yang sekarang bersatu dengan pikirannya untuk berterima kasih kepada teman-temannya, keluarganya dan hidup di sekitarnya yang selalu memberikan pelajaran dan makna sebagai rangkulan hangat dan demi keselamatan mental di setiap perjalanannya. Tidak lupa juga, Putra ingin berterima kasih kepada ayah-ibu yang selalu hadir walaupun dalam kesederhanaan kisahnya bagaikan suasana kamar kumuh yang selalu dilihatnya biasa saja ketika ia merasa capek atas hidupnya.
Putra juga bercericit pelan, berpesan kepada angin sepoi-sepoi yang melewati rongga kamarnya, kepada mereka yang sedang menjalani hidupnya agar berterima kasih terhadap siapa pun yang masih bertahan untuk sejenak mendengarkan cerita tidak penting dalam perjalanannya, untuk melihat kembali kehidupan sekitarnya dan memberikan makan dalam sekecil cahaya harapannya.
“Semoga panjang umur bagi mereka yang berani mengekspresikan segala jenis kisahnya dalam bentuk ekspresi apa pun termasuk dalam bentuk umpatan-umpatan kehidupan yang dirasa itu adalah kegagalan,” ujar Putra sebelum ia memulai aktivitas lanjutannya.





