klikdinamika.com

Jalan Lingkar Selatan Salatiga, Infrastruktur Mahal dengan Risiko Tinggi

Sumber Foto: suaramerdeka.com

Oleh: Adinda Malikhatus S./ Syafa Aulia Zahra

Berdasarkan pantauan suaraglobal.com, tercatat 45 kasus kecelakaan di JLS Salatiga dalam dua bulan pertama tahun ini meningkat 45% dibanding periode yang sama tahun 2025 yang hanya mencapai 31 kasus.

Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga merupakan jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Semarang dan Surakarta. Pemerintah Kota Salatiga melakukan pembangunan JLS dengan tujuan mengembangkan kota dan meningkatkan akses agar lalu lintas yang dilewati dari Semarang dan Surakarta dapat dialihkan tanpa melewati perkotaan, sehingga hal tersebut dapat memperlancar mobilitas dan mengurangi kemacetan.

Menurut data DPUPR Kota Salatiga, JLS Salatiga dibangun sepanjang 11,3 kilometer dan lebar standar 21 meter yang termasuk bangunan saluran. Pembangunan jalan ini didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Salatiga, APBD Provinsi Jawa Tengah, dan APBN dengan dana sebesar Rp200 miliar. Jalan ini melewati Kecamatan Argomulyo, Kecamatan Sidomukti, dan Kecamatan Sidorejo.

Dibangunnya Jalan Lingkar Selatan bertujuan agar dapat membuka daerah terisolasi yang selama ini masih terkendala oleh sarana transportasi, serta diharapkan dapat mengurai kepadatan di jalan-jalan utama Salatiga, khususnya Jalan Soekarno Hatta. Namun, setelah lebih dari satu dekade adanya JLS, muncul beberapa pertanyaan tentang dampak dan juga efektivitas dari adanya jalan tersebut.

JLS memang berfungsi sebagai jalur alternatif antara Semarang dan Surakarta, sehingga dapat mengurangi kemacetan pada jalan utama. Namun, di sisi lain jalan tersebut juga merupakan jalan yang rawan kecelakaan lalu lintas.

Mengapa Banyak Terjadi Kecelakaan Lalu Lintas di JLS?

Salah satu hal yang sering menjadi perhatian adalah karakteristik jalannya yang lurus menurun panjang. “Berulangnya kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar, terutama truk, di Jalan Lingkar Salatiga dikarenakan kesalahan dalam konstruksinya.”Pernyataan Koordinator Komunitas Masyarakat Transportasi Salatiga, Kristianto Irawan Putra, (29/09/2022).

Menurut Kristianto, rekayasa lalu lintas sangat sulit untuk kontur di JLS, karena jalan yang terus menerus turun dari arah Tingkir dapat menyebabkan kecelakaan. Ia menilai pemasangan rambu-rambu yang dilakukan oleh Pemkot Salatiga tidak akan mengurangi kerawanan kecelakaan di JLS. Karena sebab utama dari kecelakaan di JLS memang dari kondisi jalan. Kondisi jalan tersebut tentunya membuat kendaraan berat seperti truk yang melintas dapat berpotensi melaju dengan kecepatan tinggi. Dalam beberapa kasus kecelakaan yang ada di JLS, seringnya diduga mengalami kegagalan fungsi rem/rem blong saat melintasi jalan turunan.

Banyaknya kasus kecelakaan yang terjadi di JLS, khususnya di daerah turunan Gamol. Pada titik ini pengereman kendaraan berat sudah tidak mampu bekerja secara optimal dan keberadaan jalur penyelamat menjadi tameng keselamatan yang sangat krusial. Idealnya, jalur penyelamat ditempatkan di 3 km dari puncak turunan sehingga kendaraan yang sempat mengalami kegagalan fungsi rem masih memiliki waktu untuk menuju ke jalur tersebut. Akan tetapi, pada ruas JLS Salatiga, jalur penyelamatnya dibangun pada kilometer ke empat setelah puncak turunan. Dalam artian, jarak tersebut terbilang terlambat bagi kendaraan yang sudah kehilangan kendali.

Pada tanggal 27 Februari 2026, kecelakaan akibat rem blong juga terjadi di Jalan Lingkar Salatiga (JLS), di depan Pabrik CV Makmur Abadi Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, sopir truk mengalami luka ringan. Sementara truk rusak parah karena pengemudi membanting setir ke arah kiri hingga kendaraan masuk ke dalam parit di sisi jalan.

Jika dilihat lebih teliti, rawan kecelakaan yang terjadi di JLS tidak hanya di kawasan Gamol saja. Salah satu lokasi yang memiliki kerawanan kecelakaan tinggi adalah Salib Putih, khususnya untuk kendaraan yang jalan dari arah Kopeng. Pada jalur ini, kendaraan harus berjalan sejauh hampir 10 km dengan melewati turunan yang memiliki kemiringan sekitar 7%. Sebenarnya, pada kawasan persimpangan salib Putih ini telah direncanakan pembangunan flyover sejak tahun 2015. Namun, sampai sekarang perkembangan dari pembangunan tersebut belum ada tindakan yang lanjut, karena memerlukan biaya yang sangat besar, yang diperkirakan memakan anggaran sampai seratus miliar rupiah. Padahal, jika memakai anggaran yang lebih kecil sudah dapat membangun jalur penyelamat dan juga area putar balik yang aman di lokasi tersebut.

Permasalahan penting yang lain adalah ketidakjelasan rambu penunjuk jalur penyelamat. Dalam situasi seperti rem blong, pengemudi pastinya dalam kondisi kepanikan dan memiliki keterbatasan waktu untuk mengambil keputusan. Seperti kecelakaan yang terjadi pada tanggal 12 November 2025, diduga pengemudi baru menyadari adanya jalur penyelamat ketika sudah sampai sejajar dengan jalur penyelamat tersebut. Selain terhalang oleh kendaraan yang parkir didepan jalur penyelamat, posisi tulisan “jalur penyelamat” malah ditempatkan di sisi jalur tersebut, bukan ditempatkan sebelum titik masuk atau pada sisi jalan yang lebih mudah terlihat oleh pengemudi. Maka dari itu, rambu jalur penyelamat harusnya dipasang secara jelas, dan dapat terlihat jauh sebelum titik jalur penyelamat.

Penempatan jalur penyelamat di beberapa titik sangatlah krusial dalam efektivitasnya. Pada ruas JLS sebenarnya memiliki beberapa titik yang potensial untuk penempatan jalur penyelamat seperti di area sekitar pemakaman yang berada pada tikungan ke kanan. Kondisi geometris jalan di lokasi tersebut memungkinkan kendaraan untuk masuk langsung ke jalur penyelamat. Bahkan pada beberapa kejadian, kendaraan yang mengalami rem blong justru berhenti di sekitar titik tersebut.

Seperti pada tanggal 16 Januari, sebuah truk pengangkut beras seberat 25 ton dari arah Tingkir terguling, karena mengalami rem blong. Dalam situasi itu, pengemudi membelokkan kemudi ke arah kiri lalu menabrak penghalang jalan. Akibat dari tabrakan ini, beberapa pohon dan satu tiang listrik roboh. Keadaan truk terbalik dan menghalangi sebagian besar jalan, sehingga menutup jalan dari arah Tingkir ke Blotongan.

Kerawanan yang dialami tersebut membuat pihak kepolisian mengusulkan pembangunan jalur penyelamat (escape lane) di beberapa titik kawasan JLS sebagai langkah yang dapat diantisipasi ketika ada kendaraan yang mengalami rem blong, perempatan Kumpulrejo merupakan titik paling rawan dan sudah sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang memakan korban jiwa. Usulan aparat kepolisian tersebut menunjukkan bahwa keselamatan jalan merupakan hal yang penting dalam pengelolaan infrastruktur jalan ini.

Apakah Anggaran Yang Dikeluarkan oleh Negara Sudah Sepadan dengan Keadaan JLS?

Selain mengenai kecelakaan lalu lintas, pembangunan JLS tidak luput dari permasalahan pembangunan proyek di masa lalu. Adanya kasus korupsi yang terungkap di persidangan, Titik—Direktur PT Kuntjup selaku kontraktor pelaksana proyek pembangunan JLS tahun anggaran 2008 pada paket STA 1+800-STA 8+350 sepanjang 6,5 kilometer. Dalam pelaksanaan pekerjaan terbukti adanya korupsi senilai Rp12,2 miliar yang terdiri atas kelebihan pembayaran pekerjaan drainase Rp200 juta dan pekerjaan pengerukan tanah Rp12 miliar. Dari hal tersebut, ada ketidaksesuaian antara metode kerja dan fisik bangunannya.

Maka dari itu, kondisi ini memunculkan beberapa pertanyaan seperti “apakah anggaran yang dikeluarkan negara sepadan dengan konstruksi jalan di JLS?”. Infrastruktur publik yang dibangun dengan anggaran yang terbilang besar itu, tentunya sangat diharapkan dapat memberikan manfaat yang maksimal. Oleh karena itu, penting untuk melakukan evaluasi terhadap kualitas pembangunan serta efektivitas penggunaan anggaran yang seharusnya digunakan sebaik-baiknya dan penting sekali untuk memperhatikan dampak dari keselamatan pengguna jalan. Namun, dengan kasus korupsi yang terbukti di persidangan, konstruksi jalan yang sudah salah sejak awal, serta banyaknya kasus kecelakaan yang menimbulkan korban setiap tahunnya. Membuktikan bahwa anggaran untuk JLS tidak sepadan dengan apa yang dikeluarkan oleh negara.

Bentuk Evaluasi Yang Diharapkan

JLS menyimpan beberapa tantangan dan juga evaluasi yang harus diperhatikan. Evaluasi seperti keselamatan para pengendara, perlunya fasilitas yang lebih memadai seperti escape lane menjadi langkah yang sangat penting agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan juga para pengendara. Oleh karena itu, penting untuk melakukan evaluasi terhadap kualitas pembangunan serta efektivitas penggunaan anggaran yang seharusnya digunakan sebaik-baiknya dan penting sekali untuk memperhatikan dampak dari keselamatan pengguna jalan. Jalan Lingkar Selatan Salatiga, dengan sebagaimana fungsinya, masih membutuhkan pengelolaan dan evaluasi berkelanjutan agar tujuan utama dan pembangunannya dapat tercapai secara optimal.

Referensi:

Antara News. (5 April, 2011). KP2KKN desak Polda Jateng tuntaskan kasus JLS Salatiga. https://www.antaranews.com/berita/252810/kp2kkn-desak-polda-jateng-tuntaskan-kasus-jls-salatiga

Fahrinanda Suryana, Perkembangan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Sepanjang Jalan Lingkar Selatan Kota Salatiga Tahun 2012–2022 (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2023)

Herianto, M. R., & Utomo, H. (2013). DAMPAK PEMBANGUNAN JALAN LINGKAR SELATAN SALATIGA TERHADAP PERKEMBANGAN UKM DI SEKITAR JALAN LINGKAR SELATAN SALATIGA. SHILAP Revista De Lepidopterología, 5(1). https://doi.org/10.52353/ama.v5i1.62

Kasus korupsi JLS; John Manoppo diperiksa tujuh jam | ICW. (n.d.). https://www.bing.com/ck/a?!&&p=88abbf2b54bde04a7d61cab3665a70a9de4257c8dd12a80c46d45eaa7cba6261JmltdHM9MTc3MzAxNDQwMA&ptn=3&ver=2&hsh=4&fclid=00f60ef6-8885-6bb3-27a4-1a2089d36a53&psq=kasus+korupsi+jls+salatiga&u=a1aHR0cHM6Ly93d3cuYW50aWtvcnVwc2kuaWQvaWQvYXJ0aWNsZS9rYXN1cy1rb3J1cHNpLWpscy1qb2huLW1hbm9wcG8tZGlwZXJpa3NhLXR1anVoLWphbQ

Korlantas Polri. (2022). JLS dinilai rawan lakalantas, Satlantas Polres Salatiga usulkan pembangunan jalur penyelamat. https://korlantas.polri.go.id/jls-dinilai-rawan-lakalantas-satlantas-polres-salatiga-usulkan-pembangunan-jalur-penyelamat/

Kompas.com. (2026, 16 Januari). Truk Angkut 25 Ton Beras Terguling di Jalan Lingkar Salatiga, Sopir Luka. https://regional.kompas.com/read/2026/01/16/082610878/truk-angkut-25-ton-beras-terguling-di-jalan-lingkar-salatiga-sopir-luka

Tribun Jateng. (2026). BREAKING NEWS Truk Kontainer Tabrak Pohon di JLS Salatiga Malam Ini, Peti Kemas Sampai Terlepas. https://jateng.tribunnews.com/jawa-tengah/1241113/breaking-news-truk-kontainer-tabrak-pohon-di-jls-salatiga-malam-ini-peti-kemas-sampai-terlepas

Korlantas Polri. (2022). JLS dinilai rawan lakalantas, Satlantas Polres Salatiga usulkan pembangunan jalur penyelamat. https://korlantas.polri.go.id/jls-dinilai-rawan-lakalantas-satlantas-polres-salatiga-usulkan-pembangunan-jalur-penyelamat/

Wardhana, P. F. K., & Martini, R. (2014). Peran LSM dalam Pengungkapan Kasus Korupsi Jalan Lingkar Kota Salatiga. Journal of Politic and Government Studies, 3(2), 186-195.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *