Ilustrasi: Aulia Ulfa
Oleh: M. Ghithrof Danil Barr
“Yai, ini kan puasa masuk edisi sepuluh hari terakhir? Kita akan semakin mendekati hari kemenangan, nah apa yang harus kita siapkan, Yai?” “Uang yang banyak, Min.”
Dialog candaan bergaya satire di atas tertuang di sebuah buku berjudul Hati yang Selesai karya Ali Antoni. Tersimpan sebuah realitas sosial yang cukup ironis di balik candaan tersebut. Bulan suci Ramadan seharusnya menjadi momentum pengendalian diri, kesederhanaan, dan empati kepada mereka yang kekurangan. Namun, masyarakat sering terjebak dalam pusaran budaya konsumsi. Di sepuluh hari terakhir bulan suci ini, masjid-masjid mulai kehilangan jamaah di barisan depan, berganti dengan antrean panjang di pusat perbelanjaan.
Alih-alih menjadi puncak spiritualitas, Idulfitri sering berubah menjadi perayaan yang identik dengan simbol kemewahan dan pemborosan. Tidak sulit menemukan contoh nyata dari fenomena tersebut. Menjelang Idulfitri, pusat perbelanjaan dipadati oleh manusia yang berbondong-bondong membeli pakaian baru, kue-kue, sirup, dan berbagai kebutuhan lainnya. Diskon besar-besaran menjadi magnet yang menarik orang untuk menghabiskan uangnya. Tradisi membeli pakaian baru seolah menjadi kewajiban sosial yang tidak tertulis. Anak-anak, orang dewasa, bahkan lansia merasa perlu tampil dengan pakaian terbaik agar tidak terlihat “ketinggalan” pamornya ketika hari raya tiba.
Pernahkah kita menghitung total kemubaziran yang dibuang-buang demi menyambut hari kemenangan? Budaya pakaian baru telah menjadi dogma baru yang seolah wajib ditaati. Kita terjebak dalam standar pasar yang mengatakan bahwa tanpa pakaian baru, lebaran kita tidak sah. Di sini, makna kemenangan telah mengalami pergeseran makna dari kemenangan spiritual menjadi kemenangan material.
Hari Kemenangan, Siapa yang Benar-Benar Menang?
Jika ditelusuri lebih jauh, pertanyaan yang cukup menggelitik muncul. Sebenarnya siapa yang paling diuntungkan dari budaya konsumsi tersebut? Dalam banyak kasus, keuntungan terbesar justru dinikmati oleh para pemilik modal dan penguasa pasar yang memanfaatkan momentum Ramadan sebagai musim panen keuntungan. Pabrik sirup, biskuit, pakaian, hingga berbagai produk konsumsi lainnya mencatat lonjakan penjualan yang luar biasa. Sayangnya, sebagian dari perusahaan tersebut dimiliki oleh konglomerat besar yang tidak berkaitan langsung dengan nilai spiritual yang dirayakan oleh umat Islam. Ya, walaupun banyak UMKM ikut merasakan keuntungan. Namun, berapa persen keuntungannya dibanding korporasi-korporasi besar yang ada?
Dengan kata lain, umat Islam merayakan Idulfitri, tetapi keuntungan ekonominya sering kali mengalir kepada para kapitalis yang berada di luar umat muslim. Hal ini bukan berarti perdagangan adalah sesuatu yang salah, tetapi fenomena ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai agama dapat dengan mudah dibungkus dan dijadikan komoditas oleh sistem kapitalisme. Agama yang seharusnya menjadi sumber kesadaran moral, justru sering dijadikan alat untuk mendorong perilaku konsumtif.
Di sinilah kontradiksi mulai terasa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih pengendalian diri, kesabaran, dan empati terhadap orang-orang yang kekurangan. Ketika seseorang merasakan lapar sepanjang hari, ia diharapkan mampu memahami bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan. Puasa mengajarkan kesederhanaan dan kesadaran bahwa tidak semua orang memiliki akses terhadap makanan dan kenyamanan yang sama.
Namun, bulan Ramadan justru menjadi bulan belanja bagi masyarakat muslim kita. Orang-orang sibuk menghabiskan waktu di mall ataupun berebut diskon di online shop. Puasa yang seharusnya menjadikan kita lebih hemat, justru membawa kita pada perlombaan menghambur-hamburkan uang.
Tidak hanya itu, Idulfitri juga kerap menjadi panggung pamer kemewahan dan kesuksesan. Fenomena ini menimbulkan keresahan tersendiri bagi saya. Saya merasa hari-hari biasa justru terasa lebih jujur. Manusia tidak terlalu sibuk mengenakan topeng sosial demi terlihat bahagia atau mapan. Tidak ada tuntutan untuk memaksakan diri membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan, demi mengejar standar sosial yang mahal.
Fenomena mudik misalnya, yang pada dasarnya merupakan tradisi untuk bersilaturahmi dengan keluarga, sering kali berubah menjadi tekanan sosial yang cukup berat. Banyak orang merasa harus pulang dengan membawa oleh-oleh, menyiapkan uang THR untuk sanak saudara, membeli pakaian baru, atau barang-barang tertentu agar tidak mendapat sanksi sosial atau dianggap gagal secara ekonomi. Dalam beberapa kasus, tekanan ini bahkan mendorong seseorang untuk berhutang demi memenuhi standar sosial.
Mengembalikan Idulfitri ke Fitrahnya
Semua fenomena tersebut menunjukkan bagaimana kapitalisme mampu mengubah makna sebuah perayaan agama menjadi ajang konsumsi massal. Dalam logika kapitalisme, setiap momen sosial memiliki potensi ekonomi yang bisa dimanfaatkan. Ramadan dan Idulfitri pun tidak luput dari potensi ekonomi tersebut. Iklan, promosi, dan strategi pemasaran terus membentuk persepsi bahwa kebahagiaan Idulfitri identik dengan belanja, makanan melimpah, dan gaya hidup yang meriah.
Padahal, jika kembali kepada esensinya, Idulfitri seharusnya menjadi momentum refleksi dan kesederhanaan. Kata ‘fitri’ sendiri sering dimaknai sebagai kembali kepada kesucian atau kemurnian. Kesucian ini tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan hubungan manusia dengan sesama. Kesadaran akan penderitaan orang lain seharusnya tidak hilang begitu saja setelah bulan puasa berakhir. Kesucian hari raya juga tidak sepatutnya dinodai dengan menghamburkan uang dan pesta pora.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mulai mempertanyakan kembali kebiasaan-kebiasaan yang telah dianggap wajar selama ini. Apakah benar kebahagiaan Idulfitri harus diukur dengan jumlah pakaian baru yang dimiliki? Apakah pakaian baru benar-benar mencerminkan kemenangan spiritual setelah sebulan berpuasa? Ataukah justru kemenangan sejati terletak pada kemampuan manusia untuk tetap sederhana, peduli, dan tidak terjebak dalam budaya konsumsi yang berlebihan?
Refleksi semacam ini bukan bertujuan untuk menghapus tradisi lebaran atau menghilangkan kegembiraan di hari raya. Kegembiraan tetaplah penting sebagai bentuk syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Namun, kegembiraan tersebut seharusnya tidak berubah menjadi pesta belanja yang menghilangkan makna spiritualnya.
Idulfitri tidak hanya menjadi momen kegembiraan sesaat, tetapi juga menjadi pengingat bahwa spiritualitas tidak boleh dikalahkan oleh godaan konsumsi. Jika tidak, maka candaan “yang harus disiapkan adalah uang yang banyak” akan terus menjadi ironi yang berulang setiap tahun. Pada akhirnya, kita mungkin perlu bertanya kembali. Apakah yang sebenarnya kita rayakan ketika Idulfitri tiba, kemenangan spiritual, atau justru kemenangan para kapitalis?





