Sumber Foto: Ilustrasi Rika
Oleh: Zumrotul Mudrikah
Angin membelai para tangkai bunga yang kini mengangguk mengikuti irama. Daun kekuningan terjun bebas, terlena pula olehnya. Di atas karpet hijau rerumputan, berbagai warna bunga bermekaran dengan berbagai jenis. Mereka menghiasi dengan begitu elok, sementara bau rumput gajah segar selepas hujan menyejukkan siapa saja yang menapakinya. Terlihat beberapa mahluk bertubuh kecil, bersayap setipis daun, yang tengah menari dengan anggun dan bahagia bersama di atas mahkota bunga. Sesosok mahluk terpanah atas keindahan sayap mereka, ungu, hitam, oren, kuning, putih dan hijau, terbang bebas menggoda untuk terbang bersama mereka. Dia yang tak bersayap, hanya dapat memandanginya. Walaupun demikian, anggap saja perjalanan yang cukup jauhnya tidaklah sia-sia. Jalan berbatu nan jauh menyusuri sungai untuk menemukan hal yang baru, pada akhirnya ia jumpai surga kecil itu.
Selama hidup, gelapnya hutan berkat rimbunnya tangan dedaunan yang menghalau mentari, membuatnya merasa terkurung di kegelapan nan sunyi, sendirian. Kebanyakan yang dijumpai ialah rumput, lumut, gulma, pepohonan besar, sungai dan suara hewan yang tak dijumpai fisiknya. Ah iya.. dan seekor ular bersisik cokelat yang sering mengikutinya, dia menganggapnya sebagai teman. Setidaknya desisannya mengurangi kesepiannya di sana. Menapaki jalan lembab mengejar buruan, serta berteduh di goa tepi sungai, menjadi makanan sehari hari. Bukankah itu sangat monoton? Bahkan tak ada hewan yang mendekat, apalagi berbicara dengannya, kecuali ular itu. Sehingga ketika ia menemukan keindahan di balik suramnya hidup, dia begitu terobsesi memilikinya.
Mungkin di benaknya bertanya “Bukankah menyenangkan jika keindahan itu selalu ada tanpa harus bersusah payah ku cari lagi? Menemaniku dalam kesepian bersama temanku, si ular”.
Entah sudah berapa lama ia mengendap endap dan bersembunyi di antara semak pembatas, kelihatannya ia belum berani mendekati mereka sejak beberapa kali menemui tanpa berinteraksi. Hanya bayangan imajinasi yang memeluk nya di antara kesunyian dan hati yang bergejolak.
Terlintas di kepalanya seakan berkata
“bagaimana bisa ku dekati keindahan itu? Bukankah mereka akan takut dengan tampang buruk rupa ku? Seekor mahluk tinggi besar, berbulu coklat lebat nan kasar dengan gigi dan kuku runcing yang siaga menyergap siapa pun. Bukankah aku terlihat antagonis di sini? Pasti mereka akan lari tunggang langgang dahulu ketika ku mulai mendekatinya. Itulah alasannya aku hanya berteman dengan ular. Mengapa aku diciptakan buruk rupa ya? Apa ada dosa kedua orang tuaku? Ah tapi tak mungkin Tuhan kejam pada mahluk-Nya.”
Pikirannya mulai berkelahi dengan ego, meragukan apakah ia layak mendapatkannya. “Tetapi aku hanya ingin memilikinya.. bukankah menangkap satu saja tak apa kan? tapi aku kasihan jika membawanya seorang diri. Aku tahu rasanya kesepian. Namun jika aku mendapatkannya, aku akan berusaha selalu ada untuknya dan menjaganya.”
Riuh pikirannya teralihkan oleh mereka yang tengah berayun di tangkai bunga yang lemah. Bunga.. hei, mungkin bunga yang indah dan banyak akan disukai mereka. “Bukankah aku harus menyukai bunga juga? Aku akan belajar untuk menanamnya!”
Tekatnya untuk membawanya kini menguat, senyum tipis terlukis menutupi setengah gigi runcingnya. Tanpa pikir panjang, ia memberanikan diri dan mengendap endap mencabut beberapa tangkai bunga sampai akarnya dengan hati hati. Bau wangi menyeruak dan menenangkan, pantas saja mereka menyukainya. Bergegas ia kembali menahlukkan jalan seperti sebelumnya. Langkah demi langkah kaki menapaki jalan bebatuan hingga menuju tepi sungai, mengikuti aliran hingga akhirnya tiba di goa gelap yang ia sebut rumah. Untung saja sebuket bunga itu belum layu dimakan waktu menunggu dirinya sampai di sana. Di samping rumahnya, ia mulai mencabut ilalang penganggu, lalu mengeruk tanah dengan jemari manisnya. Sepertinya itu bukanlah suatu pekerjaan yang sulit baginya.
Setelahnya, sejenak ia terdiam sambil tangan kanannya memegang dagunya memandang bunga yang ia tanam. Kelihatannya ia merasa itu terlalu sedikit untuk mereka yang selalu dikelilingi bunga yang lembut. Hingga akhirnya ia mengelilingi tempat sekitar untuk mencari pecahan bunga lainnya. Sunyinya tempat itu tak membuatnya gentar mencarinya, berapapun lamanya. Bahkan peluhnya yang merembes, tak ia hiraukan.
Waktu yang terus bergulir hingga mentari mulai mengantuk dan langit mulai berselimut kelabu, ia sudah mengumpulkan cukup banyak bunga cantik di tangan untuk ditanam nanti. Bergegas ia pulang ke rumah agar tak banyak bunga yang layu termakan waktu. Semua segera ia tanam, tak lupa memohon kepada Tuhan agar mereka tumbuh subur nan cantik.
Malam berlalu, kini mentari mulai menyapa lagi. Dia mencoba untuk tak menemui mereka dahulu, untuk memantaskan tempat tinggal untuk mereka. Hingga para bunga mulai beradaptasi dengan tempat tinggalnya. Tiap pagi, ia mencoba memberi mereka minum dengan tangan besarnya sebagai wadah air dari sungai. Ada beberapa bunga yang layu, namun tak membuatnya mudah putus asa. Selagi ada yang hidup, ia akan terus sabar mengawalnya. Demi tumbuhnya bunga yang indah untuk mereka.
Beberapa hari berlalu merawat para bunga, hingga ia menyukai keindahan bunga bukan karena para mahluk kecil itu. Sudah tiba saatnya ia menjeput mereka. Jantungnya berdegup kencang, menyelaraskan keberanian menemui mereka. Jalanan yang menantang mulai ia arungi kembali. Batu demi batu telah tapaki, hingga akhirnya ia menemukan mereka. Bunga di tangannya, bersedia menarik perhatian salah satu diantara mereka.
Beberapa saat kemudian, hinggap salah satu di antara mereka. Sayap bak senja, hitam di pinggirnya, dan percikan putih menambah serasinya warna yang dimilikinya. Segera ia menjebaknya dalam tangan besarya tanpa membuatnya terluka, hanya bermaksud membawanya agar tetap aman selama perjalanan. Perjalanan yang melelahkan, hingga akhirnya sampai di rumah. Ia melepaskan mahluk itu di antara semerbak bunga yang ia tanam. Bahkan menurutnya itu lebih indah dari aslinya. Tapi yang terlihat dari mahluk kecil itu hanya diam di mahkota bunga, dengan sayap yang mengatup. Dia mengernyit.
Dalam rasa penasarannya, ia memiringkan kepalanya, seolah berkata “Hei.. mengapa kau murung? Bukankah ini indah?” ia berlutut menyelaraskannya, sambil mencoba menghibur tuk mengaburkan lamunan mahluk kecil itu.
Dia tak tahu mengapa, dalam diam seribu bahasanya, seakan memintanya membaca pikirannya. Namun ia juga kebingungan, tak paham apakah mahluk itu takut padanya, atau hanya merasa asing. “Apa dia terlalu kecil untuk bersuara? Bukankah aku tak membungkamnya? Apa ia takut akan rupaku?” Yang ada hanyalah terkaan menghakimi dirinya.
Sejenak dalam diam, terlintas di kepalanya, “apakah selanjutnya aku harus membuat sangkar untuknya selagi diam? Aku takut dia pergi meninggalkanku dengan semua upaya yang telah kulakukan untuknya. Tapi rasanya aku terlalu kejam.” Beberapa waktu berselang, ia membiarkan diam menguasai diantara mereka. Hingga ia mulai menghela nafas panjang. Ia telihat prihatin.. dan akhirnya menyerah atas keadaan itu, air wajahnya tak tega melihatnya murung berlarut larut.
Jika bisa berbicara, mungkin ia berujar dengan nada rendah agar tak membuatnya terintimidasi setelah bergelut dengan pikiran dan hatinya, “Aku tak tahan melihatmu seperti ini. Maafkan atas egoku sebagai sesama mahluk. Sifatku seharusnya tak sejalan dengan rupaku yang buruk. Aku tak mampu memaksamu tetap disini juga, pergilah jika kau mau.” Mungkin rasanya tercekat di tengggorokannya setelah mengucapkannya jika mampu.
Selanjutnya ia berdiri, lalu membalikkan tubuh, dan berjalan menjauh meninggalkannya. Tak lama, ia memperhatikannya dari kejauhan, terlihat mahluk itu mulai terbang mendaki udara dengan sayap kecilnya.
Rasanya sakit hati tatkala mahluk itu tak memihaknya, tapi kelihatannya akan lebih sakit ketika tahu jika dia menyakiti hatinya. Sepertinya dia harus bisa menerimanya. Tah walaupun mahluk kecil itu pergi, ia masih bisa memandangi dari kejauhan, dan rumahnya bisa semakin indah walau tanpa itu. Lagi pula, dia tak bisa memaksanya untuk menetap. Dia hanya bisa merawat para bunga itu, berharap tumbuh indah, dan siapapun yang akan datang nantinya dapat menikmati keindahan yang dulu ia paksakan tuk dimiliki.
Tetapi.. ah ternyata dia susah tuk melupakannya. Entah sudah berapa malam dia melewatkan pertemuan dengan mereka, dengan tetap di dalam gelapnya goa yang mengutuk. Kembali dalam kesendirian dan kesunyian.
Ternyata tak mudah untuk terus hidup setelah penolakan. Untuk saat ini, ia tak menjenguk para bunga. Namun ia berharap mereka tetap hidup walau tanpanya untuk sementara waktu. Gemercik sungai menderu tak membuatnya terhibur, hanya rasa bersalah yang memukuli. Suara burung yang dulu menghibur, kini terasa sunyi. Serta lantai goa yang menampung, kini dingin seperti menolaknya juga.
Diamnya mungkin bergumam, “Entahlah, apakah aku masih pantas melihat mereka? rasa bersalah menjadi mahluk mengerikan yang menjebaknya terus menghantui.” Dengan hati yang masih berkecamuk, ia memutuskan keluar rumah sambil menutup mata dan menunduk. Bersedia meminta maaf kepada mentari yang menyiakan kehangatannya untuk dirinya yang sempat buta. Dengan hati yang tengah berkecamuk, ia menghela nafas panjang lalu membuka mata perlahan.
Tunggu..
Matanya kini terbelalak, tak menyangka apa yang ia lihat. Tiga ekor mahluk kecil bersayap biru dengan gradiasi hitam, menari di atas para bunga. Perasaannya campur aduk. Senyum tipis melukis di antara air mata yang melintas. Apakah mereka sungguhan? Bukan ilusi kan? Di lain rasa bersalah, ia juga bersyukur sudah ada pengganti yang lebih baik.
Untuk beberapa saat terpaku akan keindahan itu, terlihat mereka tetap bermain dengan bahagia walaupun ada di sekitarnya. Dia mulai menyadari, menyukai sesuatu bukan tentang memiliki, namun juga tentang mengiklaskan dan membiarkannya berkembang. Pada akhirnya ia mendapatkan hati mereka tanpa memaksanya. Mungkin memang Tuhan tahu rencana terbaik untuk mahluk-Nya. Yang hilang mungkin bukan rezekinya, namun yang ditakdirkan untuknya pasti tak akan terlewat. Pada akhirnya ia menerima itu semua dengan ikhlas, dan mungkin setelahnya, ia mengunjungi taman sebelumnya hanya untuk mengagumi keindahannya tanpa memaksa untuk memiliki.





