Sumber Foto: Alya/DinamikA
Klikdinamika.com – Sejumlah mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) membentangkan dua spanduk bertuliskan “Rektor Kemana Saja” dan “UIN Darurat Kekerasan Seksual” usai kegiatan PBAK hari pertama, di dekat lapangan futsal UIN Salatiga, Selasa (18/8/2026).
Aksi tersebut dilakukan oleh anggota bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda (PTKP) HMI Salatiga. Aksi dilakukan sebagai bentuk kritik terhadap pimpinan kampus dan kondisi kampus yang dinilai tidak kunjung membaik. Mereka menilai terdapat sejumlah persoalan yang diabaikan, mulai dari kasus kekerasan seksual hingga minimnya respons rektorat terhadap masalah di lingkungan kampus.
Yusron, Ketua Bidang PTKP HMI Salatiga yang turut memasang spanduk protes, mengatakan bahwa pemasangan spanduk protes ketika maba keluar sengaja dipilih sebagai media pendidikan politik. Menurutnya, mahasiswa baru perlu mengetahui kondisi kampus sejak awal.
“Ini tuh bagian dari pendidikan politik kepada temen-temen mahasiswa baru, karena kita ngerasa bahwasanya dari dulu—dari sebelum saya maba sampai dengan saya sidang kemarin—tidak ada perubahan sama sekali,” ujarnya
Ia menegaskan aksi tersebut merupakan inisiatif dari organisasi yang ia ikuti. Sebelumnya HMI juga sudah melakukan audiensi ke rektorat, tetapi tidak membuahkan hasil.
“Sebenernya kami juga sudah audiensi ke rektorat cuma tanggapannya basi banget, begitu doang dan nggak ada tindak lanjut sama sekali, jadi ya mungkin dengan cara-cara seperti ini lah (red: memasang spanduk protes) kami bisa mendidik sesama mahasiswa dan terutama mahasiswa baru,” ungkap Yusron
Yusron juga berharap mahasiswa baru bisa lebih kritis. Ia menilai narasi green wasathiyah yang digaungkan rektor tidak sesuai dengan realita di lapangan.
“Harapannya terutama untuk mahasiswa baru ya agar lebih kritis lagi bahwasanya kampus kita sedang tidak baik-baik saja, kampus kita sangat tidak aman, kampus kita sangatlah tidak seperti apa yang digaungkan oleh para rektor bahwasanya ini adalah green wasathiyah,” tegasnya
Fadli, salah satu anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menanggapi bahwa tulisan yang tertera menandakan mahasiswa memiliki kesadaran akan kampus yang sedang tidak baik-baik saja.
“Itu bagus (red: spanduk yang tertera). Tandanya mahasiswa kita punya kesadaran bahwasanya kampus sedang tidak baik-baik saja. Kita perlu membuat suatu pergerakan supaya ada perubahan di kampus kita,” ujarnya.
Jajaran birokrasi kampus, menurut Fadli, memiliki akses lebih mumpuni untuk menanggapi kekerasan seksual yang terjadi di kampus. Namun, kenyataannya kampus seakan lempar tanggung jawab kepada Organisasi Mahasiswa.
“Malah diserahin sama ormawa maupun organisasi yang lain, sebenarnya memang betul ranah mereka untuk mengawasi itu, tapi dosen maupun rektor di UIN salatiga berhak untuk menggali informasi yang lebih dalam,” jelasnya.
Alfira, selaku peserta PBAK dari Prodi Bahasa Sastra Arab menanggapi, bahwa ia merasa kaget karena belum pernah mendengar berita kekerasan seksual yang ada di UIN dan dosen yang tidak aktif.
“Jujur aku kaget banget, nggak expect, karena aku kan jarang lewat sini, jadi pas liat ini (red: spanduk protes) kaget ternyata UIN ada kekerasan seksual atau rektor yang kurang aktif,” ujarnya.
Zaki, peserta PBAK prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam memberikan komentar terkait tulisan “UIN darurat Kekerasan Seksual” Ia mendukung adanya tulisan ini dan sangat relevan dengan maba 2026.
“Saya sangat-sangat mendukung tindakan anti seksual, sangat relate dengan maba 2026,” ujarnya. (Devi/Alya/Red)





