klikdinamika.com

Rahayu Memayu; Catatan Penghujung DinamikA di Tahun 2025 

Potret kepungurusan DinamikA tahun 2025 (Sumber Foto: Arsip DinamikA)

Oleh: Zakya Zulvita Salsabila dan Izlal Nabil Khaiqal 

Terhitung 365 hari kepengurusan periode 2025 melanggengkan tugas di DinamikA. Dengan kesadaran penuh dan amanah yang utuh, kami pamit undur diri dalam keterlibatan peran keputusan dan kerja di ruang ini. Meski demikian, dari sudut yang tidak mencampuri banyak hal di DinamikA, kami akan tetap lestari dan melihat bagaimana DinamikA hadir lebih subur kembali. Tertanggal Rabu (24/12)—Mubes 2025.

Di sudut kantor yang sesak dan penuh dengan manusia militan yang tidak tentu arah, DinamikA hadir di ruang tengah sebagai wadah yang menampung pikiran dan lelaku yang tidak dimengerti banyak orang. Dalam ruang keredaksian, keorganisasian, pendidikan, serta ruang-ruang diskusi pinggiran yang sering kali tidak dijamah oleh lapisan lain, DinamikA membawa udara segar Salatiga untuk dijaga dan disebarkan.

Napas DinamikA yang hidup dan dirawat melalui diafragma, ternyata menjaga stabilitas beberapa hal yang telah dibangun oleh bagian terdahulu. Dengan tempo yang tetap, sirkulasi stabil, dan nadi yang terjaga hingga kini, akhirnya meninggalkan iktibar yang utuh untuk kami mengenang sedikit-banyak perjalan DinamikA di kalender satu tahun kepengurusan.

Merangkai Temuan Satu Tahun DinamikA

Beberapa hal yang tidak tersorot perlu kami disampaikan kepada pembaca yang budiman, agar menjadi wangsit bagi DinamikA di tahun-tahun mendatang. 

Di awal 2025, untuk pertama kalinya dalam sejarah website DinamikA memberitakan insiden pelecehan seksual. Pemberitaan ini memantik kerja sejumlah kelompok untuk bersuara dan menyorot persoalan tersebut. Meskipun, akibat pemberitaan itu DinamikA mendapatkan tekanan dari pihak kampus, bahkan mendapatkan ancaman dalam bentuk verbal akan “dijotosi”—ungkapan yang kurang etis disampaikan oleh akademisi, kepada reporter yang mengangkat kasus ini.

Bukan hanya itu, dilanjut peliputan mengenai infrastruktur kampus yang berakhir tidak terbit. Hal ini berdampak pada permohonan liputan DinamikA yang di-suspend birokrasi kampus. Sampai di bagian ini keredaksian dipanggil sebanyak dua kali berturut-turut, serta mendapatkan peringatan–Pemimpin Redaksi dituntut selalu melakukan pendampingan terhadap reporter secara langsung di lapangan.

Memasuki tahun akademik baru, DinamikA menyambut mahasiswa dengan pesta demokrasi yang sesungguhnya—kebebasan ekspresi menyampaikan kritik di ruang publik. DinamikA mendapat banyak ultimatum dari pihak kampus, baik dari Ormawa dan birokrasi. Akibatnya, pemanggilan ketiga dilayangkan, dan tidak diindahkan oleh DinamikA.

Peliputan aksi yang berujung pada tuduhan pendanaan, ini terjadi saat DinamikA meliput demo penolakan RUU TNI di Salatiga. DinamikA dituduh sebagai salah satu yang mendanai berlangsungnya aksi itu. Tuduhan ini akhirnya berakibat pada pendanaan DinamikA dari kampus yang terancam tidak turun. Namun, masalah ini dapat diselesaikan setelah adanya mediasi dengan pihak kemahasiswaan.

Lebih lanjut, reporter DinamikA mendapatkan doxing setelah peliputan aksi solidaritas pengemudi ojek daring Salatiga, kejadian ini mengakibatkan kerugian materil dan nonmateril. Peristiwa ini mereduksi gerak DinamikA dalam mengemban tugas-tugas jurnalistik yang menjadi urat nadi perjuangannya. 

Kendati demikian, DinamikA hari ini tetap hidup. Meski dengan tergopoh-gopoh dan arah arus yang tidak pasti, ia tetap memberanikan diri mendongakkan dagu ke depan, mengernyitkan alis kiri, dan mengerutkan dahi tanda berpikir. Di sisi lain, kerja-kerja DinamikA tak luput dari segala keprematuran yang jauh dari kata sempurna. Ini menjadi pengingat bahwa ia masih belajar dan harus selalu diawasi untuk diberi bimbingan, tanpa dihakimi. Secara garis besar, hingga di akhir masa kepengurusan kami, DinamikA senantiasa hidup, dihidupi dan menghidupi.

Penghujung Pesan Kami 

Jika menilik satu-persatu, tentu kami tidak sempurna. DinamikA bukan sebuah organisasi tanpa celah, banyak bagian yang mesti diisi dan diperbaiki. Setidaknya, sejumlah pengalaman yang datang beriringan, sedikit-banyak telah membawa pembelajaran yang cukup untuk DinamikA. Ia dapat bertahan lebih lama; tanpa adanya pembredelan, tekanan fisik yang berarti, dan hal buruk lainnya. 

(Sumber Foto: Arsip DinamikA)

Hari ini, DinamikA masih hidup di tengah-tengah kita; menjadi satu ruh yang utuh dan menyatukan kita di lintas generasi yang berbeda. Riang sumbang sudah banyak dilalui, tinggal bagaimana mempertahankannya dan menjaga DinamikA untuk tetap mengepalkan tangan kiri, menjadikan merah sebuah keberanian, hitam kecerdasan, putih sebagai kesucian dan abu-abu sebagai martabat atau marwah yang mesti dijaga keberadaannya. 

Mungkin, suara kita hanyalah riak kecil di tengah luasnya samudra. Atau, teriakan kita tak lebih dari sekedar dengungan seekor lalat di tengah hutan lebat. Tak apa. Meminjam ungkapan Pramoedya Ananta Toer, kita telah melawan, meskipun hanya dengan kata-kata. Kita sudah berjuang, kawan-kawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. 

Hidup DinamikA! Salam Kritis Progresif!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *